Topik:

Menjadi Guru yang Berpengaruh Seumur Hidup Siswa, Sebuah Kisah dari Guru Marecek

Sabtu, 13/03/2021 WIB   874
zzz miriam

Kisah fiksi berjudul Charlie and The Chocolate Factory dipublikasikan pertama kali pada tahun 1964. Itu hanya beberapa tahun sebelum Miriam Marecek, seorang guru yang lahir di Praha semasa Perang Dunia II bergejolak, membacakannya untuk Perri Klass dan kawan-kawannya di kelas 4 SD. Itu terjadi di sebuah sekolah yang bernama Sekolah Agnes Russel (Agnes Russel School), sebuah sekolah laboratorium yang dikelola Teachers College di Columbia, Amerika Serikat. Saat ini, Perri Klass adalah seorang penulis buku “A Good Time to Be Born: How Science and Public Health Gave Children a Future”.

Seperti diceritakan ulang oleh Perri Klass lewat nytimes.com, saat menceritakan kisah itu, Miriam Marecek tidak sekadar membacakan dengan keras. Dia menjadikan momen tersebut tak ubahnya seperti sebuah ritual. Saat membacakan kisah itu, dia menyalakan lilin. Ketika paragraf terakhir dari kisah itu tuntas dibacakan, Miriam Marecek meminta para siswanya untuk meniup lilin, lalu berkata: “Semoga semua harapanmu terbang bersama asap lilin dan semoga semuanya menjadi nyata”.

Tak cuma menggelar cara tak biasa untuk bercerita, Marecek juga punya cara yang tak kalah unik saat mengajar mata pelajaran yang lain. Guru tersebut telah menyiapkan permen dan cokelat M&M’s yang masing-masing telah diberi label, salah satunya ‘pil untuk matematika’. Setiap kali ada siswa yang merasa kesulitan dengan mata pelajaran matematika, mereka boleh meminta ‘pil’ tersebut. Percaya tak percaya, anak-anak yang pernah meminta ‘permen atau pil matematika’ tersebut, umumnya merasa tak kesulitan lagi mengerjakan soal-soal matematika.

Bagi Perri Klass, Miriam Marecek adalah guru yang sempurna. Tak hanya itu, dia juga menyebut bahwa sosok tersebut adalah sosok yang memberinya pengaruh sampai saat ini. Caranya mengajar ketika Perri Klass masih duduk di kelas 4 SD, telah mengubah kehidupannya saat ini.

Sebelum bergabung di sekolah tempat Miss Marecek mengajar, Perri Klass sempat bersekolah di sebuah kawasan rural di India. Sebagian besar guru di sekolah itu adalah suster Katolik. Saat pindah ke Agnes Russel School, Perri Klass mendapatkan pengalaman belajar yang jauh berbeda dan mengesankan. Selain metode pengajaran yang lebih progresif, hal lain yang membuatnya terkesan sampai kini adalah keberadaan guru Marecek. Bahkan, cara mengajar guru Marecek yang berkesan, membuat Perri Klass mengabaikan fakta bahwa kondisi bangunan sekolahnya dan semua fasilitasnya, tak lebih baik dari sekolah lain.

Setelah puluhan tahun, tanpa disangka-sangka, Perri Klass kembali terhubung. Itu semua terjadi setelah Perri mempublikasikan sebuah artikel yang tanpa dia sangka sebelumnya, diketahui dan dibaca oleh guru Marecek. Saat pertama kali berkomunikasi kembali dengan Perri Klass setelah puluhan tahun, hal pertama yang ditanyakan Marecek adalah apakah Perri masih mengingatnya? Jawabannya, tentu saja iya. Sebab, artikel yang ditulis oleh Perri sebenarnya juga bercerita tentang guru Marecek.

Belakangan, Perri Klass tahu bahwa gurunya tersebut memiliki masa lalu yang pahit karena perang dunia. Kisah masa kecil Marecek itu bahkan terabadikan dalam sebuah memoar berjudul “Escape From Prague” atau melarikan diri dari Praha.

Ibu Marecek adalah seorang penyanyi opera yang kemudian beralih profesi menjadi guru. Sedangkan ayahnya adalah seorang jurnalis dan belakangan menjadi diplomat. Pada tahun 1948, duta besar Amerika Serikat membantu keluarga ini untuk berpindah ke Amerika Serikat. Setelah mengajar di sekolah tempat Perri Klass belajar, guru Marecek melanjutkan studi sarjana dan belakangan bahkan telah mendapatkan gelar profesor di bidang pendidikan. Spesialisasi yang juga menjadi minatnya adalah literatur untuk anak-anak.

Bagi Perri Klass, memiliki guru yang bisa memilih buku yang menarik dan membacakannya keras-keras lewat cara yang kreatif seperti ritual dan drama, adalah sebuah keberuntungan. Apalagi, belakangan Perri Klass juga terinspirasi oleh metode tersebut dalam pekerjaan-pekerjaan pediatrik yang dilakukannya bersama Reach Out and Read, sebuah organisasi literasi nasional yang mendorong para dokter anak untuk mengajak orangtua mereka membacakan buku cerita kepada anak-anak.

Sebagai apresiasinya atas apa yang telah dilakukan oleh guru Marecek, Perri Klass kemudian memintanya menjadi anggota dewan penasihat di program tersebut. Guru Marecek juga dengan senang hati memilihkan buku-buku yang direkomendasikan untuk dibacakan oleh para orangtua kepada anak-anaknya.

Dari kisah itu, Perri Klass ingin menyampaikan bahwa seorang anak bisa sangat terinspirasi oleh apa yang dilakukan dan dikerjakan oleh gurunya. Karena itu, seorang guru sebaiknya menjadikan tugasnya sebagai sebuah kecintaan. Sebab, dengan kecintaan itu, guru akan dengan ikhlas melakukan hal-hal terbaik dalam mengajar. Dengan kecintaan itu, seorang guru akan mendedikasikan seluruh daya dan kreativitasnya untuk merancang model pembelajaran yang menarik dan berkesan sekaligus bermanfaat. Dengan itu semua, guru akan bisa memberikan pengaruh positif bagi siswanya, bahkan seumur hidup.

(Bagus Priambodo/Sumber: The New York Times/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari The New York Times & Google Image)

 

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)