Topik:

Mengenal Tahapan Menulis Anak dan Cara Menstimulasinya

Sabtu, 02/01/2021 WIB   7696
oekaki-2009817_1920

Kemampuan literasi, salah satunya menulis, adalah salah satu kemampuan yang hendak dikembangkan pada anak-anak Indonesia, khususnya di tengah pandemi.

Namun, banyak faktor yang harus dipertimbangkan sebelum guru memilih metode yang tepat untuk melatih anak-anak menulis. Salah satunya usia. Apalagi, seperti kita ketahui, kecerdasan kognitif anak tumbuh secara bertahap.

Tahapan ini dimulai dari ketika anak berusia 0 hingga 2 tahun di mana dia masih mengembangkan kemampuan sensori motorik, dilanjutkan usia 2 tahun hingga 7 tahun di mana perkembangan kognitif anak mencapai tahapan kemampuan operasional konkret.

Lalu anak usia 7 hingga 11 tahun yang kecerdasan kognitifnya mencapai tahap operasional formal, serta usia 11 tahun ke atas di mana kecerdasan kognitif anak sudah mencapai tahapan kemampuan simbolik.

Tahapan-tahapan tersebut berpengaruh terhadap cara kita mengajar anak untuk menulis. Namun sebelum, membagikan kiat-kiat untuk mengajak anak menulis, orang tua sebaiknya mengetahui tahapan-tahapan menulis anak, utamanya bagi anak usia dini, seperti yang disusun dan dipublikasikan lewat akun resmi Instagram Direktorat PAUD Kemendikbud, sebagai berikut:

Tahapan menulis anak

1. Tahap mencoret atau membuat goresan

Pada tahap ini, anak mulai suka mencoret-coret, baik itu di kertas, lantai atau di dinding atau apa saja yang dianggapnya dapat ditulis. Jadi apabila tembok rumah tiba-tiba penuh coretan, orangtua sebaiknya tak marah. Namun melihat ini sebagai penanda perkembangan anak.

2. Tahap pengulangan secara linier

Di tahap ini, anak menelusuri bentuk tulisan yang horizontal. Tulisan yang dihasilkan anak seperti membuat gambar rumput.

3. Tahap menulis secara random

Pada tahap ini, anak belajar tentang tulisan yaitu tulisan yang dibuat sudah berbentuk huruf, walaupun huruf yang muncul masih acak.

4. Tahap menulis tulisan nama

Di tahap ini, anak mulai menghubungkan antara tulisan dan bunyi. Bisa jadi, di setiap tulisan yang mereka buat, baik di tembok rumah atau kertas, muncul tulisan nama mereka atau nama orang tua dan kakak adiknya.

Nah, bagaimana kemudian kita menstimulasi kemampuan menulis tersebut? Dikutip dari sumber yang sama, terdapat beberapa kiat untuk itu.

Pertama, orang tua dan guru dapat menyediakan bahan seperti cat, krayon, pensil, spidol, buku, kertas dan lain sebagainya.

Kedua, orang tua dan guru memberi kegiatan yang berkaitan dengan tulisan, misalnya bermain peran di restoran di mana anak berpura-pura menjadi pelayan yang bertugas menuliskan pesanan makanan.

Ketiga, menjadi model bagi anak. Guru atau orang tua dapat menghubungkan tulisan atau kosakata baru dengan topik yang menarik. Setelah itu bisa mendiskusikannya dengan anak, kemudian menuliskannya di depan anak.

Keempat, beri label item tertentu di dalam ruangan, dan tarik perhatian anak-anak ke kata-kata tersebut.

Kelima, mintalah anak-anak menulis tanda-tanda kelas dengan ukuran yang agak besar sesuai tema yang sedang dieksplorasi.

Keenam, beri apresiasi dan respon positif ketika anak mulai menunjukkan minat terhadap huruf atau tulisan-tulisan yang anak lihat.

Ketujuh, sediakan buku-buku baik cetak dan non cetak yang bergambar dan dengan warna-warna menarik agar anak terbiasa melihat dan kemudian tertarik untuk mengenal huruf, lalu mencoba menuliskannya.

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)