Topik:

Membuka Kembali Sekolah di Masa Pandemi, Serius?

Sabtu, 24/04/2021 WIB   6615
06_school

Era pandemi Covid-19 di awal 2020 lalu menjadi momentum pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran secara masif. Bila dikatakan revolusi, itu adalah sebuah ‘revolusi pendidikan’ yang tidak disengaja. Sungguh telah terjadi pergeseran kegiatan belajar di sekolah besar-besaran, dari tatap muka langsung di kelas konvensional ke kegiatan belajar di ruang-ruang digital. Hal ini cukup mengejutkan berbagai kalangan, khususnya para orang tua yang bekerja. Mereka terpaksa membagi waktunya antara menuntaskan pekerjaannya dan mendampingi anak-anaknya belajar.

Itu juga saya rasakan selama setahun ini, baik sebagai pendidik yang wajib mengajar siswa-siswa saya melalui ruang-ruang digital, dan sebagai orang tua yang harus mendampingi anak belajar dari rumah. Kehilangan beberapa hal sudah pasti, seperti kehilangan masa romantisme mengajar di kelas, kehilangan jati diri peran pendidik ketika berinteraksi langsung dengan siswa, dan kehilangan bersosialisasi dengan keluarga besar di sekolah.

Namun saya tetap bersyukur karena kami sekeluarga makin dekat, selalu sehat, dan semoga ke depan tetap diberi kebaikan, kesehatan, keselamatan dan rejeki halal yang berlimpah oleh Tuhan Yang Maha Esa

Tapi bukan itu yang akan saya bahas di sini. Saya akan membahas ‘masih perlukah belajar di sekolah dengan adanya teknologi belajar yang cukup canggih dan bervarisasi?’

Kita akui, terlebih di masa pandemi ini, kecanggihan teknologi memang mampu memberikan berbagai kebutuhan pendidik, siswa maupun semua pihak yang berkaitan dengan kegiatan sekolah, memudahkan pekerjaan mereka bahkan mampu mempermegah sajian materi pembelajaran

Berbagai ilmu, saat ini dapat kita akses dengan mudah melalui berbagai paltform online seperti You Tube, perpustakaan digital, webinar dan workshop daring. Kita pun masih bisa melakukan pembelajaran melalui telekonferensi yang di topang berbagai website dan aplikasi yang mejanjikan.

Lalu seperti pertanyaan sebelumnya, bagaimana nasib sekolah kita sebagai tempat bertemunya pendidik dan siswa untuk terlibat dalam sebuah proses pembelajaran? Masihkah perlu?

Pengamat pendidikan dari Universitas Brawijaya (UB), Aulia Luqman Aziz  mengungkapkan bahwa selamanya profesi guru tidak akan tergantikan oleh teknologi. Beliau mengatakan dalam proses belajar mengajar secara tatap muka ada nilai yang bisa diambil oleh siswa. Seperti pendewasaan sosial, budaya, etika dan moral yang hanya bisa didapatkan di lingkungan pendidikan.

Pendapat lainnya disampaikan oleh Usman Hasan, Direktur Divisi Penyakit Menular Anak, Saint Barnabas Medical Center di Amerika Serikat. “Krisis kesehatan mental yang disebabkan oleh penutupan sekolah akan menjadi pandemi yang lebih buruk daripada Covid,” ujarnya. Hal ini makin mempertegas, membuka sekolah di masa pandemi menjadi hal yang mendesak, namun tetap wajib mengutamakan protokol kesehatan yang berlaku.

Senada dengan Usman, Pia MacDonald, ahli epidemiologi penyakit menular di RTI International (sebuah organisasi penelitian nonprotfit yang berpusat di North Carolina, Amerika Serikat) mengatakan, pembelajaran berbasis jarak jauh menghalangi anak-anak dari interaksi yang bermakna sesuai perkembangan dengan teman sebayanya, orang dewasa, dan komunitas yang lebih luas.

Berikut, 3 hal besar yang tidak akan kita dapatkan di pembelajaran daring namun akan kita dapatkan dalam pembelajaran tatap muka di sekolah menurut Zulhafizh dan Silvia Permatasari dalam artikel ilmiahnya yang berjudul: Developing Quality of Learning in Pandemic Covid-19 through Creative and Critical Thinking Attitudes

  1. Kehidupan sosial

Kehidupan sosial yang sebenarnya bukan dilihat dari seberapa banyak pertemanan kita di media sosial. Sebab hakikat pertemanan adalah adanya interaksi, tatap muka dan ikatan emosial yang hanya bisa di jalin dalam kehidupan nyata tidak melalui media-media dan ruang digital. Dalam kehidupan sosial di kelas, kita bisa menghibur teman kita, mengingatkannya ketika salah, medengarkan curahan hati dan keluh kesahnya atau berdiskusi dan saling berbagi. Dalam kegiatan sekolah kita bisa berinteraksi langsung dengan pengajar, karyawan, penjual makanan di kantin serta menjenguk mereka tatkala mereka sakit. Hal-hal tersebut tidak akan kita dapatkan dalam pembelajaran daring

  1. Kedisplinan.

Dalam pengalaman saya sekian bulan mengajar daring. Saya sering mendapati siswa saya yang hadir absen online tidak lebih dari separuh. Ada yang izin mengantar ibu ke pasar, ada yang bekerja paruh waktu, bahkan mungkin masih tidur. Pembelajaran yang dijadwalkan jam 7 pagi belum bisa sepenuhnya bisa dipenuhi oleh para siswa. Mereka  memakai baju sekenanya dan hadir sesempatnya serta mengerjakan tugas sebisa-bisanya. Sangat berbeda dengan sekolah. Tuntutan hadir tepat waktu, gesture tubuh yang harusnya santun pada guru, tampilan yang berseragam rapi lengkap dengan atributnya, serta kegiatan upacara bendera yang harusnya mereka terima sebagai wujud pendidikan karakter tidak bisa mereka dapatkan di pembelajaran daring.

  1. Tata krama

Hal yang terpenting di dunia pendidikan adalah pendidikan tata karma. Dalam kegiatan daring nyaris tidak ada hal yang menjadi indikasi kegiatan pendidikan dalam aspek ini. Kegiatan pembelajaran semakin pendek. Pengajar pun terkadang tidak fokus. Dia kadang bisa mengajar sembari mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Anak-anak didik yang hampir tiap detik berkutat dengan gadgetnya perlahan-lahan menjadi asing dengan dunia sekitarnya. Kadangkala ia kurang memperhatikan tata krama dengan gurunya melalui berbagai sikap. Misalkan tidur di saat pembelajaran daring, memakai baju sekenanya, bahkan mungkin saja acuh tak acuh.

Oleh karenanya, pembelajaran digital sepenuhnya tak akan cukup menyediakan pendidikan yang memadai bagi anak-anak didik kita. Demikian juga sekolah. ‘Dia’ masih sangat kita butuhkan peran dan keberadaannya. Namun ‘dia’ juga belum cukup menyediakan apa yang di butuhkan generasi kita agar siap menghadapi kehidupan nyata yang sangat kompetitif ini bila tidak di-support (dipadukan) dengan pemanfaatan teknologi.

Keduanya hanya bisa saling melengkapi dan tidak bisa saling menghilangkan.

Poinnya, perkembangan teknologi di berbagai bidang yang akan terus terbangun dengan cepat, tidak mungkin kita hindari, justru seharusnya kita makin mendekat agar tidak tertinggal. Namun yang sebaiknya kita ingat sebagai makhluk sosial, dalam berkegiatan sehari-hari termasuk belajar, manusia tidak akan pernah bisa sendiri meskipun telah dimudahkan oleh teknologi.

Maka, di masa-masa persiapan menuju pembelajaran tatap muka (ptm) terbatas ini, mari kita buat sekolah menjadi tempat yang nyaman bagi para siswa untuk lebih dari sekedar ‘tempat mempelajari hal-hal akademis’ dan ‘zona menerapkan protokol kesehatan melawan Covid-19’. Karena tidak menutup kemungkinan justru ada anak-anak yang lebih suka belajar daring, kerena merasa selama ini sekolah bukan ruang nyata yang aman bagi fisik maupun psikologisnya, bisa jadi karena maraknya perundungan (bullying), cara mengajar kita yang masih otoriter, siswa merasa tidak dirasakan kehadirannya oleh kita sebagai pendidik (misal: selalu menyebut nama atau menunjuk siswa-siswa tertentu yang menurut kita spesial atau smart) dan lain-lain. Seandainya aman pun, bisa jadi sekolah masih belum mampu secara maksimal memberikan kenyamanan baginya untuk berkembang menjadi insan yang lebih baik dan ‘merdeka’.

(Fataty Maulidiyah – Guru MAN 2 Mojokerto dan Anggota Media Guru Indonesia/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Podcast Menumbuhkan Minat Baca Anak dengan Menghadirkan Koleksi Buku yang Kaya

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)