Mengajak Anak Usia SD Menyukai Menulis, Tidak Cukup dengan Memintanya Duduk Tenang dan Menulis

Selasa, 04/01/2022 WIB   970
1200x0


Catatan: bila podcast pada player di atas error atau tidak terputar secara penuh, silahkan mendengarkan melalui Spotify

Membuat anak usia SD menyukai menulis tidak cukup hanya memintanya duduk, diam (tidak berisik) dan menulis

Cara-cara yang lebih atraktif dan dinamis patut untuk dipikirkan

Mereka membutuhkan ruang dan kesempatan-kesempatan untuk berimajinasi, berdialog (bercakap-cakap), berbagi bahkan bermain, salah satunya bermain drama

Mereka juga membutuhkan penghargaan atas ide-ide yang mereka gagas.

Sehingga ide dan presentasi lebih penting dari target waktu yang penekanannya hanya sekedar cepat selesai

Terkait upaya-upaya tersebut guru asal Negeri Pama Sam, Justine Bruyere menawarkan cara yang menarik

Justine menerapkan apa yang disebut dengan lingkaran literatur atau literature circle, di mana sekelompok kecil anak bersama-sama mendiskusikan sebuah bacaan dan diskusi itu dilakukan berdasarkan pengalaman dan pemahaman mereka masing-masing.

Prinsipnya, metode ini sama dengan metode writing circle atau lingkaran menulis. Dalam metode tersebut, anak-anak secara reguler bertemu untuk berbagi draft (konsep/pemahaman) tentang menulis, mendiskusikan topik yang akan ditulis, serta memulai menulis. Kegiatan tersebut akan membantu setiap anak untuk menjadi penulis yang baik.

Di tengah pandemi, Justine mencoba menerapkan metode tersebut secara virtual dengan menggelar pertemuan mingguan yang melibatkan 2 kelompok kecil anak–masing-masing kelompok beranggotakan anak usia 6 hingga 8 tahun dan 9 hingga 12 tahun– dari berbagai negara bagian di Amerika Serikat dan Kanada. Anak-anak yang tergabung berasal dari berbagai latar belakang budaya dan memiliki motivasi yang beragam pula dalam menulis.

Dengan metode tersebut, Justine bukan hanya ingin mengembangkan kemampuan menulis pada peserta, tetapi juga berharap bisa menciptakan kegemaran menulis pada anak sembari secara virtual membuat mereka berinteraksi dengan teman-teman baru dari berbagai latar belakang budaya.

Justine menyebutkan, setidaknya ada 5 tujuan yang ingin dia wujudkan. Pertama, anak-anak berani memilih topik untuk tulisan yang mereka kehendaki. Kedua, membuat anak-anak merasa nyaman untuk berkontribusi dan berkolaborasi dalam proyek menulis bersama. Ketiga, membiasakan anak-anak untuk semakin mahir dalam metode 6+1 Writing Traits atau karakter-karakter menulis. Keempat, membiasakan anak untuk merefleksikan dan merespon pilihan tulisan, serta mendorong anak-anak untuk berbagi tulisan di grup dan membuat mereka berani melakukan solo writing atau menulis mandiri.

Proyek kolaborasi tersebut berlangsung selama 6 minggu. Setiap minggunya, pelatihan menulis digelar selama 75 menit.

Sebagai awalan, Justine melakukan survei terhadap para siswa untuk mengetahui minat mereka. Dia kemudian mencari dan menyusun beberapa video yang aman untuk ditonton, berdurasi di bawah 3 menit, dan terhubung dengan bidang minat siswa. Sebagai kelompok kecil, mereka kemudian menonton video YouTube dan siswa memilih video mana yang paling ingin mereka gunakan sebagai dasar penulisan. Ketika mereka memilih video tentang anjing dan rusa, mereka menontonnya dua kali dengan tujuan memperhatikan, bertanya-tanya, dan mempertanyakan.

Anak-anak itu kemudian membentuk cerita tentang hewan dari video tersebut. Seperti angsa Kanada yang terbang dalam huruf V, kelompok-kelompok kecil ini dengan cepat menjadi komunitas di mana masing-masing siswa memimpin pada waktu yang berbeda (tiap siswa mendapat giliran memimpin grup). Memimpin kelompok ini memungkinkan anak-anak mendapat latihan yang diperlukan, salah satunya untuk melakukan penulisan solo mereka.

Pada sesi berikutnya, Justine dan para peserta menonton video itu lagi dan siswa meninjau apa yang mereka ketahui tentang video tersebut. Mereka mulai memerankan (dalam Zoom) monolog batin kedua hewan tersebut. Mengetahui siapa karakternya penting untuk pengembangan cerita.

Penulisan melalui drama menawarkan siswa kesempatan untuk berimajinasi, mencoba, dan berbagi perkembangan cerita. Kita tahu, sebagai orang dewasa, bahwa menulis sering kali merupakan proses yang sulit, namun guru sering kali mengarahkan siswa untuk duduk dengan tenang dan menulis. Malahan di beberapa ruang kelas, kecepatan lebih diprioritaskan daripada ide, suara, dan presentasi. Lingkaran penulis memberikan wahana dan dorongan yang dibutuhkan siswa untuk bekerja sendiri (siswa diberikan kesempatan yang luas untuk mengeksplorasi tulisan tanpa harus dikejar waktu).

Menjelang sesi terakhir workshop, siswa mencari cara untuk menambah, mengurangi, dan merevisi cerita yang dibuat bersama dan tulisan tunggal mereka. Pengaturan jarak jauh muncul sebagai cara bagi siswa untuk belajar tentang orang-orang dari tempat yang berbeda, berbicara dalam bahasa yang berbeda, dan dengan pengalaman yang berbeda.

Pada awalnya lingkaran penulisan membutuhkan banyak strategi dalam membangun antusias dan kenyamanan peserta (terutama dengan kelompok yang lebih muda). Namun, seiring berjalannya minggu (hari demi hari), peran guru berkurang dan siswa lebih bersedia (semakin antusias) terlibat dalam percakapan, imajinasi, keputusan, dan menulis.

(Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)