Topik:

Mengenal Model Low-Stakes Writing dan Implementasinya di Kelas

Rabu, 27/01/2021 WIB   799
maxresdefault

Menulis dapat melatih anak untuk berpikir kritis dan kreatif. Namun untuk menerapkannya, seringkali guru mengalami kesulitan atau tak tahu harus bagaimana memulainya agar menulis itu tidak menjadi kegiatan yang membosankan untuk anak.

Padahal, untuk membiasakan anak menulis, bisa dimulai dari hal yang sederhana.

Salah satu metode yang disarankan dan dapat diterapkan di semua mata pelajaran adalah metode ‘Low-Stakes Writing’.

Dikutip dari edutopia.org, low-stakes writing adalah teknik yang dikembangkan untuk membantu para siswa merasa nyaman dan tak takut membagikan serta mengembangkan gagasannya melalui tulisan. Karena tujuannya adalah memberanikan siswa, maka dalam teknik ini, hal paling pokok bukanlah benar atau salahnya gagasan atau pernyataan yang disampaikan lewat tulisan, tetapi bagaimana gagasan itu disampaikan, dan bagaimana bukti-bukti untuk mendukung gagasan tersebut turut disajikan.

Menariknya, karena yang ingin dikembangkan adalah keberanian dan motivasi para siswa, teknik ini dapat diterapkan pada semua jenis siswa, termasuk para siswa  berkebutuhan khusus dan siswa dengan disabilitas.

Selain membangun keberanian siswa untuk menyatakan gagasannya, low stakes-writing juga dapat melatih siswa untuk menulis lebih kompleks serta menyederhanakan pemahaman-pemahaman yang kompleks tersebut dalam pernyataan-pernyataan yang lebih mudah dipahami.

Dalam melaksanakan teknik ini, terdapat beberapa masukan yang dapat dimanfaatkan. Dalam hal penilaian misalnya, hanya ada 3 kategori nilai yang diberikan. Yakni 100 persen untuk siswa yang mengumpulkan tepat waktu, lalu 70 persen untuk siswa yang terlambat mungumpulkan, dan nilai nol untuk yang tidak mengumpulkan sama sekali. Seperti anda lihat, dalam penilaian tersebut, guru sama sekali tidak mempertimbangkan benar atau salahnya gagasan yang disampaikan oleh para siswanya.

Kemudian, dalam low stakes writing, penting juga untuk melatih para siswa berani memaparkan gagasan yang telah ia tulis, di hadapan teman-temannya. Setelah gagasan itu dipaparkan, berilah kesempatan kepada para siswa yang lain untuk memberikan tanggapan dan masukan. Bagian ini menjadi penting karena pada umumnya para siswa lebih mengambil manfaat belajar dari teman-temannya ketimbang dari gurunya. Meski demikian, peran guru sangat penting, yakni sebagai jembatan atau penengah dalam adu argumen yang mungkin terjadi, atau memberikan solusi ketika terjadi kebuntuan.

Selain itu, dengan menerapkan diskusi kelompok, juga akan membantu para siswa menemukan ide. Maksudnya, dalam menyelesaikan tugas menulis, sangat mungkin ada siswa yang bingung harus menuliskan apa. Nah, dengan mendengar gagasan dari teman-temannya, bisa saja mereka mendapatkan ide untuk ditulis atau untuk menggantikan ide mereka sebelumnya yang dianggapnya salah. Dengan kata lain, teknik ini juga membantu para siswa untuk menyadari bahwa gagasan mereka bisa saja salah dan membantu mereka untuk mengembangkan gagasan yang lebih baik.

Selanjutnya, bagi guru yang hendak memakai teknik ini, ada baiknya pula untuk menggunakan pertanyaan terbuka ketimbang pertanyaan tertutup. Di sini yang dimaksud dengan pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang bisa memancing siswa untuk menjawab tanpa takut salah. Sedangkan pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang meminta mereka memberikan jawaban yang tepat.

Sebagai contoh pertanyaan tertutup adalah “Mengapa pelangi bisa terbentuk?” Pertanyaan tersebut, menantang siswa untuk bisa menjawab tepat. Sehingga, ini tidak selaras dari tujuan diterapkannya low-stakes writing.

Apabila ingin dikemas dalam pertanyaan terbuka, pertanyaan tersebut bisa disajikan demikian, misalnya: “Apa yang kamu ketahui tentang pelangi? jelaskanlah!”

Dengan model pertanyaan seperti itu, siswa akan dilatih untuk mengemukakan gagasannya sendiri alih-alih mencari jawaban yang paling benar. Toh, pada akhirnya, ketika gagasan atau pendapat mereka ternyata salah, guru juga akan menjadi sosok yang memberitahukan kebenarannya.

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)