Menumbuhkan Kemampuan Berpikir Kritis pada Anak dengan Membuka Ruang Rasa dan Emosinya

Jumat, 03/12/2021 WIB   264
Terdidik


Catatan: bila podcast pada player di atas error atau tidak terputar secara penuh, silahkan mendengarkan melalui Spotify

Menumbuhkan sikap berpikir kritis pada anak khususnya usia SD, membutuhkan waktu yang tidak sebentar (memakan waktu yang cukup panjang).

Tidak cukup hanya dengan berkolaborasi bersama mereka dalam waktu semingguan, mereka langsung menjadi anak-anak yang berpikir kritis.

Usaha-usaha tentunya perlu dilakukan, khususnya oleh para pendidik

Tidak hanya itu, upaya-upaya yang dilakukan pihak keluarga (rumah) dan sekolah harus seimbang

Bila di sekolah, salah satunya dengan memberikan ‘ruang rasa’ atau ‘ruang emosi’ ke anak.

Untuk membuka ruang rasa tersebut, guru dapat menanyakan penyebab ke anak didiknya yang terlihat kurang bersemangat saat mengikuti proses pembelajaran

Bukan hanya bertanya, namun guru dapat menawarkan ke siswa tadi, apa ide yang dimilikinya agar proses pembelajaran yang dilakukan sang guru dapat lebih menyenangkan, khususnya bagi siswa yang kurang bersemangat tadi

Hal tersebut sangat membantu para siswa untuk mengenali dirinya, tahu rasanya dan menjadi pembelajaran baginya untuk mencari solusi-solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapinya saat itu

Di ruang berpikir kritis, seseorang harus mampu membangun suatu pemikiran baru yang disertai oleh beberapa referensi (tidak asal, atau tanpa referensi).

Dia diasah untuk memikirkan ulang informasi-informasi yang diterimanya, valid atau tidak, sesuai konteks pembicaraan saat itu atau tidak

Oleh karenanya dalam memberikan pengetahuan ke siswa, guru sebaiknya tidak sekedar memberikannya begitu saja tanpa memastikan siswanya faham atau tidak

Guru harus mampu membuat siswanya faham, dan tahu mengapa mereka mempelajari hal tersebut, mengapa dia harus memilih ini, mengapa kemudian mereka harus tidak setuju atau harus setuju, kenapa siswa memutuskan pilihan A dan tidak mengambil pilihan B

Itu semua adalah proses agar siswa kelak memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik (mumpuni)

(Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)