Topik:

Mendukung Penerapan Berhitung Kritis dan Matematika dalam Proses Belajar Mengajar

Minggu, 20/02/2022 WIB   875
Figure-2-Supporting-critical-numeracy

Dalam artikel kali ini, Dave Tout, Justine Sakurai, dan Carly Sawatzki akan membahas tentang kemampuan berhitung dan hubungannya dengan matematika serta pentingnya keberadaan konteks riil. Mereka juga menyampaikan siklus pemecahan masalah untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan mereka dan contoh kemampuan berhitung dalam bidang kesehatan, yaitu menggunakan trampolin sebagai media dalam penelitian ini.

Selama beberapa tahun terakhir, kami telah berkolaborasi memformulasikan dan menulis kurikulum sekolah menengah atas Victoria agar lebih mengembangkan kemampuan berhitung kritis dan matematika siswa di sekolah kami. Artikel ini merupakan artikel pertama dari 2 artikel yang akan membahas beberapa penelitian dan teori yang kami gunakan, tanggapan kami tentang tujuan pendidikan, dan bagaimana ide-ide ini melatarbelakangi penulisan kerangka kurikulum kami.

Artikel pertama ini akan membahas latar belakang pendekatan yang kami gunakan dalam memformulasikan kurikulum kami, dan artikel kedua akan membahas upaya kami dalam menyertakan ini ke dalam kurikulum.

Artikel terkait: Konteks Berhitung di Kehidupan Nyata – Langkah Awal sebagai Pemicu Pembelajaran Matematika

Tapi pertama-tama, apa saja titik awalnya? Ada beberapa faktor utama di balik pendekatan kami, termasuk:

  • Kemampuan berhitung adalah penggunaan dan penerapan perspektif matematika secara kontekstual;
  • Berhitung adalah praktik sosial, yang artinya akan selalu ada tujuan yang jelas untuk pembelajarannya (berkaitan dengan konteks riil);
  • Dibutuhkannya kemampuan berhitung untuk menyelesaikan sebagian besar masalah dalam kehidupan nyata;
  • Dan yang mendasari semua ini adalah pendekatan pemecahan masalah.

Apa itu kemampuan berhitung (dan hubungannya dengan matematika)?

Menurut kami, kemampuan berhitung tidak lepas dengan kehidupan kita sehari-hari. Kemampuan berhitung adalah penggunaan perspektif matematika untuk memahami dunia dan menerapkannya dalam konteks sosial. Bagi kebanyakan anak muda dan orang dewasa, kemampuan berhitung berguna dan bermanfaat untuk matematika, dan pengetahuan serta kemampuan matematika berkontribusi pada kemampuan berhitung yang efisien dan kritis.

Siswa membutuhkan berbagai pengetahuan, kemampuan, pemahaman, dan disposisi matematika untuk memecahkan masalah dalam kehidupan nyata, pembelajaran lebih lanjut, pekerjaan, dan pengaturan masyarakat. Agar memiliki kemampuan berhitung, Anda perlu mengetahui beberapa perspektif matematika. Seperti yang dikatakan Lynn Steen:

“…kemampuan berhitung tidak sama dengan matematika, pun substitusi dari matematika. Jaman sekarang, siswa memerlukan keduanya—baik matematika maupun kemampuan berhitung. Matematika tidak memengaruhi konteks, sedangkan literasi kuantitatif erat kaitannya dengan data yang mencerminkan beragam konteks kehidupan nyata.”

Berhitung tidak hanya melibatkan angka dan aritmatika. Pengetahuan dan perspektif matematika yang dibutuhkan siswa meliputi bilangan dan besaran, pengukuran, bentuk, dimensi dan arah, data dan peluang, serta hubungan dan pemikiran sistematis. Hal ini juga mencakup kemampuan untuk menguasai toolkit yang digunakan dan menentukan serta menggunakan analog dan teknologi digital yang paling tepat.

Model berhitung milik Australia yang paling mendeskripsikan perksektif ini dengan tepat adalah sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 1 di bawah ini. Model ini menggabungkan 4 dimensi konteks, pengetahuan matematika, alat, dan disposisi sebagai pedoman untuk menggunakan perspektif matematika.

Mengapa contoh atau pengalaman riil penting?

Siswa kerap kali merasa matematika yang mereka pelajari di sekolah tidak ada kaitannya dengan situasi yang ada di kehidupan nyata. Keluhan mereka kira-kira berbunyi ‘kapan Saya akan menggunakan ini?’

Penyusun kurikulum berharap agar guru dapat menyampaikan dan menyokong penerapan kurikulum mereka secara kontekstual sehingga berkaitan dengan situasi di kehidupan nyata. Tantangan kompleks kehidupan dan pekerjaan dalam dunia modern mengharuskan sekolah untuk memberikan kesempatan belajar secara kontekstual—siswa membutuhkan level atau tingkatan matematika dan kemampuan berhitung yang lebih tinggi dari sebelumnya dan memerlukan latihan menerapkan perspektif matematika dan kemampuan berhitung ke dalam berbagai masalah dan dinamika baik yang sudah familiar maupun belum.

Setelah siswa memiliki kemampuan berhitung, mereka juga akan memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara matang dan matematis—baik mengenai keuangan pribadi, perencanaan transportasi, pemahaman dan penafsiran big data (mahadata) contohnya mengenai pandemi Covid-19 saat ini, patuh terhadap instruksi tentang masalah kesehatan atau medis, atau perjudian (pemahaman mengenai sebab hubungan keluarga yang rusak, masalah emosional dan kesulitan keuangan, salah satunya karena perjudian. Ada hubungan yang erat tentang masalah perjudian dan kekerasan dalam keluarga).

Pandangan lain yang melatarbelakangi kami adalah eksplorasi tentang situasi dan dinamika di kehidupan nyata lebih berguna, membantu, dan bermanfaat bagi siswa daripada fakta, prosedur, dan proses matematika yang sering kali kurang bermanfaat dan repetitif. Jika siswa belum berpengalaman terlibat langsung di masalah dan dinamika dalam kehidupan nyata, dan jika mereka hanya familiar dengan penerapan matematika secara terstruktur (seperti menyelesaikan soal matematika di kelas atau buku), lantas bagaimana mereka bisa menilai, mengerti, menggunakan, dan menerapkan matematika di luar kelas?

Proyek penelitian AAMT dan AiGroup yang dirujuk di atas mendokumentasikan hal ini dan salah satu guru yang terlibat mengatakan:

“Ini adalah salah satu aspek yang paling menarik dari proyek ini. Hubungan antara keterampilan matematika di tempat kerja dan matematika di sekolah bisa dibilang ‘jauh berbeda’.”  Observasi Guru (AAMT & AiGroup, 2014)

Buta huruf dianggap sebagai hal yang mengerikan di Australia, namun fakta bahwa banyak siswa, khususnya remaja perempuan, lulus sekolah dalam keadaan tidak memiliki kemampuan berhitung tidak mendapat reaksi yang sama.

Oleh karena itu, sebagai pendidik matematika, kami pikir kami harus mendukung siswa-siswa kami agar mampu terlibat dan memecahkan masalah di kehidupan nyata menggunakan perspektif matematika secara kontekstual—termasuk pembelajaran matematika di dalam kelas dan kurikulum secara keseluruhan.

Siklus pemecahan masalah

Kami menganggap penting bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan mereka untuk memecahkan masalah—menyelidiki dan memecahkan masalah di mana matematika digunakan dalam kehidupan nyata. Dalam hal ini, konteks adalah titik awal dan siswa memerlukan pengetahuan mengenai siklus pemecahan masalah yang terstruktur agar mereka paham cara menafsirkan situasi kehidupan nyata ke dalam matematika dan menerapkan pengetahuan matematika mereka untuk menemukan solusi terhadap masalah yang dihadapi.

Salah satu aspek penting berhitung adalah kemampuan untuk merenungkan, mengevaluasi, dan meninjau temuan secara kritis, hingga akhirnya dapat menyampaikan dan melaporkan temuan tersebut.

Dalam penyusunan kurikulum kami, siklus pemecahan masalah yang kami usulkan dibentuk dan diadaptasi dari kerangka yang digunakan dalam penilaian literasi matematika milik OECD ‘Programme for International Student Assessment (PISA)’.

Ada 4 tahapan dalam siklus pemecahan masalah, antara lain:

  • Perumusan: tahap di mana kita perlu mengidentifikasi, memilih, dan menafsirkan perspektif matematika yang berkaitan dengan suatu situasi di kehidupan nyata, kemudian memutuskan dan merencanakan perspektif matematika apa yang harus digunakan serta pertanyaan-pertanyaan yang mungkin kita punya.
  • Mulai menerapkan perspektif matematika yang tepat: tahap di mana kita menerapkan perspektif matematika secara langsung−terapkan pengetahuan matematika yang telah diidentifikasi, dipilih, dan ditafsirkan sebelumnya di tahap pertama; mencakup penggunaan berbagai media dan teknologi.
  • Mengevaluasi dan memikirkan lebih dalam: tahap di mana kita diharapkan untuk memeriksa dan memikirkan kembali pengetahuan matematika yang digunakan maupun kelayakan temuan kita, khususnya yang berkaitan dengan situasi di kehidupan nyata.
  • Menyampaikan dan melaporkan: apa gunanya jika kita tidak mendokumentasikan dan melaporkan hasil dan temuan kita. Tahap di mana kita perlu menggunakan kombinasi representasi matematis secara formal dan informal.

Di bawah ini adalah contoh penelitian dalam bidang kesehatan dan kebugaran yang menunjukkan penerapan siklus pemecahan masalah dalam praktik.

Contoh riil − kemampuan berhitung dalam bidang kesehatan

Kesehatan dan keselamatan memberikan peluang yang menarik dan berguna untuk mengembangkan kemampuan berhitung. Data dan bukti matematis dapat menunjukkan pemahaman tentang risiko, biaya, dan manfaat yang berkaitan dengan:

  • Kesehatan dan olahraga
  • Vaksinasi
  • Resep obat
  • Alkohol dan obat-obatan terlarang lainnya
  • Medicare (layanan yang disediakan oleh pemerintah untuk lansia berusia 65 tahun ke atas agar menerima perawatan medis) dan asuransi kesehatan

Ketika seseorang mengerti tentang hal tersebut, mereka dapat membuat pilihan yang tepat. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi seorang individu, keluarga mereka, dan komunitas namun juga dapat memangkas biaya.

Contoh dalam bidang kesehatan dan olahraga yang mungkin menarik bagi anak muda adalah trampolin. Trampolin merupakan sarana yang bagus untuk mempromosikan kesehatan dan kebugaran, selain itu kawasan wahana trampolin terkenal di kalangan anak muda.

Laporan media di bawah ini mencakup representasi statistik dan numerik serta bahasa yang digunakan dalam penilaian risiko dan pilihan perilaku, dan memberikan konteks untuk memperkenalkan dan mempelajari masalah. Kemampuan untuk terlibat secara kritis dan membuktikan kebenaran dari laporan kesehatan yang disajikan oleh politisi, pakar medis, jurnalis, influencer sosial media sangat penting.

Siswa dapat mendiskusikan:

  • Berapa kemungkinan (risiko secara keseluruhan) cedera tulang belakang atau kepala akibat trampolin?
  • Apakah manfaat trampolin lebih mendominasi daripada risikonya?
  • Apa yang harus dilakukan untuk mencegah kecelakaan atau cedera?
  • Nasihat apa yang harus diberikan pada orang tua dan anak?

Setelah mereka mengidentifikasi masalah, mereka dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan membedah konsep probabilitas dan statistik menggunakan pecahan dan persentase.

Pemahaman siswa dapat diperluas dengan membandingkan angka keselamatan antara beberapa kawasan wahana trampolin, atau angka kesehatan dari 20 tahun lalu hingga saat ini. Setelah siswa menentukan perspektif matematika yang tepat, siswa mempertimbangkan kembali temuan mereka agar dapat membantu mereka menetapkan masalah dan menentukan apakah perspektif tersebut cocok dan sesuai konteks.

Pembelajaran dapat mempertimbangkan kedua aspek pro dan kontra trampolin; penyebab cedera, serta sehat dan bugar.

Rangkaian pembelajaran tentang trampolin bagi kesehatan untuk siswa yang lebih muda memungkinkan siswa membuat jurnal selama seminggu atau sebulan−berapa kali mereka melompat di trampolin milik mereka atau milik teman? Siswa dapat menghitung berapa lama setiap sesi lompat berlangsung. Mereka dapat membaginya menjadi 2 bagian, ‘angka perkiraan’ tentang berapa lama waktu yang diperlukan untuk lompatan dengan gaya dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk lompatan lurus, Mereka bisa melakukan survei dan bertanya kepada siswa lain juga.  Data mereka juga dapat ditampilkan sebagai bagian dari upaya membantu pengembangan estimasi dan penalaran proporsional siswa.

Sebagai upaya penyelidikan, minta siswa Anda untuk memperkirakan berapa banyak lompatan trampolin yang setara dengan lari sejauh 2 kilometer? Bagaimana mereka menghitungnya? Olahraga trampolin ini memberikan pengalaman riil yang relevan dan bermanfaat bagi kehidupan siswa sehari-hari karena mereka dapat belajar menggunakan dan menerapkan siklus pemecahan masalah.

Ada banyak langkah yang harus diikuti saat Anda dan siswa Anda menghitung masalah ini. Mereka mungkin akan menyelesaikan masalah ini menggunakan jarak sebagai perspektifnya dengan cara mengubah lompatan menjadi panjang? Metode lainnya mungkin menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berlari dibandingkan melompat? Tidak ada batasan tertentu terkait pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan dalam menerapkan perspektif matematika untuk masalah ini. Jadilah sekreatif dan seaktif mungkin seperti saat Anda melakukan penelitian matematis Anda.

Setelah Anda menyelesaikan masalah tersebut, hasilnya harus direnungkan kembali dan ditafsirkan dalam konteks trampolin. Minta siswa Anda untuk mengevaluasi dan merenungkan pemikiran mereka: Apakah pertanyaannya telah terjawab dan apakah jawabannya masuk akal dan sesuai konteks? Akhiri dengan meminta mereka menuliskan hasilnya−minta mereka membuat poster atau video.

Perspektif apa pun yang Anda ambil saat merancang tugas berbasis masalah untuk siswa Anda, ingatlah untuk membuatnya tetap nyata, berkenaan, dan relevan!

(Bagus Priambodo/Sumber terjemahan: Teacher Magazine/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image &Teacher Magazine

 

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)