Mengajar Generasi Z

Kamis, 25/03/2021 WIB | 1843

Menyadari akan adanya ledakan teknologi yang beraneka ragam di masa yang akan datang, rasanya generasi tunas bangsa yang sedang ada di bangku sekolah harus disiapkan sistem nilainya, pengetahuannya, dan keterampilannya sehingga diharapkan akan tumbuh daya inovasinya. Daya inovasi ini amat sangat penting dalam mengantarkan keunggulan generasi penerus dalam mengisi lembaran hidupnya mengingat daya inovasi tak terbatas kapasitasnya. Di sisi lain, dunia pendidik dan anak didik menghadapi potensi kesenjangan perspektif. Pendidik umumnya merupakan generasi baby boomers dan sebagian generasi milenial. Sedangkan anak didik yang dididik merupakan generasi milenial dan berangsur-angsur semakin banyak generasi postmillennial atau generasi Z yang memiliki lingkungan hidup sebagai
digital native dengan karakteristik yang berbeda dengan generasi baby boomers.

Buku ini bermaksud menawarkan solusi untuk mempersempit kesenjangan tersebut dari sektor pedagogik. Hasil penelitian di bidang saraf otak telah membuka tabir kecerdasan manusia. Hingga akhir hayat manusia rata-rata hanya memanfaatkan 6-10% dari saraf otak. Fenomena saraf otak yang “dormant” atau tidak saling berkoneksi ini menjadi tantangan bagi para pendidik untuk membangkitkan inter- koneksinya atau peristiwa synapsis sehingga daya berpikir aras tinggi (high order thinking) pada anak didik akan dapat ditingkatkan.

Selain bagi pendidik di sekolah informal, buku ini ditujukan bagi para orang tua. Sebagaimana karakteristik pada era knowledge society, pengetahuan justru banyak tumbuh dan berkembang dalam suasana lingkungan yang bersifat informal. Munculnya berbagai komunitas praktisi, komunitas seprofesi, klub profesi menandai era masyarakat berpengetahuan.

Sumber: Buku Mengajar Generasi Z

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)