Topik:

Melahirkan Profil Pelajar Pancasila lewat Menulis

Sabtu, 16/01/2021 WIB   887
sss

Visi pendidikan Indonesia saat ini adalah untuk mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, serta berkepribadian melalui penciptaan Pelajar Pancasila.

Pelajar Pancasila itu sendiri adalah model pelajar yang diharapkan memiliki karakter beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebhinnekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri.

Banyaknya karakter yang hendak diwujudkan untuk menjadi Pelajar Pancasila yang komplit, menuntut terobosan-terobosan dalam model pembelajaran di sekolah-sekolah penggerak, yakni sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara komprehensif dengan mewujudkan profil Pelajar Pancasila, yang diawali dengan pembentukan sumber daya manusia yang unggul, baik guru maupun kepala sekolah.

Dalam hal ini, tentu saja satu model pembelajaran saja tidak cukup. Karena itu guru-guru penggerak yang dibentuk di sekolah-sekolah penggerak, mesti kreatif membangun berbagai model belajar di kelas yang diasuhnya.

Untungnya, banyak inspirasi model belajar yang dapat diadopsi dari negara-negara lain, lembaga-lembaga pendidikan, hingga praktisi pendidikan kenamaan.

Salah satunya adalah good practice yang bisa ditiru dari Kyle Pahigian, guru matematika kelas 10 di University Park Campus School (UPCS), Worcester, Massachusetts, Amerika Serikat.

Dikutip dari edutopia.org, meski Kyle adalah seorang guru matematika, namun dia tak selalu mengedepankan pendekatan hitung-hitungan dalam menjalankan praktik pembelajaran. Meski mata pelajaran yang dia pimpin banyak melibatkan simbol-simbol numerik, namun dia lebih tertarik mengajak siswa-siswanya untuk menulis.

Menurut Kyle, dengan menulis, dia dapat mengajak anak untuk mengembangkan pengalaman pribadinya terhadap sebuah obyek yang sama. Dia mencontohkan, ketika dia ingin mengajarkan tentang segitiga, dia tidak memulainya dengan bercerita tentang apa itu segitiga.

Sebaliknya, dia datang ke kelas dengan membawa sebuah obyek berbentuk segitiga lalu menunjukkan obyek tersebut kepada para siswanya. Selanjutnya, dia meminta setiap siswa untuk menulis gagasan dan deskripsi mereka tentang obyek tersebut. Menurut Kyle, dengan model seperti itu, dia membantu para siswanya keluar dari perasaan tidak menyukai matematika dan mengubahnya menjadi aktivitas yang lebih sederhana. Dengan metode tersebut, Kyle ingin membuat para siswanya mampu memahami obyek-obyek yang semula terlihat rumit.

Lebih jauh, aktivitas menulis dalam pembelajaran bukan sekadar untuk belajar memahami sebuah konsep dan menjelaskannya dengan sederhana. Lebih penting dari itu, menulis bermanfaat untuk mengembangkan nalar kritis dan kreativitas yang merupakan beberapa karakter Pelajar Pancasila.

Menurut Suyono dalam artikelnya berjudul “Belajar Menulis dan Menulis untuk Belajar” (2014), menulis untuk belajar ialah kegiatan menulis yang dilakukan untuk lebih memahami, menguasai, memikirkan atau memecahkan suatu masalah. Tulisan yang dihasilkan, merupakan produk pemahaman penulis mengenai hal atau masalah yang sedang dipelajari. Artinya, mereka yang menulis, pasti melalui tahapan berpikir sebelum menuangkannya ke dalam tulisan. Nah, proses berpikir inilah yang kemudian melatih kreativitas dan daya kritis.

Jadi, apabila kita semua memiliki visi yang sama untuk mewujudkan karakter Pelajar Pancasila, maka sebaiknya kita tak lagi ragu-ragu untuk memunculkan kebiasaan menulis pada anak. Apalagi, bukannya menulis bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, termasuk di masa pandemi?

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)