Topik:

Memastikan Sekolah Siap Menghadapi Pandemi Covid-19

Rabu, 17/02/2021 WIB   451
TAIWAN merlin_172088037_ce95bffc-da13-4af7-bc12-cec5585db323-jumbo

Taipei merupakan salah satu kota yang berhasil menghadapi pandemi Covid-19 dengan sukses. Selain berhasil menekan penyebaran virus Covid-19, Taipei juga berhasil membangun ekosistem pendidikan yang aman selama pandemi Covid-19.

Lalu bagaimana ibukota Taiwan ini melakukan hal tersebut?

Dikutip dari jurnal berjudul Chinese Taipei: Contigency Plans for Hybrid Models of Learning yang ditulis Yi-Hwa Liou dan Christoper Petrie, salah satu hal yang dilakukan otoritas setempat adalah memastikan tersedianya sumber daya keselamatan dan kesehatan di sekolah-sekolah. Di semua sekolah dasar dan sekolah menengah, otoritas setempat memastikan tersedianya berbagai perangkat seperti pengukur suhu badan dengan teknologi infrared, masker, dan hand-sanitizer. Tak tanggung-tanggung, selama satu semester penuh, pemerintah setempat memasok semua kebutuhan tersebut ke seluruh sekolah, termasuk sekolah dengan siswa yang berjumlah lebih dari 700 orang. Mereka juga menyediakan kamera thermal imaging dengan teknologi infrared yang dapat dengan cepat mengukur suhu badan para siswa dan para guru begitu mereka memasuki sekolah.

Selain menyediakan sumber daya kesehatan dan keselamatan, mereka juga mendorong adanya tim  lintas departemen di setiap sekolah yang menciptakan dan memastikan terlaksananya kebijakan-kebijakan kesehatan.

Kemudian, untuk memastikan agar proses belajar dapat berlangsung dengan baik, pemerintah setempat mendorong setiap sekolah untuk menjamin setiap siswa memiliki akses terhadap perangkat dan konektivitas yang dibutuhkan untuk mendukung pembelajaran seperti tablet, laptop, smartphone, dan lain sebagainya. Apabila sekolah tidak sanggup memenuhi kebutuhan itu untuk semua siswa, sekolah diminta untuk melaporkan kepada pemerintah dan meminta tambahan perangkat. Namun apabila pemerintah lokal kesulitan menyediakan, pemerintah lokal tersebut juga bisa mengajukan ke kementerian pendidikan. Kementerian sendiri, juga menyediakan anggaran yang dialokasikan untuk memastikan setiap anak memiliki paket data untuk belajar secara virtual.

Kebijakan pemerintah tak hanya ditujukan kepada sekolah. Kepada para orangtua yang anaknya masih berusia kurang dari 12 tahun ataupun difabel, mereka juga membuat kebijakan cuti kerja secara fleksibel agar orangtua dapat mendampingi anak selama belajar dari rumah.

Tak cukup sampai di sana, dengan menggandeng organisasi nonpemerintah, mereka meluncurkan berbagai program dan terobosan pendidikan. Dengan BEEP (Build Environment Experiential Program) misalnya, mereka memberikan panduan bagainama cara mendesain studi mini di rumah. BEEP sendiri merupakan NGO (Non Governmental Organization) yang bertujuan memperkaya keterampilan para siswa dan guru dalam bidang arsitektur.

Selain dengan BEEP, pemerintah setempat juga menggandeng City Wanderer Challenge. NGO ini mendesain program yang mendorong para siswa untuk menyelesaikan 30 misi dalam tiga minggu yang bertujuan untuk melatih mereka belajar di manapun dan dari siapapun.

(Bagus Priambodo/Sumber: OECD/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)