Topik:

Memberikan Feedback ke Tugas Siswa secara Menyeluruh dan Efektif lewat Bantuan Metode Comparative Judgement

Selasa, 06/07/2021 WIB   2975
zzz comparative dgdgdgd

Dunia pendidikan turut terdampak oleh perkembangan metode dan teknologi baru. Di beberapa negara di Eropa serta di Australia, sedang diujicobakan Metode Comparative Judgement dengan bantuan aplikasi komputer, untuk membantu guru melakukan penilaian kepada tulisan-tulisan yang dibuat para siswa.

Tak hanya menilai tulisan, perangkat lunak tersebut juga dapat memberikan feedback secara cepat untuk setiap tulisan yang dibuat oleh para siswa.

Dalam ujicoba yang dilakukan di Australia, sekitar 70 persen anak mengaku mendapatkan saran agar tulisannya di masa mendatang menjadi lebih baik. Kemudian 60 persen anak mengaku proses penggunaan Comparative Judgement tersebut telah membantu mereka untuk merefleksikan kesalahan mereka, serta membantu mereka merevisi dan memperbaiki tingkat keterbacaan tulisan mereka.

Daisy Christodoulou, Direktur Bidang Pendidikan di Lembaga No More Marking yang menyediakan software untuk pelaksanaan comparative judgement secara online untuk sekolah-sekolah menyatakan bahwa pihaknya merasa senang karena anak-anak dapat berinteraksi dengan proses ini. Dia pun yakin bahwa semua proses yang dilakukan akan semakin memperlengkapi para siswa untuk menjadi penulis yang efektif.

Dikutip dari Teacher Magazine, Daisy menyatakan bahwa pihaknya akan terus melengkapi data-data yang telah muncul dari rangkaian uji coba sembari terus menyusun praktik-praktk umpan balik untuk menyediakan benchmark bagi para siswa dalam menyusun dan mengevaluasi tulisan mereka sendiri.

Umpan balik menyeluruh 

Umumnya, saat menilai artikel-artikel yang ditulis para siswa, guru sering menulis komentar panjang di bagian bawah sebuah karya. Komentar ini memberikan kesan personalisasi, dan tentu saja sangat memakan waktu, tetapi seberapa efektifkah komentar tersebut?

Tentu saja, masalah utama dalam pemberian umpan balik semacam ini adalah seringkali umpan balik ini menjadi tidak berguna dan tidak memberikan cara yang membantu siswa di masa mendatang.

Dalam bukunya Embedded Formative Assessment, pakar penilaian Dylan Wiliam memberikan contoh tentang hal ini:

Saya ingat berbicara dengan seorang siswa sekolah menengah yang sedang membaca umpan balik yang diberikan gurunya tentang tugas sains. Guru telah menulis, ‘Kamu harus lebih sistematis dalam merencanakan penyelidikan ilmiahmu.’ Saya bertanya kepada siswa apa artinya itu baginya, dan dia berkata, ‘Saya tidak tahu. Jika saya tahu bagaimana menjadi lebih sistematis, saya akan lebih sistematis pertama kali.’ Umpan balik semacam ini akurat – menggambarkan apa yang perlu terjadi – tetapi tidak membantu karena pelajar tidak tahu bagaimana menggunakan umpan balik untuk meningkatkan keterampilannya. Ini seperti memberi tahu komedian yang gagal untuk menjadi lebih lucu – saran yang akurat, tetapi tidak terlalu membantu (Wiliam, 2018, hal.140).

Agar efektif, umpan balik sebaiknya tidak hanya benar, tetapi juga harus membantu. Idealnya, sebuah umpan balik  harus memberi siswa langkah selanjutnya yang jelas dan konkret. Pemberian umpan balik secara tradisional, ternyata dianggap cukup buruk dalam melakukan hal ini.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan sebagai gantinya? Salah satu teknik yang menjadi populer di Inggris dalam beberapa tahun terakhir adalah umpan balik seluruh kelas.

Begini cara kerjanya: seorang guru akan membaca semua pekerjaan kelas para siswa, tetapi alih-alih menulis komentar di bagian bawah, mereka akan merencanakan pelajaran berikutnya berdasarkan kekuatan dan kelemahan umum yang mereka lihat di semua pekerjaan siswa. Dan ketika mereka merencanakan, mereka akan fokus pada merancang kegiatan yang memberi siswa langkah lanjutan yang jelas.

Sebagai contoh, guru telah membaca serangkaian narasi yang semuanya memiliki beberapa masalah dengan tense yang tidak konsisten. Cara tradisional untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menulis komentar di bagian bawah setiap karya. Padahal, seperti tadi dikatakan Wiliam, hal ini tidak membantu siswa sama sekali.

Sedangkan dengan metode umpan balik untuk seluruh kelas, guru tidak akan menulis komentar apa pun. Sebagai gantinya, pada awal pelajaran berikutnya, guru mungkin menampilkan dua kalimat yang merupakan tipikal dari inkonsistensi yang muncul dalam sebagian besar tulisan para siswa.

Selanjutnya, guru dapat meminta siswa-siswanya untuk mengidentifikasi kesalahan dalam dua kalimat tersebut, serta memperbaiki kesalahan dan melihat apakah mereka dapat menemukan kesalahan serupa dalam tulisan mereka sebelumnya.

Umpan balik untuk seluruh siswa dalam kelas ini dapat digunakan dalam banyak mata pelajaran. Sehingga, banyak sekolah di Inggris memilih untuk menggunakan pendekatan tersebut. Mereka akan menilai tulisan siswa secara bersama-sama dalam kelompok, lalu mendiskusikannya dan menggunakan hasil diskusi untuk menyesuaikan rencana pelajaran mereka selanjutnya.

(Bagus Priambodo/Sumber: Teacher Magazine/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari  Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)