Topik:

Membangun Budaya Membaca di Era Pandemi Covid-19

Minggu, 11/07/2021 WIB   5853
zzz just readz

Kegemaran membaca tak hanya membuat anak-anak paham banyak ilmu, tapi juga bisa menumbuhkan kesenangan dan kepuasan diri. Membaca untuk kesenangan terbukti berpengaruh kuat pada pengembangan kosakata, keterampilan mengeja hingga matematika.

Selama ini, kegiatan membaca untuk kesenangan banyak dilakukan di sekolah, melibatkan guru sebagai mentornya. Lalu, bagaimana saat pandemi Covid-19, dimana banyak sekolah mengalihkan proses pembelajaran secara daring (dalam jaringan) atau online?

Sebuah proyek penelitian berjudul “Just Read” yang dilakukan di Queenwood School for Girls di Sydney, Australia bisa menjadi panduan sekolah-sekolah di Indonesia untuk membangun budaya dan kecintaan siswa membaca selama pandemi Covid-19.

Memasukkan bacaan harian ke dalam jadwal belajar di rumah

Saat memulai proyek “Just Read” pada Januari 2020, Komite Literasi Queenwood optimistis program ini bisa membangun budaya membaca di sekolah.

Hal ini beralasan karena proyek yang mendapat hibah penelitian dari Asosiasi Sekolah Independen ini telah direncanakan sangat matang. Bahkan, proyek ini dimentori oleh pakar literasi terkemuka dari Universitas Edith Cowan, Dr Margaret Merga.

Direktur Kurikulum Sekolah Menengah, Vanessa Collins mengungkapkan, penelitian ini menyasar siswa mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga kelas 11. Setiap hari, para guru dan siswa diminta membaca dalam hati secara berkelanjutan atau atau Sustained Silent Reading (SSR). Bahan bacaan diserahkan sesuai kesenangan siswa.

Tak cuma membaca, guru dan siswa juga mendiskusikan buku yang telah dibaca. Bahkan di tingkat SMP, kegiatan diskusi dipimpin oleh siswa.

Di awal-awal, proyek ini berjalan lancar. Proses pengumpulan data pertama berjalan sesuai rencana.

Namun, setelah itu keadaan berubah. Pandemi Covid-19 yang menyebar cepat di wilayah Sydney membuat kota ini memberlakukan lockdown. Pembelajaran tatap muka di sekolah ditiadakan digantikan daring atau online.

Kondisi ini tidak menyurutkan semangat Komite Literasi untuk terus melanjutkan proyek “Just Read”  dalam bentuk berbeda.

Mereka memasukkan bacaan harian ke dalam jadwal belajar di rumah. Artinya, setiap siswa tetap diwajibkan membaca buku yang disenangi di rumah.

Membuka akses ke perpustakaan sekolah

Tak hanya memasukkan bacaan harian ke jadwal belajar di rumah, proyek ini juga memastikan siswa bisa mengakses perpustakaan sekolah.

Untuk mendukung program ini, pustakawan mengembangkan inovasi “Click and Collect” yang memungkinkan siswa dan wali siswa mengakses buku di perpustakaan tanpa ada kontak langsung selama lockdown.

Di program ini, orangtua maupun siswa dapat memesan buku koleksi di perpustakaan secara online. Selanjutnya buku bisa diambil di sekolah setelah disiapkan oleh pustakawan. Setelah seminggu, buku-buku itu harus dikembalikan dalam kondisi bersih ke rak-rak yang sudah disediakan. Cara ini membuat program “Just Read” terus berlanjut.

Orangtua jadi pengganti guru

Hasil penelitian ini mengungkap fakta, peran orangtua di program ini cukup besar. Ada indikasi kuat bahwa siswa berusaha agar orangtuanya mengambil peran sebagai guru di rumah saat lockdown. Anak-anak yang biasa melihat guru membaca buku di kelas setiap hari menuntut orangtuanya melakukan hal serupa di rumah.

Kondisi ini justru membawa keharmonisan ke dalam keluarga. Salah satu wali siswa mengaku, membaca bersama memberi mereka berbagai topik baru untuk didiskusikan di meja makan malam.

Banyak anak yang bertanya ke orangtua tentang buku apa yang dibaca dan memintanya untuk menceritakan bagian favorit dari buku mereka.

Hal ini tidak dibayangkan Komite Literasi sebelumnya, meskipun ‘diskusi buku’ di proyek ini menjadi aspek yang penting.

“Covid-19  mungkin telah mengubah arah proyek, tetapi ini memberi kami kesempatan unik untuk menjelajahi hubungan antara membaca dan kesejahteraan,” tukas Vanessa.

(Bagus Priambodo/Sumber: Teacher Magazine/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)