Topik:

Membuat Siswa Faham Isi Bacaan dan Merasakan Kesenangan di Dalamnya

Senin, 12/07/2021 WIB   277
zzz libraryyy

Menumbuhkan semangat dan kecintaan membaca menjadi tantangan lembaga pendidikan di era digital saat ini. Kecintaan membaca tak hanya ditandai seberapa sering siswa meluangkan waktu bersama bahan-bahan bacaannya, tetapi bagaimana dia mampu memahami isi bacaan.

Hal ini disadari SD Christies Beach, di Australia Selatan yang selama tiga tahun terakhir ini fokus pada pemahaman bacaan siswanya.

Salah satu masalah yang kerap muncul terkait pemahaman bacaan ini adalah keengganan siswa mencoba membaca buku yang tidak mereka kenal sebelumnya. Mereka hanya mau memilih buku seri yang sudah biasa dibaca.

Kepala SD Christies Beach, Catherine O’Dea mengatakan, keengganan siswa membaca buku-buku baru membuat mereka tidak bisa memperluas diri dan enggan mengambil resiko. “Kami telah mencoba mengatasi ini melalui banyak cara yang berbeda,” kata O’Dea yang menjadi Kepala SD Christies Beach sejak tahun 2018.

Cara pertama yang dilakukan O’Dea adalah memastikan setiap kelas memiliki perpustakaan. Perpustakaan kelas ini harus berisi paling tidak 100 buku. Hal ini penting agar siswa yang mungkin kehilangan buku di rumah, masih bisa mengakses buku-buku di rak kelas setiap hari.

Cara kedua, memastikan buku-buku yang ada di perpustakaan dikategorikan layaknya toko buku. Buku itu dikategorikan menurut sistem Dewey Decimal Classification (DDC).

Sesuai sistem ini, buku-buku dikategorikan dalam bidang minat, baik secara jumlah maupun penulisnya. Misalnya kategori humor, novel grafis, komedi dan  fantasi. “Anak-anak membuat ini sendiri beberapa tahun yang lalu,” terang O’Dea.

Menurutnya, dengan sistem ini, siswa-siswanya bisa melihat koleksi bacaan di perpustakaan yang beragam. Dan setelah itu mereka bisa menemukannya lebih mudah serta mencari beberapa bahan bacaan dengan tema baru.

Tunjukkan kesenangan dalam sebuah buku

Tak cuma menggiatkan perpustakaan di kelas, O’Dea juga mencoba membangkitkan semangat membaca siswanya dengan  menunjukkan kesenangan yang dapat mereka temukan dalam buku.

“Setiap pertemuan saya membacakan buku ke seluruh sekolah. Saya berharap semua guru juga membacakan buku dengan keras kepada anak-anak kami setiap hari,” katanya.

Untuk menunjang kesenangan membaca ini, O’Dea menjalin kemitraan dengan United Way, yayasan yang dirintis artis Dolly Parton dari Amerika Serikat.

Dari kerjasama ini, 25 anak prasekolah mendapat paket buku yang dikirimkan ke rumah mereka setiap bulan sekali. “Kami berharap anak-anak ini saat datang ke sekolah tahun depan sudah memiliki beberapa literatur yang sangat kaya,” kata O’Dea.

Selain bekerjasama dengan United Way, sekolah O’Dea juga bekerjasama dengan lembaga lokal di Australia. Lembaga ini membangun taman bacaan atau perpustakaan mini di tangga depan sekolah. Buku di perpustakaan ini dapat ditambahkan atau diambil orang secara gratis.

“Ini adalah representasi visual dari tujuan sekolah kami,” tambah O’Dea.

Belum lama ini O’Dea terpilih sebagai penerima Beasiswa Kepala Sekolah 2021 untuk mengikuti kursus kepemimpinan di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Dia menjadi salah satu dari tiga kepala sekolah luar biasa yang akan mengikuti program pendidikan profesional di Harvard Graduate School of Education.

Dia berharap mendapat pengalaman dan bisa bekerja sama dengan pendidik lain dari seluruh dunia untuk mempelajari hal-hal dan perspektif baru.

Tentu, ketertarikan khusus O’Dea di program ini juga masih ada kaitannya tentang  aksesibilitas ke buku dan bahan bacaan,

“Saya mendapatkan beberapa ide tentang bagaimana terus melibatkan komunitas. Dan saya pikir hal yang menarik di sini, saya akan bersama pendidik dari seluruh dunia sehingga tidak hanya belajar dari dosen, tetapi juga belajar dari kepala sekolah lain. Dan itu yang menggairahkan saya,” pungkasnya.

(Bagus Priambodo/Sumber: Teacher Magazine/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)