Topik:

Menulis untuk Mempelajari Lingkungan Sekitar

Jumat, 01/01/2021 WIB   1491
student-work-3

Pandemi Covid-19 memang membuat siapapun, baik tua, muda, maupun anak-anak, dibatasi pergerakannya. Tak seperti dulu, mereka kini tak leluasa beraktivitas di luar rumah. Demi mencegah anak-anak terpapar Covid-19, cara anak-anak belajar dan bermain pun harus diubah.

Di sisi lain, seharusnya pandemi Covid-19 ini memberi lebih banyak waktu dan ruang untuk mempelajari hal-hal yang dulu belum pernah dilakukan. Salah satunya menulis.

Perihal belajar menulis di tengah pandemi, seharusnya ada banyak ide dan gagasan yang dapat dimunculkan dalam bentuk artikel. Selain menuliskan pengalaman batin dan keseharian anak-anak selama belajar dan bermain di rumah, anak-anak juga dapat didorong untuk menuliskan mengenai hal-hal di sekitar mereka. Tak perlu jauh-jauh, menulis mengenai situasi deskripsi di sekitar rumah mereka pun tak jadi masalah.

Ben Stubss, seorang penulis yang kerap bercerita melalui artikel yang diunggah di theconversation.com mengatakan, setiap orang di masa pandemi Covid-19 ini pasti merindukan suasana berlibur dan melakukan traveling serta seabrek outdoor activity lainnya. Kondisi ini semakin menyiksa para travel blogger yang pekerjaannya adalah menuliskan kisah-kisah perjalanan mereka. Sebabnya, kini mereka tak lagi bisa leluasa menjelajahi dunia karena khawatir terpapar virus yang telah menjadi momok seluruh umat manusia tersebut.

Untuk membangkitkan kreativitas para penulis, Ben Stubss lantas mencontohkan kehidupan seorang pria di akhir abad ke-18 di Turin. Pria itu bernama Xavier de Maistre.

Ben Stubbs mengatakan, Maistre membuat sebuah artikel berjudul A Journey Around My Room (Petualangan di Sekitar Kamarku) ketika ditahan selama enam minggu karena terlibat perkelahian di tahun 1790. Ini membuktikan, selama 6 minggu terisolir dalam ruang tahanan, dia tak mau meratapi nasib. Sebaliknya, dia berusaha untuk berkreasi dengan menciptakan buku yang berisi segala hal di dalam ruang tahanannya.

Tak dinyana, detil-detil yang dituliskan oleh de Maistre dalam tulisannya itu, akhirnya memberikan perspektif alternatif mengenai perjalanan. Artikel ini pun kemudian menginspirasi para penulis lainnya untuk menulis dengan gaya yang serupa. Misalnya Heinrich Seidel yang menulis buku mengenai apartemen tempat ia tinggal di mana setiap benda di dalamnya menyimpan sejarah dan cerita yang saling berhubungan. lalu ada Alphonse Karr yang menulis buku setebal 700 halaman hanya mengenai taman tempat dia tinggal bersama seekor monyet peliharaannya. Kemudian ada sederet nama penulis lainnya seperti Henry David Thoreau dan George Orwell.

Lantas bayangkan apabila anak-anak diajak untuk melakukan hal yang serupa di tengah situasi pandemi seperti saat ini. Bisa jadi, ketika kita meminta mereka bercerita mengenai kamar mereka beserta pernik-perniknya, lalu menambahkan unsur fantasi dan imajinasi di dalamnya, mungkin kita akan terkesima melihat betapa berwarna-warninya dunia mereka.

Di sisi lain, aktivitas ini bisa menjadi ruang rekreasi bagi anak-anak di mana mereka menciptakan imajinasi-imajinasi yang sebelumnya tersembunyi di kepala mereka. Di sisi lain pula, aktivitas ini bisa mendorong mereka untuk mempelajari segala sesuatu tentang apa yang mereka lihat di sekitarnya.

Contohnya, ketika mereka melihat seekor cicak atau kecoak yang menyelinap masuk ke kamar mereka, mereka mungkin akan berusaha untuk mencari informasi lebih banyak tentang kehidupan dua binatang tersebut. Mungkin dengan bertanya kepada orang tua, atau mencari informasinya di internet dan bahan bacaan lainnya.

Intinya, menulis seharusnya tidak dibatasi oleh tempat dan waktu. Seseorang bisa menulis mengenai apa saja, bahkan mungkin tentang bantal yang dia pakai untuk tidur. Dengan belajar menuliskan hal-hal remeh di sekitar mereka, kelak mereka akan lebih mudah untuk menuliskan dan menjelaskan sesuatu yang rumit melalui cara yang sederhana.

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)