Topik:

Melibatkan Organisasi Non Pemerintah dalam Pengembangan Pendidikan di Masa Pandemi

Kamis, 25/02/2021 WIB   3863
TAIWAN r web main

Pengembangan pendidikan di masa pandemi Covid-19 bukan hanya menjadi tugas pemerintah. Masyarakat yang direpresentasikan oleh organisasi non pemerintah pun punya peran penting.

Hal itu pula yang terwujud dalam upaya pengembangan pendidikan di masa pandemi Covid-19 di Taipei. Di sana, sejumlah organisasi pemerintah atau NGO (Non-Governmental Organization) turut terlibat bersama pemerintah dan sekolah untuk memastikan anak-anak mendapatkan akses untuk belajar meski sekolah ditutup. Keterlibatan ini juga penting bagi NGO tersebut mengingat pandemi Covid-19 tersebut juga telah memberikan efek disruptif bagi mereka.

Salah satunya adalah NGO BEEP (Build Environment Experiential Program) yang selama pandemi Covid-19 berusaha memperkaya cara berpikir guru dan siswa menggunakan kacamata arsitektur. NGO tersebut menggunakan cara berpikir desain untuk meningkatkan kreativitas, kepercayaan diri, dan kolaborasi, sekaligus untuk mempersiapkan mereka menjadi pengguna dan desainer yang bertanggung jawab.

Dalam upaya tersebut, para pendidik yang bekerja untuk BEEP, mereka mendirikan studio rumahan yang secara teknis cukup canggih untuk menyampaikan program arsitektur mereka secara online. Setelah itu, mereka memandu orang tua dan anak-anak untuk mendirikan studio rumah mereka sendiri, lalu menyediakan materi yang diperlukan untuk keluarga tersebut.

BEEP juga mengembangkan modul pembelajaran hibrid. Mereka tidak hanya menawarkan video streaming yang bisa diakses secara realtime, tetapi juga memanfaatkan Facebook Messenger yang memungkinkan siswa untuk mengirim pesan pertanyaan tentang proyek mereka. Ini membantu siswa memiliki waktu untuk fokus pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam setiap tahap pembelajaran untuk proyek mereka.

Kemudian ada NGO City Wandering Challenge yang mendesain program untuk tim-tim yang beranggotakan 3 siswa. Kelompok-kelompok siswa itu kemudian ditantang untuk melengkapi 30 misi tertentu dalam kurun waktu 3 minggu. Misi-misi tersebut sejatinya berusaha untuk mengajak para siswa agar menjadikan kota mereka sebagai ruang kelas dan untuk menciptakan pertumbuhan yang bermakna melalui interaksi dengan masyarakat.

Dalam upaya ini, City Wandering Challenge juga membuat perangkat yang disesuaikan dengan peran masing-masing siswa dalam tantangan yang mereka terima. Misalnya, tugas tertentu untuk melatih kepercayaan diri siswa berbicara di hadapan banyak orang.

Tugas yang diberikan untuk setiap anggota tim mendorong kerja sama dengan cara yang unik, yang juga memanfaatkan ruang publik setempat. Kesulitan utama dengan pendekatan ini adalah bereksperimen dengan konfigurasi dan proses yang berbeda untuk membuat, mengoordinasikan, dan mengirimkan perangkat yang dibutuhkan secara efisien.

NGO ini juga mempekerjakan staf tambahan dan pekerja magang yang secara khusus bertugas merancang solusi untuk mengatur upacara pembukaan dan penutupan (secara virtual) dari setiap tantangan yang diberikan. Untuk membantu mengelola jalannya tantangan tiga minggu mereka, mereka juga mendapat bantuan dari “penyemangat” yang membimbing dan mengelola setiap kelompok siswa.

Selanjutnya juga ada NGO The Co-Publishing Project yang mengajak siswa-siswa dari sekolah yang terpencil untuk menggunakan ponsel yang mereka miliki dan mengombinasikannya dengan “Formula Fotografi” untuk memotivasi para siswa menerbitkan buku yang berisi cerita bergambar yang mengisahkan kebudayaan-kebudayaan dan tradisi di tempat mereka tinggal.

Selama proses penerbitan buku, NGO ini berkomunikasi dengan para siswa menggunakan aplikasi gratis seperti LINE dan WebEx. Bagi para guru yang masih belum familiar dengan aplikasi tersebut, mereka juga memberikan waktu pengembangan profesional tambahan untuk membangun kepercayaan diri mereka dengan teknologi ini.

Meski memiliki metode yang berbeda, tapi ketiga NGO tersebut sama-sama bekerja mendukung pembelajaran hibrid dan jarak jauh serta berusaha melibatkan orangtua yang sebelum pandemi, jarang terlibat dengan proses pembelajaran anaknya. Keterlibatan orangtua ini menjadi penting untuk memastikan kelancaran pembelajaran serta untuk membangun hubungan yang lebih mendalam dan lebih baik antara guru, orangtua, serta siswa.

(Bagus Priambodo/Sumber: OECD/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)