Topik:

Lingkungan Belajar: Menetapkan Tahapan-Tahapan menuju Kesuksesan Akademik

Sabtu, 30/07/2022 WIB   509
New York Public School Teachers And Officials Continue Classroom Preparations For Start Of School Year

Pembelajaran paling baik terjadi dalam lingkungan yang positif—lingkungan di mana terdapat hubungan dan interaksi interpersonal yang positif, di mana terdapat kenyamanan dan ketertiban, di mana pelajar merasa dihargai, diakui, dihormati, dan divalidasi.

—Barbara McCombs and Jo Sue Whisler, Kelas dan Sekolah yang Berorientasi pada Siswa

Tidak banyak guru yang membantah proposisi bahwa beberapa siswa

  • Membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk mendalami pemahaman tertentu atau menguasai keterampilan tertentu.
  • Masuk kelas dengan berbekal segudang pengetahuan yang tidak dimiliki siswa lainnya.
  • Harus terus berproses lebih dari yang lain.
  • Tampak sudah putus asa untuk bersekolah—atau pada dirinya sendiri atau orang dewasa—dan sering kali merasa kecewa atau tidak bersemangat.
  • Kesulitan berkonsentrasi selama diskusi kelas dan tampil jauh lebih baik saat terlibat dalam pembelajaran kelompok kecil.
  • Mendapat nilai yang buruk saat tes namun sebenarnya memahami materi kurikulum.
  • Tidak akan terlibat dalam pembelajaran jika mereka tidak paham maksudnya.

Oleh karena itu, yang jadi pertanyaan bukanlah apakah guru sadar akan perbedaan-perbedaan yang ada hampir di setiap kelas atau apakah perbedaan-perbedaan tersebut berdampak pada kesuksesan siswa. Pertanyaan yang mengusik para guru adalah bagaimana cara mengatasi perbedaan-perbedaan itu di kelas yang dipenuhi oleh begitu banyak siswa.

Tujuan menciptakan kelas berdiferensiasi adalah memastikan bahwa ada kesempatan dan dukungan untuk siswa dalam mempelajari pengetahuan dan keterampilan esensial seefektif dan seefisien mungkin. Dengan kata lain, diferensiasi lahir untuk mengakomodasi semua jenis pelajar (siswa) agar bisa sukses secara akademis. Selain itu juga mengakomodasi guru untuk mendukung kesuksesan akademis siswanya dengan cara menyesuaikan pembelajaran yang diberikan berdasarkan setiap siswanya. Pangkal proses “mengakomodasi” pengajaran responsif dan pembelajaran yang berorientasi pada siswa ini adalah terciptanya lingkungan belajar yang memiliki fleksibilitas—dengan kata lain, kelas yang aturan tolok ukurnya adalah fleksibilitas.

Faktanya, kelas yang fleksibel bukan hanya vital bagi pembelajaran diferensiasi saja namun juga pembelajaran pada umumnya. Para ahli mengatakan bahwa ada tiga kategori kelas yang berkenaan dengan pengelolaan kelas: disfungsi, memadai, dan tertib.

  • Lingkungan kelas disfungsi tentu saja sering kali kacau balau. Guru terus-menerus berusaha keras untuk “mengendalikannya”. Hanya ada sedikit pembelajaran berkelanjutan yang efektif.
  • Lingkungan kelas memadai memiliki tingkat ketertiban dasar, namun guru masih berusaha keras untuk mengendalikannya. Hanya ada beberapa pembelajaran yang efektif sekali-sekali.
  • Lingkungan kelas yang tertib terbagi dalam dua kategori—lingkungan yang restriktif dan lingkungan yang memungkinkan.
  • Lingkungan belajar yang tertib dan restriktif adalah kelas yang “ketat”. Guru menegakkan tingkat struktur kelas yang tinggi, mengelola rutinitas dengan ketat, dan menerapkan sedikit strategi pembelajaran.
  • Lingkungan belajar yang tertib dan memungkinan adalah kelas yang berjalan dengan efektif yang memanifestasikan struktur yang lebih longgar (namun tidak longgar). Di kelas ini guru menerapkan berbagai rutinitas dan strategi pembelajaran, serta menitikberatkan pada pemahaman siswa tentang materi (Educational Research Service, 1993).

Faktanya, para peneliti mengatakan bahwa ada hubungan langsung antara kemampuan guru untuk mengelola serangkaian aktivitas kompleks di kelas dan kemampuannya untuk mengajar materi yang menantang secara intelektual (LePage, Darling-Hammond, & Akar, 2005). Ini karena tugas-tugas yang membutuhkan daya paham dan kemampuan penyelesaian masalah membutuhkan fleksibilitas lebih daripada pembelajaran hafalan. Saat guru takut akan probabilitas yang akan terjadi jika siswa bekerja secara mandiri, dalam kelompok kecil, dengan tugas yang berorientasi pada penyelidikan, atau tempo yang bervariasi, guru sering memilih untuk menggunakan pendekatan pembelajaran yang lebih pasif atau yang sepenuhnya “menyederhanakan” kurikulum. Dalam kasus tersebut, guru menurunkan ekspektasinya terhadap siswa dengan cara menggunakan mode presentasi dan evaluasi yang lebih sederhana sebagai penyeimbang tatanan kelas. Dengan kata lain, dalam kasus tersebut, guru “mengajar secara defensif”.

Baca terjemahan-terjemahan lain dari Buku Leading and Managing A Differentiated Classroom  by Carol Ann Tomlinson and Marcia B. Imbeau di sini

Ada beberapa siklus yang sangat disayangkan dan dapat diprediksi yang berasal dari persepsi pendidik bahwa sebagian besar siswa hanya bisa belajar dengan bijak di kelas yang ketat. Salah satu siklus tersebut berasal dari kenyataan bahwa siswa sering berperilaku tidak baik saat tugas yang diberikan kepada mereka terlalu sulit atau terlalu mudah untuk mereka. Guru di kelas disfungsi dan kelas memadai, sekaligus orang-orang yang mempercayai kelas model ketat, akan tetap memberikan siswa tugas yang kurang cocok untuk beberapa siswa (karena diferensiasi membutuhkan fleksibilitas dan fleksibilitas mengancam ketertiban di kelas ketat). Alhasil, beberapa siswa terus-menerus merasa frustasi (dan terlihat jelas oleh guru) yang selanjutnya malah memperkuat persepsi guru bahwa “melonggarkan struktur kelas” hanya akan membawa bencana besar. Kesimpulan ini tentu saja hanya memperparah rasa frustasi para siswa.

Siklus kedua yang sangat disayangkan adalah buntut dari praktik tracking (pengelompokan sistematis siswa dalam kelas berdasarkan prestasi mereka masing-masing) yang diterapkan di banyak sekolah kita. Mudah bagi pendidik untuk menyangkutpautkan perilaku siswa dengan kemampuan akademis mereka. Sayangnya, siswa yang berperilaku tidak baik jarang terlihat cerdas (bahkan jika mereka sebenarnya memang cerdas). Banyak guru yang menjadi terbiasa memisahkan siswa berdasarkan “kemampuan” mereka dan kemudian mengajari mereka dalam berbagai jalur yang sesuai dengan “yang bisa mereka tangani”. Siswa yang merasa frustasi dengan ketidakcocokan ini dan siswa yang diduga terlihat frustasi akibatnya sering dikelompokkan ke dalam kelas dengan berjalur rendah (ditandai dengan penerapan kurikulum tingkat rendah) yang model kelasnya antara kelas model sangat ketat atau model campuran antara disfungsi atau memadai dari segi pengelolaannya. Sebaliknya, siswa yang mematuhi arahan guru lebih cenderung terlihat cerdas dan mereka diajar di lingkungan yang tertib dan fleksibel—yaitu kelas yang menitikberatkan pada daya paham siswa dan kelas di mana guru siap menerapkan berbagai strategi pembelajaran untuk melibatkan siswa dengan ide dan keterampilan vital (Carbonaro & Gamoran, 2002; Gamoran et al., 1995; Haberman, 1991; Hodges, 2001).

Diferensiasi menganjurkan bahwa setiap siswa diajar sebagai individu yang layak dan individu yang mampu menangani kurikulum yang kaya makna. Diferensiasi juga menganjurkan lingkungan belajar di mana setiap siswa bisa memahami, mengakui, dan menghargai kapasitas mereka sebagai pelajar. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan lingkungan kelas yang tertib dan fleksibel. Bab ini akan fokus pada beberapa elemen, pedoman, dan strategi penting yang mampu menciptakan lingkungan yang seperti itu.

Membuat drama yang sukses

Pikirkarlah sebentar mengenai pertunjukkan panggung dan peran sutradara hebat. Tak pelak lagi, sutradara sukses tidak sekadar membeli naskah dari penulis, menyerahkan naskah tersebut pada pemeran drama, memberikan beberapa arahan, dan mengharapkan hasil yang luar biasa. Faktanya, alasan di balik drama yang “sukses” berasal dari lingkungan sekitar daripada dari naskah. Sepanjang drama, sutradara sukses harus menciptakan lingkungan yang afektif dan lingkungan fisik (atmosfer) di lokasi dramanya akan berlangsung.

Dalam rangka membuat drama yang cocok untuk penonton, sutradara juga harus mencocokkan dramanya dengan para pemeran. Pertama, sutradara harus mengenal dan memahami setiap pemeran drama secara individu—kelebihan dan kelemahan mereka, preferensi cara bekerja, dan pengalaman hidup. Pada aspek inilah sutradara akan mendapatkan jawaban dari hal-hal tersebut saat latihan berlangsung. Untuk mempersiapkannya, sutradara kemungkinan akan “menyelidiki” latar belakang pemeran sebelum latihan berlangsung. Ini kemudian akan diikuti dengan memulai percakapan dengan yang bersangkutan sepanjang latihan serta pengamatan dan pemikiran yang cermat untuk memahami apa yang membuat pemeran tersebut bersinar saat memainkan karakternya dalam beberapa kasus dan apa yang membuat pemeran tersebut sulit mendalami karakternya dalam kasus lain.

Selain mengenal dan memahami para pemeran secara pribadi, sutradara perlu membantu mereka beralih dari sekumpulan individu menjadi rombongan pemeran drama, grup, ensambel, persekutuan—tim. Mereka perlu dipersatukan melalui usaha bersama yang dipahami secara umum tanpa kehilangan kekhasan masing-masing. Dengan kata lain, sutradara harus membantu menumbuhkan rasa kebersamaan di antara para pemeran agar tim bisa bekerja dengan kohesif untuk memberi manfaat pada perkembangan individu dan bersama. Jika sutradara berhasil mewujudkannya, maka para pemeran akan memiliki ikatan yang berharga sepanjang masa produksi drama. Mereka akan belajar bekerja sama, membantu satu sama lain, menutupi kekurangan masing-masing, dan pada akhirnya meninggalkan satu sama lain dengan rasa syukur dan rasa sedih. Setiap individu akan menjadi lebih kuat karena adanya tim. Oleh karena itu, sutradara mulai membentuk ensambel dari individu yang berbeda saat para pemeran tiba pada hari pertama—atau sebelumnya. Ini akan terus berlanjut hingga tirai terakhir diturunkan.

Akhirnya, dalam rangka menciptakan lingkungan di mana para pemeran bisa berkembang, sutradara harus menciptakan konteks fisik (lingkungan fisik di mana dramanya berlangsung) untuk drama tersebut. Dalam dunia teater ini disebut set—sebuah dunia miniatur yang dirancang di atas sebidang tanah kecil bernama panggung. Ini berisi apa saja yang diperlukan untuk membuat dramanya menjadi hidup dan meningkatkan perfoma para pemeran. Semua/segala sesuatu yang berada di set panggung memiliki tujuan. Dari flat (alat yang digunakan untuk mendesain panggung drama untuk menambahkan visualisasi latar, mis., pemandangan dan pohon yang terbuat dari kertas) hingga properti, semuanya memberikan kontribusi pada kelangsungan drama. Bentuk, warna, desain, tekstur, dan lokasi adalah elemen yang merepresentasikan drama dan menghidupkan akting pemeran. Saat set panggung siap, hampir tidak ada yang namanya selesai. Perubahan hampir selalu dilakukan hingga malam pembukaan, dan sering kali terus berlanjut sepanjang pertujukan berlangsung.

Peran guru dalam menciptakan lingkungan kelas yang efektif sangat mirip dengan peran sutradara. Dramanya tentu saja sangat menarik—interaksi antara banyak individu dengan ide dan keterampilan yang akan mengubah mereka menjadi makin baik atau makin buruk. Hal ini membutuhkan risiko, upaya keras, kegagalan, kesadaran diri, kejujuran, kemenangan kecil, dan kemenangan besar. Untuk menyukseskan dramanya, guru harus bekerja dengan cepat untuk mengenal para pemeran dan secara persisten memahami mereka. Guru harus memulai lebih awal untuk membentuk tim dari sekelompok individu yang berbeda dan melanjutkan proses pembentukan tim sepanjang drama berjalan. Di sebidang tanah kecil bernama kelas, guru harus menyediakan set panggung di mana para pemeran bisa membuat dramanya menarik. Sisa bab ini akan membahas tiga elemen ini: mengenal siswa, membentuk komunitas, dan merancang lingkungn fisik kelas (lingkungan yang memberi peluang gerak dan segala aspek yang berhubungan dengan upaya penyegaran pikiran bagi siswa setelah mengikuti proses pembelajaran yang sangat membosankan, meliputi sarana dan prasarana pembelajaran yang dimiliki sekolah seperti lampu, ventilasi, bangku, dan tempat duduk, dll. yang sesuai untuk siswa).

Mengenal siswa

Upaya penyelidikan awal yang persisten mengenai informasi tentang siswa setidaknya memiliki empat manfaat:

  1. Menyampaikan kepada setiap siswa bahwa guru melihat mereka sebagai individu dan memberi kesan bahwa siswa cukup menarik untuk dikenalnya secara lebih mendalam. Dengan cara ini, siswa akan mulai memercayai guru—percaya bahwa guru akan menjadi penyokong dan sistem pendukung mereka di kelas—dan berhenti merasa terjebak dalam keadaan anonimitas dan alienasi yang mungkin mereka rasakan di kelas.
  2. Memberikan kontribusi pada kesediaan siswa untuk melakukan tugas pembelajaran yang sulit. Siswa bekerja untuk orang-orang yang mereka hargai (orang yang menghargai mereka).
  3. Membantu guru mengemban tanggung jawabnya atas kesuksesan siswa. Kita akan mengerahkan upaya lebih kepada orang-orang yang benar-benar kita kenal—mereka yang memiliki hubungan dengan kita atau mereka yang “nyata” bagi kita. Sulit untuk mengecewakan orang-orang tersebut.
  4. Memberikan akses terbuka dan terus berkembang kepada setiap siswa sebagai individu dan pelajar. Memahami budaya, hal-hal yang disukai dan tidak disukai, rasa tanggung jawab pribadi sebagai pelajar, hubungan dengan teman sebaya, home support(perhatian atau dukungan yang ada di rumah, misalnya dari keluarga), impian, kelebihan dan kekurangan, dan preferensi cara belajar siswa memungkinkan guru merancang pendekatan terhadap kurikulum dan pembelajaran yang kemungkinan besar memudahkan kesuksesan pelajar individu atau kelas secara keseluruhan.

Guru menggunakan beragam strategi untuk mengenal siswanya saat tahun ajaran dimulai dan terus mempelajari mereka seiring berjalannya tahun. Pertimbangkan contoh berikut:

  • Seorang guru SD meminta siswanya memainkan gim “Mari Mengenal Saya” di mana siswa kelas empat mencari teman sekelas mereka yang memiliki atribut tertentu (Lihat Gambar 4.1). Setelah gim selesai, guru meminta siswa untuk melihat pola di kelas mereka. Guru berkata, “Siapa pun yang memiliki hewan peliharaan yang tidak biasa, silakan berdiri di samping saya di depan kelas dan ceritakan tentang hewan peliharaan tersebut”. Guru kemudian berkata, “Jika kalian tadi mengatakan bahwa kalian suka membantu di sekolah atau di rumah, silakan angkat tangan”. Kepada siswa-siswa tersebut guru berkata, “Besok kita akan mulai menetapkan tugas penting di kelas kita. Saya harap kalian akan mempertimbangkan untuk mendaftar salah satu dari peran-peran tersebut”. Selama  permainan dan kegiatan selanjutnya, guru membuat catatan pada lembar data siswa dan selanjutnya mengurutkan lembaran itu berdasarkan abjad dan melengkapi catatannya dengan foto siswa yang dia ambil saat hari pertama sekolah. Dia secara sistematis menambahkan informasi pada catatannya sepanjang tahun ajaran saat dia mengamati siswa, berbicara dengan siswa, dan mendapatkan informasi tentang penilaian awal dan penilaian formatif. Dia terkadang menggunakan lembaran itu dalam percakapan dengan siswa dan konferensi orang tua siswa—menunjukkan kepada orang tua siswa apa yang guru pelajari tentang siswa dan mengajak mereka untuk menyumbangkan wawasan mereka sendiri. Dia sering kali menggunakan lembaran itu untuk merancang pelajaran yang dibuat untuk mengatasi berbagai minat dan kebutuhan siswa. Pada akhir tahun ajaran, setiap siswa direpresentasikan oleh beberapa lembar data dan “biografi pelajar”.

*Lihat Gambar 4.1 di sini

  • Seorang guru Sains SMP di daerah perkotaan mengunjungi rumah setiap siswanya selama musim panas dan awal musim gugur tahun ajaran. Jika ada orang di rumah, dia memperkenalkan dirinya, meminta izin untuk menyapa siswanya, dan menjelaskan bahwa dia sedang mempersiapkan diri untuk membantu siswa memahami hubungan timbal balik dengan tetangga mereka. Dia mengatakan kepada orang tua siswa bahwa dia senang mengenal anak-anak mereka dan meminta mereka menceritakan beberapa hal tentang anak mereka yang mereka rasa perlu diketahuinya. Jika tidak ada seorang pun di rumah, dia meninggalkan catatan dengan informasi yang sama dan mengatakan bahwa dia ingin mengundang mereka secara pribadi untuk menemuinya di sekolah. Membayangkan siswanya dalam konteks tertentu membantunya memahami beberapa hal penting tentang mereka, bahkan sebelum mereka datang ke kelas. Meluangkan waktu untuk mengunjungi rumah siswa menandakan bahwa dia ingin mengenal siswanya. Hal itu juga menandakan pemahamannya tentang nilai (peran) keluarga dalam kehidupan dan pembelajaran siswa. Dia selanjutnya menghubungi dan mengunjungi orang tua siswa—paling sering dengan membawa kabar baik, namun terkadang ingin menyampaikan kepada orang tua siswa tentang kebutuhan pembelajaran khusus anak mereka—sepanjang tahun ajaran.
  • Seorang guru Sains SMA mengajak siswanya untuk menggunakan kelas selama waktu makan siang bersama sebagai tempat untuk belajar, tanya jawab tentang pekerjaan mereka, atau sekadar menikmati makan siang yang mereka bawa dari rumah. Kelas itu selalu memuat 15-20 siswa selama waktu makan siang, di mana ini memberikan kesempatan bagi guru untuk memperhatikan siswanya dalam suasana yang lebih santai, mengamati mereka satu sama lain, dan memberikan pendampingan kepada mereka dalam bentuk bacaan, kegiatan laboratorium, dan proyek. Salah seorang rekan guru—guru Bahasa Inggris sekolah menengah—lebih menyukai dua strategi lain untuk mempelajari dan memahami siswanya lebih dalam. Dia mengadakan diskusi klub buku bulanan di rumahnya dan mendorong siswa untuk datang dan menceritakan ide mereka. Terkadang siswa mendiskusikan masalah yang berkaitan dengan tugas sekolah, namun di lain waktu mereka menceritakan topik yang berkaitan dengan minat pribadi mereka kepada siswa lain dan guru. Guru selalu berusaha memberikan undangan yang bersifat spesial dan pribadi kepada siswa yang dia rasa enggan untuk datang dan dia selalu memastikan bahwa siswa aman selama perjalanan ke rumahnya. Guru juga datang ke acara ekstrakulikuler siswa setiap minggu untuk mengamati siswanya di lingkungan kesukarelawanan. Dia mencoba memilih acara yang memungkinkannya mengamati siswanya seluas mungkin, namun saat ada dua acara ekstrakurikuler siswa yang berlangsung bersamaan, dia hampir selalu memilih hadir ke acara di mana siswanya yang kurang terlibat secara akademis berpartisipasi.

Gambar 4.2 menyajikan beberapa cara tambahan untuk mengenal siswa, dan Perangkat Guru di bagian belakang buku ini menyediakan contoh tambahan. Tujuan dari setiap strategi ini adalah membantu guru mengajar siswanya dengan lebih baik melalui pemahaman mendalam tentang individu yang dia ajar. Guru yang berkeinginan mengenal siswanya dengan baik menerapkan berbagai strategi sepanjang tahun ajaran untuk mencapai tujuan itu.

Inti dari proses mengenal siswa dalam kelas berdiferensiasi adalah pelaksanaan asesmen secara berkelanjutan. Ada baiknya mengingat beberapa poin penting, termasuk yang berikut ini:

  • Di awal tahun ajaran, pikirkan cara untuk mengecek pemahaman siswa tentang keterampilan dan pengetahuan penting di kelas/mata pelajaran Anda secara informal, seperti kemampuan pendengaran, kemampuan visual, kemampuan membaca, kepandaian menulis, mengeja, komunikasi lisan, serta kosakata akademik yang penting. Langkah-langkah ini tidak harus bersifat melelahkan atau memakan waktu; misalnya, Anda biasanya menilai kepandaian mengeja dan menulis siswa bersamaan dengan kemampuan pendengaran siswa, atau Anda biasanya menilai kepandaian komunikasi lisan saat siswa menceritakan sesuatu di pertemuan kelas pagi (siswa yang lebih muda) atau merangkum apa yang mereka ingat dari pertemuan kelas kemarin (siswa yang lebih tua). Pemahaman Anda tentang kepandaian siswa akan meningkat seiring waktu, namun ada baiknya untuk mengetahui di mana posisi setiap siswa saat mereka memulai tahun ajaran baru dari segi kompetensi yang diharapkan—dan turun tangan seperlunya untuk mendorong perkembangan siswa sejak awal. Waspada terhadap kemungkinan bahwa beberapa siswa hanya kelihatannya saja kurang berpengetahuan, terampil, atau paham padahal masalah sebenarnya adalah mereka sulit mengungkapkan apa yang mereka ketahui. Beberapa penghalang ini termasuk kemampuan berbahasa yang buruk dan kesulitan mengerjakan ujian.

*Lihat Gambar 4.2 di sini

  • Jangan terlalu terpengaruh oleh catatan siswa dari tahun-tahun sebelumnya, komentar dari guru lain tentang siswa, atau data tes standar. Alasan peringatan ini adalah memastikan bahwa setiap siswa memulai tahun ajaran dengan probabilitas yang diperlukan untuk bergerak maju dan sukses. Saat siswa menjadi “anak” yang menyebabkan guru memutar matanya, yang telah “gagal” dalam ujian standar selama tiga tahun berturut-turut, atau yang tidak pandai dalam sains, sulit bagi seorang guru baru untuk memiliki pola pikir yang berkembang. Sulit juga bagi siswa tersebut untuk tidak menyadari keraguan yang dimiliki guru tentang prospek mereka. Demikian juga, jika citra siswa yang menempel pada Anda adalah “siswa” yang selalu mendapat penghargaan atau yang selalu berada di peringkat atas dalam ujian prestasi, pola pikir yang akan Anda adopsi mengenai siswa tersebut kemungkinan adalah “pola pikir yang tetap”, dan Anda akan cenderung tidak menantang siswa untuk melihat seberapa jauh dia bisa berkembang.
  • Pastikan siswa menyadari bahwa saat Anda mempelajari hal-hal penting tentang minat, preferensi cara belajar, dan kelebihan dan kebutuhan akademik mereka, Anda kemudian menggunakan informasi itu untuk merancang kelas. Saat Anda memiliki informasi tentang pekerjaan/tugas siswa, pastikan untuk memberi tahu siswa dengan cara yang bisa membantu individu tersebut bekerja dengan lebih cerdas dan belajar dengan lebih baik. Tujuannya bukan untuk membuat guru menjadi “serba tahu” tentang siswa, namun untuk merefleksikan informasi itu kepada siswa. Secara konsisten mengenali dan memuji apa yang siswa bisa lakukan daripada memikirkan kesulitan mereka. Mengembangkan kelebihan siswa adalah rute langsung menuju motivasi, kesediaan, keterlibatan, dan pencapaian siswa.
  • Mengharapkan siswa untuk berkembang dan berubah. Tahan kecenderungan untuk berasumsi bahwa siswa yang tertarik pada serangga pada bulan September akan tetap bersemangat tentang topik itu hingga bulan Maret. Beberapa siswa mungkin iya; beberapanya lagi mungkin tidak. Tahan juga kecenderungan untuk mengategorikan siswa berdasarkan preferensi belajar. Kebanyakan orang belajar dengan cara berbeda dalam mata pelajaran berbeda, saat materi pelajarannya baru versus sudah familiar, dan bahkan pada waktu yang berbeda dalam sehari. Gunakan informasi yang Anda dapatkan dari pengamatan untuk memberikan siswa opsi, bukan untuk mengekang mereka dengan tugas yang telah ditentukan. Sering-seringlah mengecek siswa untuk mengetahui bagaimana perubahan dan perkembangan mereka.
  • Ingat bahwa siswa adalah sumber informasi terbaik. Biarkan siswa tahu bahwa Anda ingin mengetahui hal-hal apa saja yang berjalan lancar dengan mereka—dan yang tidak. Sekali-sekali gunakan exit card (kartu berisi tanggapan siswa tentang jawaban atas pertanyaan guru, umpan balik terhadap pengajaran guru, dll. yang diserahkan di akhir sesi kelas), daftar periksa, survei komputer, evaluasi akhir unit pelajaran, atau mekanisme sederhana lain yang bisa mengajak siswa menceritakan perasaan mereka tentang apa yang sudah mereka lakukan. Pastikan untuk memanfaatkan informasi yang Anda ketahui. Ingatlah bahwa siswa dari beberapa kelompok budaya mungkin lebih segan untuk “menasihati” Anda karena takut melakukan hal yang tidak sopan. Dalam kasus tersebut, jangan memaksakan mereka, namun ingatkan mereka bahwa saat mereka berbagi pendapat mereka tentang cara membuat kelas menjadi efektif untuk seluruh penghuninya akan sangat membantu Anda dan Anda akan sangat menghargai masukan mereka.

Prinsip dasar diferensiasi adalah guru yang cerdas tidak sekadar menganggap dirinya sebagai guru yang tugasnya hanya menyampaikan materi kepada siswa. Benar, guru memang berkomitmen mengajarkan materi kepada siswa, namun guru juga merupakan siswa yang berdedikasi—siswa yang mempelajari materi yang dia ajar dan siswa yang mempelajari siswanya sendiri. Guru ini percaya bahwa mengajar tidak akan lengkap jika tidak ada pembelajaran yang terjadi dan bahwa pembelajaran didasarkan pada pemahaman guru secara menyeluruh baik tentang materi maupun siswanya.

Membentuk komunitas di kelas

Komunitas adalah orang-orang yang berkumpul bersama karena adanya kesempatan untuk menemukan, mengenali, mengapresiasi, dan menjangkau hal yang sama (Greene, 2000). Dalam kelas berdiferensiasi, guru menuntun siswa untuk menyusun visi bersama tentang kelas yang memungkinkan semua orang dan individu berkomitmen untuk mendukung satu sama lain dalam pembelajaran.

Menjadi bagian dari komunitas memenuhi kebutuhan dasar manusia tentang rasa saling menerima, rasa saling memiliki, afinitas, rasa saling menghormati, dan kepedulian. Ini meyakinkan kita bahwa kita tidak hanya bisa bermanfaat untuk diri kita sendiri namun juga untuk orang lain. Bagi siswa yang berasal dari budaya kolektivisme, menjadi bagian dari sebuah komunitas adalah dasar dari berjalannya dunia ini dan merasakan rasa kekeluargaan di kelas merupakan sesuatu yang normal bagi mereka (karena terbiasa dengan budaya kolektivisme) dan memberikan rasa aman (Rothstein-Fisch & Trumbull, 2008).

Tentu saja tidak semua komunitas bersifat positif. Geng dan kultus merupakan contoh dari komunitas yang bersifat negatif, namun mereka masih memperlihatkan kebutuhan dasar yang diperlukan untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok tertentu yang terdiri dari orang-orang yang sepemikiran yang memiliki misi yang sama serta memberikan identitas dan sistem pendukung kepada satu sama lain.

Guru yang menuntun siswa menyusun visi bersama tentang kelas berdiferensiasi membayangkan sesuatu seperti kelas demokratis seperti yang dijelaskan oleh James Beane (2005). Dalam kelas itu, perbedaan siswa bukanlah masalah yang harus diatasi dan siswa tidak dipisahkan menurut perbedaan mereka, dan keseragaman tidak bersifat wajib. Guru dalam kelas ini kemudian mengisyaratkan bahwa keragaman adalah kekuatan yang menuntun pada komunitas yang benar-benar demokratis di mana para anak muda belajar untuk hidup dan bekerja sama.

Bane mengingatkan bahwa inti dari demokrasi adalah prinsip-prinsip bahwa orang (1) memiliki hak dasar atas martabat manusia; (2) bertanggung jawab untuk peduli terhadap kebaikan bersama; (3) bisa melihat bahwa takdir mereka berkaitan dengan kebaikan kelompok secara keseluruhan; dan (4) memiliki kapabilitas intelektual dan sosial untuk bekerja sama menyelesaikan masalah yang muncul. Ini merupakan visi yang berwawasan tinggi—dan visi ini menjadi dasar aspirasi Amerika Serikat sebagai sebuah bangsa. Menerapkannya tidaklah mudah, namun ini penting. Di dalam kelas, seperti halnya dalam sebuah bangsa, visi ini menantang dan menginspirasi kita untuk memperbaiki diri.

Bagi siswa, aspirasi-aspirasi ini umumnya menjawab ekspektasi guru yang tinggi. Bergulat dengan tujuan ini akan mempersiapkan siswa untuk menghadapi dunia luar dan mengharuskan mereka untuk mempertanggungjawabkan pemikiran dan tindakan mereka—baik dalam pekerjaan mereka sendiri maupun bagian dari sebuah kelompok. Dengan demikian, menjadi bagian dari komunitas yang sehat di kelas berdiferensiasi memenuhi kebutuhan dasar manusia akan afinitas dengan kelompok yang alhasil mengarahkan pada tujuan realisasi diri dan kontibusi untuk kebaikan bersama yang lebih tinggi.

Bagi guru, menuntun siswa untuk membentuk komunitas kelas yang kuat bisa memperdalam pengajarannya. Hal ini juga meningkatkan motivasi, kesadaran diri, dan tanggung jawab pelajar. Pada akhirnya, ini juga memberikan sistem pendukung yang bisa membantu guru mengawasi dan mempertahankan efektivitas keberlangsungan kelas yang dirancang untuk berjalan secara fleksibel dan memaksimalkan perkembangan setiap siswa.

Membentuk komunitas

Menuntun siswa menciptakan rasa kebersamaan yang positif tentunya berkaitan erat dengan mengenal siswa. Saat guru menunjukkan ketertarikannya untuk mengenal siswa secara pribadi dan memperlakukan mereka dengan hormat, orang lain akan memerhatikan. Ini semakin jelas bahwa di kelas guru tersebut, semua orang dihargai dan ada kesempatan bagi semua siswa untuk mengenal satu sama lain. Kelas tersebut juga dilibatkan dalam percakapan tentang menciptakan lingkungan di mana setiap orang dihargai dan di mana perkembangan setiap orang bersifat sangat penting. Saat percakapan berlangsung, guru terus merujuk kembali pada alasan awal tentang penciptaan kelas yang responsif bagi semua siswa—semua siswa berharga. Yang sering kali tersirat (namun terkadang eksplisit) dalam percakapan ini adalah “Inilah kita. Ini yang kita lakukan”. Akibatnya, kelompok menjadi lebih beridentitas dan siswa akhirnya memahami satu sama lain dengan lebih baik, menyadari bahwa ide-ide mereka diterapkan, dan bekerja sama dengan efektivitas yang kian meningkat. Pada akhirnya, terbentuklah sebuah komunitas.

Seperti halnya perihal mengenal siswa, ada banyak cara untuk memberikan kontribusi pada pembentukan komunitas sekolah di mana individu memiliki minat dan tujuan yang sama. Pertimbangkan contoh kelas berikut ini:

  • Seorang guru Bahasa Inggris SMA menarik kesimpulan yang jujur namun berat bahwa pada saat siswa sampai di kelas, hanya ada sedikit siswa yang memiliki keinginan membara untuk membaca lebih banyak puisi, menyelesaikan lebih banyak latihan tata bahasa, atau menulis rumusan esai tambahan. Dia paham bahwa dia harus menciptakan kelas di mana siswa merasa terhubung dengan cara membuat materinya tampak penting untuk siswa. Dia mulai dengan menciptakan kelas yang memungkinkan siswa melakukan percakapan. Dia menceritakan kisah-kisah kecil dalam kehidupannya kepada siswa dan dia membujuk siswa untuk menceritakan kisah mereka. “Saya suka cerita yang bagus,” dia sering berkata. “Saya bahkan akan menunda ujian selama lima menit jika ada siswa yang ingin menceritakan cerita yang bagus. . . . namun pastikan ceritanya benar-benar bagus!” Belakangan ini, dia mulai menceritakan kisah-kisah hidupnya yang lebih penuh makna. Pada saat itu, para siswanya mendengarkan satu sama lain dengan penuh perhatian dan mereka percaya bahwa mereka bisa menceritakan kisah penuh makna versi kehidupan mereka sendiri. Dia juga membantu siswa menyadari bagaimana cerita mereka sama bagusnya dengan cerita penulis yang mereka baca. Dia juga membantu siswa yakin bahwa cerita mereka layak diabadikan dalam bentuk tulisan. Sepanjang tahun, dia dengan sengaja membuat para siswa berbaur dengan satu sama lain melalui storytelling dan menghubungkan materi yang dia ajar kepada siswa yang dia ajar. Kelas tersebut memengaruhi kehidupan para siswa; banyak dari siswa yang akhirnya menjadi penulis dan pembaca setia.
  • Seorang guru SD memanfaatkan dinding kelas untuk menggantungkan 10 lembar halaman kalender—satu halaman per bulan. Halaman-halaman itu berukuran besar dan memiliki banyak ruang yang bisa diisi tulisan. Pada hari pertama sekolah, dia memberi tahu siswanya bahwa mereka akan menulis sejarah kelas seiring berjalannya waktu. “Saat ada hal penting terjadi,” katanya, “kita akan mencatatnya di kalender ini dengan tulisan, gambar, dan foto. Dengan ini, kita bisa mengenang dan membaca sejarah kita sebagai anggota kelas”. Setiap hari saat sekolah akan berakhir, dia meminta siswa untuk mengatakan apa hal penting yang terjadi hari itu. Di awal tahun, dia terkadang menodong siswa dengan pertanyaan, “Inilah tiga hal yang tampak penting hari ini. Apakah ada hal lain yang bisa kalian tambahkan dalam daftar ini?” Dia memastikan untuk menyertakan momen spesial dalam kehidupan siswa secara individu (yang diceritakan hari itu) dan semua pokok pembicaraan yang terjadi di kelas, termasuk penguatan positif (mis. Semuanya bekerja lebih keras dalam kelas matematika hari ini) dan ruang untuk perbaikan (mis. Kita harus menemukan cara berbicara yang lebih pelan saat sedang bekerja). Siswa seperti yang sudah diprediksikan akan mengikuti contoh yang diberikan saat membuat saran untuk kelas. Terkadang guru menambahkan foto atau siswa memberikan ilustrasi yang diikuti dengan kalimat deskripsinya. Seiring berjalannya tahun, siswa menjadi lebih sering menulis di kalender. Saat ada orang dewasa yang datang ke kelas, guru akan meminta sukarelawan untuk menjelaskan apa yang tertulis di kalender dan beberapa hal yang mereka rasa mendeskripsikan kelas mereka dengan jelas (siswa hampir selalu menunjukkan kalender tersebut kepada orang tua mereka saat mereka berada di kelas). Semakin lama, kalender menjadi sebuah cerita bersama tentang “siapa kita”, “apa yang kita lakukan”, dan “mengapa pekerjaan/tugas kita penting”.
  • Seorang guru matematika SMP menyadari bahwa siswanya terkadang merasa frustasi oleh pelajaran matematika menantang yang mereka pelajari. Suatu hari, dia menawarkan kepada kelompok siswa untuk menyorakkan “cemoohan”—sorakan dengan nada marah. Dia mengajak siswa untuk menyorakkan cemoohan bersama dengannya sebanyak tiga kali berturut-turut, di mana setiap cemooh akan disorakkan dengan nada yang lebih keras dari sebelumnya. Saat mereka selesai, guru berkata, “Inilah slogan baru kita: We gripe and conquer! (Kita mengeluh lalu menaklukkan!)”. Siswa melampiaskan rasa frustasi mereka, tertawa, dan bekerja dengan perasaan tidak terlalu tegang dan ragu dibandingkan hari-hari sebelumnya. Beberapa hari kemudian saat dia menyadari bahwa rasa frustasi tersebut muncul lagi, dia berkata, “Siapa yang ingat dengan sorakan kemarin? Saya rasa kita perlu melakukannya lagi”. Di hari lain, dia berkata, “Oke, waktunya bersorak, namun saya bosan dengan sorakan yang sekarang (dengan sorakan yang itu-itu lagi). Adakah yang punya ide baru?” Siswa mulai membuat sorakan “antimatematika” dalam kelas dan sering menggunakannya saat dibutuhkan. Setiap kali siswa menyorakkan moto kelas mereka, guru menyelipkan pertanyaan di sela-sela sorakan siswa, “Apa moto kelas kita?” Siswa menjawab serentak, “We gripe and conquer,” dan mereka berhasil melakukannya. Menyorakkan cemoohan adalah satu dari banyak teknik yang digunakan guru untuk mempersatukan para siswanya sebagai penakluk matematika daripada “korban” matematika. Siswa secara rutin mengunjungi guru mereka setelah mereka lulus, dan mereka mengatakan kepada sang guru bahwa mereka ingat sesuatu yang dia ajarkan kepada mereka: Merasa frustasi itu hal yang normal, asalkan jangan menyerah.
  • Seorang guru Bahasa Prancis SMA meletakkan cupcake di atas meja siswa pada hari ulang tahun siswa tersebut. Dia berdiri di dekat meja siswa saat kelas dimulai, mengucapkan selamat ulang tahun kepada siswa, dan memberi tahu dua atau tiga hal tentang siswa yang sangat dia hargai. Para siswa bertepuk tangan dan kelas berlanjut. Pentingnya tindakan sederhana seperti ini mungkin sering Namun, pentingnya tindakan sederhana ini dibuktikan oleh siswa pendiam di kelas yang berkesempatan jalan-jalan ke luar negeri bersama orang tuanya di akhir tahun itu. Siswa ini sangat bersemangat dengan trip ini karena dia akan berkesempatan berbicara bahasa Prancis dan membawa pulang oleh-oleh untuk kelasnya. Namun, sesaat sebelum tripnya, dia memberi tahu ibunya bahwa dia tidak bisa berangkat dan meminta ibunya untuk membantunya mendapat pengembalian dana untuk tiketnya. Sang ibu, yang bingung dan tidak terlalu senang, bertanya kepada anaknya mengapa dia tiba-tiba berkata tidak bisa melanjutkan trip ini. Sang anak menjawab, “Saya baru sadar bahwa trip ini berlangsung saat pekan hari ulang tahun saya. Saya akan kehilangan cupcake saya saat kelas Bahasa Prancis jika saya berangkat. Pokoknya saya harus ada di kelas saat hari itu!” Tentu saja bukan cupcake yang akan dilewatkan oleh siswa, namun apresiasi dan pengakuan di depan publik dari guru tentang nilai dirinya dan apa yang pengakuan itu bisa sampaikan kepada seluruh kelaslah yang menjadikan hari itu lebih penting daripada tripnya ke Prancis. Ritual cupcake ini mencontohkan etika rasa hormat dan apresiasi yang meliputi segala sesuatu di kelas. Itu adalah salah satu dari banyak cara guru membimbing siswa untuk menyimpulkan, “Inilah siapa kita, dan inilah cara kita memperlakukan satu sama lain di sini.”.

Guru menciptakan strateginya sendiri untuk mengenali dan memperjelas tujuan spesifik yang dia ingin kelasnya miliki. Untuk mewujudkannya, strategi tersebut tidak hanya memperjelas persoalan paling penting di kelas namun juga membantu siswa berbaur bersama melalui ide-ide penting tersebut. Strategi-strategi tersebut tidak mengindikasikan bahwa komunitas adalah pengganti materi, namun komunitas sebagai sarana untuk mengantarkan siswa ke proses pembelajaran. Gambar 4.3 dan Perangkat Guru berisi lebih banyak contoh metode yang bisa digunakan guru untuk membentuk komunitas kelas yang lebih positif.

Memanfaatkan kelompok siswa dan komunitas sekolah

Dalam kelas berdiferensiasi, penggunaan kelompok siswa merupakan bagian integral dari terciptanya komunitas yang produktif dan positif, namun itu bukan hanya satu-satunya persyaratan. Faktanya, kelas berdiferensiasi yang efektif pasti akan mengharuskan siswa untuk bekerja secara mandiri atau dalam diskusi bersama dengan seisi kelas. Setidaknya secara teoritis, ini mungkin bertujuan untuk membedakan siswa tanpa harus meminta siswa bekerja dalam kelompok kecil.

*Lihat Gambar 4.3 di sini

Saat kelompok siswa berfungsi secara efektif, mereka akan sangat memotivasi siswa. Mereka akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk saling berbagi ide, mendapatkan masukan, menemukan cara alternatif untuk menghadapi masalah atau tugas, dan mendapatkan dukungan. Bagi kebanyakan siswa, ini merupakan awal dari pembelajaran yang sukses. Kelompok juga membuat kelas menjadi lebih efisien untuk para guru yang bisa, misalnya, fokus pada lima atau enam kelompok daripada 30 individu. Di bab 6, kita akan mempertimbangkan prosedur-prosedur untuk membantu siswa bekerja dengan efektif dalam kelompok. Namun di sini kita akan menyoroti beberapa prinsip pengelompokan yang efektif yang menunjang keyakinan dan penerapan diferensiasi.

Gunakan pengelompokan yang fleksibel. Aspek yang tidak luput dari diferensiasi yang efektif adalah bahwa guru merencanakan alur yang konsisten dari berbagai pengelompokan siswa dalam suatu unit studi berdasarkan jenis pekerjaan dan kebutuhan individu siswa. Ini memungkinkan siswa untuk membayangkan diri mereka sendiri dan satu sama lain berkutat dalam berbagai konteks pembelajaran dan ini memberikan guru kesempatan untuk mengamati setiap siswa dalam berbagai konteks. Misalnya, Benjamin mungkin dijadwalkan untuk bekerja selama empat jam bersama dengan temannya yang memiliki tingkat kesiapan dan kebutuhan keterampilan yang sama minggu ini. Namun, rencana guru untuk kelompok literasi selama seminggu juga harus, misalnya, mencakup kesempatan bagi Benjamin untuk berbagi beberapa bacaan dengan siswa yang memiliki minat yang sama terlepas dari kebutuhan kesiapan mereka, bekerja sama dengan kelompok siswa lain yang memilih mengekspresikan apa yang mereka pelajari dalam format tertentu, bekerja secara mandiri, dan bekerja sama dengan siswa pilihan mereka sendiri untuk mendiskusikan materi kelas. Siswa bekerja dan belajar dengan cara yang berbeda dan dalam situasi yang berbeda; mereka berhak mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan berbagai kelompok teman secara teratur dan konsisten agar mereka bisa memandang diri mereka (dan dipandang orang lain) sebagai pelajar multidimensi.

Teach up (mengajar dengan kurikulum tingkat tinggi dan kemudian mencari cara untuk mengusahakan siswa sampai ke tingkat itu). Rancang tugas kelompok untuk memastikan bahwa setiap siswa bekerja/belajar dengan kurikulum yang kaya dan harus memikirkan dan menerapkan ide dan keterampilan penting. Kadang-kadang, siswa atau kelompok akan membutuhkan waktu untuk mempraktikkan keterampilan diskret mereka, namun tidak boleh ada kelompok siswa yang secara konsisten mempraktikkan keterampilan mereka di luar konteks saat tugas kelompok lain adalah menjadikan siswa sebagai pemikir, pemecah masalah, dan pencipta. Mulai dengan merencanakan tugas yang bisa menantang pelajar tingkat lanjutan dan kemudian berikanlah dukungan belajar secara terstruktur (scaffolding) sesuai kebutuhan untuk siswa yang kurang mahir. Mengajar dengan cara ini merupakan indikator dari guru yang memiliki pola pikir berkembang dan ini akan menguntungkan hampir semua pelajar.

*Maksud untuk kalimat yang bergaris bawah: tidak boleh ada siswa yang mempraktikkan skills yang di luar keterampilan diskret sebagai pemikir, pemecah masalah, dan kreator/pencipta. Jadi fokusnya ke keterampilan yang dibutuhkan untuk membuat siswa menjadi pemikir, pemecah masalah dan kreator

Gunakan tugas kemampuan ganda. Tugas yang seperti itu memiliki lebih dari satu jawaban atau cara penyelesaian, pada hakikatnya menarik dan bermanfaat untuk berbagai siswa, memungkinkan siswa yang berbeda untuk memberikan kontribusi yang berbeda terhadap kesuksesan penyelesaian tugas, dan membutuhkan berbagai keterampilan dan tenaga untuk menyelesaikannya (Cohen, 1994). Tugas kemampuan ganda sering kali menggunakan berbagai media karena sangat relevan untuk siswa, akses yang tugas ini berikan untuk mempelajari konten penting, dan kesempatan yang tugas ini berikan pada siswa untuk mengekspresikan pembelajaran. Tugas-tugas tersebut juga menekankan pentingnya membaca dan menulis terhadap kesuksesan siswa.

Tetapkan peran individu dalam kelompok. Peran individu memastikan bahwa setiap siswa memiliki kontribusi akademis atau intelektual yang sangat penting yang harus mereka berikan pada tugas. Misalnya, jika satu siswa dalam kelompok ditunjuk sebagai pembaca dan satunya lagi sebagai pencatat waktu, ini jelas menunjukkan pada siswa bahwa peran pembaca lebih “berarti” daripada peran pencatat waktu. Di sisi lain, jika satu siswa diharapkan untuk menggambar bagan langkah-langkah yang diperlukan untuk memecahkan soal matematika dan yang lain diharapkan untuk menulis prosa arah untuk menyelesaikannya, maka setiap siswa akan memberikan kontribusi yang sama untuk tugas “menunjukkan apa yang harus diketahui, dipahami, dan bisa dilakukan oleh siswa yang tidak hadir pada minggu ini agar mereka merasa kompeten dengan jenis soal matematika yang kita utamakan minggu ini”. Kelompok yang hanya beberapa anggotanya saja yang memiliki kompetensi yang penting terhadap kesuksesan siswa akan membuahkan sistem kasta (ada label pemenang dan ada label yang kalah) daripada berkontribusi pada keyakinan atau rasa komunitas yang ada di kelas (rasa persatuan komunitas di kelas).

*Maksud untuk kalimat yang bergaris bawah 1: peran siswa kurang imbang (bukan contoh yang seharusnya), yang satunya jadi pembaca sedangkan pasangannya “hanya” jadi pencatat waktu, jadi seperti menunjukkan kalua peran yang banyak kontribusi ke tugas kelompoknya itu hanya peran pembacanya saja

 *Maksud untuk kalimat yang bergaris bawah 2: merupakan contoh yang baik karena kebalikan dari yang pertama tadi. Di sini peranan siswa equal. Peran mereka bisa menunjukkan “apa yang seharusnya mereka ketahui, fahami, bisa lakukan”. Jadi kontribusi keduanya sama, tidak seperti yang pertama tadi dimana siswa satunya hanya jadi pencatat waktu, saat pasangannya sedang membaca

*Maksud untuk kalimat yang bergaris bawah 3: rasa komunitas adalah perasaan memiliki akan komunitas dan perasaan berharga dalam suatu komunitas, sehingga timbul keyakinan untuk bersama dalam komunitas

Pastikan konten bisa diakses oleh semua orang. Dalam kelompok siswa dengan tingkat kesiapan belajar campuran, pastikan bahwa materi bentuk tertulis bisa diakses oleh semua anggota kelompok. EELs (English Language Learners), misalnya, harus memiliki metode yang layak untuk menjembatani dua bahasa. Ingat bahwa siswa tidak akan bisa berkembang secara akademis jika tugas yang mereka dapatkan terlalu sulit atau terlalu mudah untuk mereka, dan bukan hal yang tepat dan efektif untuk mendasarkan tugas siswa pada materi yang tidak bisa mereka baca. Untuk mengatasi tingkat membaca siswa yang bervariasi dalam kelompok siswa dengan tingkat kesiapan belajar campuran, Anda bisa menunjuk satu siswa dalam kelompok sebagai “pembaca”, teks atau arahan bisa dicatat, atau siswa bisa membaca materi dengan tingkat kerumitan yang berbeda dan kemudian bersama-sama mengerjakan tugas kelompok.

Tentukan kemampuan siswa. Amati siswa dengan cermat, catat kelebihan, keterampilan, dan wawasan tertentu yang siswa kerahkan dalam tugas kelompok. Saat Anda melihat kontribusi yang pantas dan tulus, komentari kontribusi tersebut. Misalnya dengan berkata, “Saya rasa pertanyaan yang baru saja diajukan Sherisa sangat penting. Pertanyaan tersebut membuat kita merenungkan kembali cara berpikir yang kita adopsi sebagai kelompok. Kemampuan untuk mengajukan pertanyaan menantang pada waktu yang tepat merupakan keterampilan yang sangat berguna.”. Penting bagi semua siswa untuk menerima dukungan atau dorongan emosional semacam ini, namun sangat penting lagi terutama bagi siswa yang tampak memiliki performa lebih rendah dibandingkan teman sebaya mereka untuk mendengar—dan bagi teman sebaya mereka untuk mendengar—komentar semacam itu dari guru saat benar-benar diperlukan.

Pelaksanaan  kerja kelompok pembelajaran yang efektif menguntungkan siswa dalam hal perkembangan akdemik mereka. Ini juga berkontribusi menumbuhkan rasa komunitas kelas saat siswa secara konsisten memiliki kesempatan untuk bekerja sama dengan berbagai teman sekelas di berbagai tugas yang dirancang untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok menjadi kontributor penting dalam tugas kelompok yang diberikan.

Merancang lingkungan fisik untuk menunjang pembelajaran

Seperti halnya dengan semua elemen kelas lainnya, tujuan perancangan lingkungan fisik kelas adalah untuk memaksimalkan kesempatan belajar mengajar. Untuk itu, lingkungan fisik di kelas berdiferensiasi harus memiliki struktur dan prediktabilitas yang dibutuhkan siswa agar merasa aman. Selain itu, lingkungan fisik juga harus memungkinkan fleksibilitas untuk memenuhi baik kebutuhan kelompok maupun individu dalam konteks kurikulum yang kaya dan berorientasi pada makna.

Mirip dengan orang yang direpresentasikan oleh baju atau kebersihan diri mereka, lingkungan kelas juga menunjukkan seperti apa kelas itu. Lingkungan kelas juga menjelaskan secara subtil, atau tidak begitu subtil, tentang sifat dan filosofi guru, tingkat pengelolaan kelas yang mungkin menggambarkan kelas, dan perhatian guru terhadap siswa dan kesuksesan mereka.

Kita akan secara singkat membahas tiga elemen yang harus dipertimbangkan guru dengan cermat saat mereka menata kelas. Keputusan dari setiap elemen bisa memberikan kontribusi atau malah mengurangi fokus pembelajaran. Kelas tidak harus bersifat “eksklusif” untuk bisa bijak, terorganisasi, dan fleksibel; juga tidak harus bersifat “eksklusif” untuk bisa menyampaikan kesungguhannya—yang dianggap guru sebagai kesuksesan setiap siswa.

Seperti yang sudah dijelaskan, kelas berdiferensiasi berorientasi pada siswa. Oleh karena itu, kelas ini memberikan ekspektasi bahwa siswa akan

  • Meningkatkan kepandaian dan kenyamanan mereka saat bekerja secara mandiri, dalam kelompok kecil, dan dengan kelas secara keseluruhan.
  • Berpikir tingkat tinggi—mereka akan memahami dan menerapkan apa yang mereka pelajari.
  • Mendukung pembelajaran rekan-rekan mereka secara aktif dan efektif.
  • Membantu guru membuat kelas berjalan dengan efektif.

Selanjutnya, kelas berdiferensiasi memberikan ekspektasi bahwa guru akan

  • Mempelajari siswanya secara konsisten agar bisa mengajar mereka dengan lebih efektif.
  • Menciptakan komunitas di kelas secara sengaja dan eksplisit.
  • Memberikan pendampingan untuk individu, kelompok kecil, dan kelas secara keseluruhan secara teratur.
  • Menggunakan pengelompokan siswa yang fleksibel.
  • Mengatasi kebutuhan kesiapan, minat, dan profil belajar setiap pelajar.

Tata letak furnitur dan denah lantai

Kita bisa membuat beberapa keputusan tentang tata letak furnitur dan denah lantai kelas yang secara langsung menunjang ekspektasi siswa dan guru di atas. Dua pertanyaan berguna yang harus diajukan guru saat guru mempertimbangkan tata letak furnitur dan denah lantai adalah (1) Apa saja opsi yang tersedia untuk saya? dan (2) Mana dari opsi saya yang paling sesuai dengan tujuan yang saya miliki untuk diri saya dan siswa saya? Berikut adalah beberapa panduan yang bisa diikuti saat Anda mempertimbangkan furnitur dan denah lantai kelas Anda.

  • Jika memungkinkan, pilih untuk menggunakan meja biasa—atau meja biasa dan meja tulis individu—alih-alih hanya meja tulis individu saja. Deretan meja tulis yang lurus tidak akan banyak membantu atau memudahkan kolaborasi penting. Jika tidak ada opsi untuk mendapatkan furnitur baru, banyak sekolah dan distrik yang memiliki tempat penyimpanan berisi furnitur bekas yang tidak lagi digunakan. Meja bekas bisa dengan mudah ditutupi menggunakan papan poster atau kertas tebal untuk membuat furnitur paling apik di sekolah.
  • Pertimbangkan untuk menata empat hingga delapan kursi atau meja tulis dalam satu area ruangan. Terlepas dari kecenderungan umum untuk lebih memilih meja biasa daripada meja tulis, area “belajar mandiri” semacam ini bermanfaat bagi siswa yang perlu mengerjakan tugas tertentu sendiri, yang mengalami hari yang buruk, yang sempat absen dan perlu mengejar pekerjaan yang tertinggal, atau yang sedang bergulat dengan perasaan mereka dan perlu menjaga jarak untuk sementara waktu dari teman sebaya mereka.
  • Atur ruangan sedemikan rupa agar Anda bisa leluasa berjalan dengan mudah di antara para siswa. Penting bagi siswa untuk merasakan kehadiran Anda dan juga penting bagi Anda untuk mengamati siswa saat mereka bekerja. Ini juga memungkinkan Anda menjangkau siswa dengan mudah saat mereka membutuhkan pendampingan.
  • Atur area tempat duduk senyaman mungkin (termasuk tempat duduk berkarpet untuk siswa yang lebih muda) dimana siswa bisa merasa mereka ada/duduk di “ruang pribadi” mereka (privasi, kenyamanan, dan fleksibilitas terjaga). Saat siswa duduk terlalu berdekatan dengan satu sama lain, beberapa siswa mungkin akan mulai merasa terancam. Beberapa lagi memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk “menjangkau dan menyentuh seseorang” yang bisa menimbulkan masalah yang tidak diinginkan. Di sisi lain, beberapa siswa mengaku bahwa kedekatan fisik dengan teman sebaya ini menguntungkan mereka saat mereka bekerja. Seperti kebanyakan elemen lainnya, perencanaan fleksibilitas untuk memenuhi berbagai kebutuhan ini bersifat esensial.
  • Posisikan meja Anda (guru) di area kelas yang terpencil (yang jarang dilalui atau diakses siswa misalnya di ujung kelas), bukan di depan dan di tengah-tengah kelas. Opsi terakhir (tengah-tengah kelas) memakan tempat yang banyak dan penekanan tempatnya jatuh di tempat yang salah (harusnya yang di tempat duduk siswa bukan meja tulis guru). Dalam kelas berdiferensiasi yang berjalan dengan efektif, meja tulis guru tidak akan sering digunakan!
  • Buat beberapa rancangan tata letak furnitur yang bisa menunjang berbagai tugas dan bermanfaat bagi diskusi seluruh kelas, pekerjaan bersama kelompok kecil (berpasangan, bertiga, dan berempat), dan pekerjaan individu.
  • Buat satu rancangan tata letak yang bisa mendorong diskusi antar siswa. Tata letaknya kemungkinan akan berbentuk huruf U, lingkaran, dan dua buah bentuk setengah lingkaran yang saling berhadapan. Deretan meja tulis yang lurus dan teratur yang menghadap guru lebih cocok untuk orang situasi yang sedang berbicara dengan siswa daripada situasi siswa berbicara dan mendengarkan satu sama lain. Dengan siswa yang lebih muda, kebutuhan ini sering dipenuhi dengan menggunakan ruang khusus di mana semua orang bisa duduk di atas karpet untuk mendengarkan arahan atau saling bertukar pikiran.

*Maksud untuk kalimat yang bergaris bawah: deretan meja tulis yang konvensional (kelas pada umumnya), jadi situasinya seperti kelas belajar mengajar (guru menjelaskan dan siswa mendengarkan) daripada situasi siswa berbicara dan mendengarkan satu sama lain (misalnya deretan mejanya dibuat hadap hadapan/saling tatap muka seperti bentuk dua setengah lingkaran)

  • Coba melengkapi sebagian besar ruangan dengan rak, lemari, rak kompartemen, kotak surat, atau furnitur lain yang memungkinkan Anda untuk menyimpan berbagai bahan, persediaan, dan hasil siswa. Cari rak bekas jika perlu, dan minta siswa untuk membantu mengecatnya. Rak yang terbuat dari batu bata, batu beton, dan plang juga tidak masalah!
  • Pikirkan lokasi area “khusus”, seperti ruang lab sains, spot untuk mendengarkan (dilengkapi dengan kaset, pemutar CD, iPod, dll.), pusat komputer, dan pusat pembelajaran/minat. Jika area ini akan sangat sering digunakan, dan jika siswa perlu menggunakannya secara mandiri atau dalam kelompok kecil, maka area ini harus terlihat jelas oleh Anda setiap saat namun tidak terlihat oleh siswa yang tidak menggunakannya.

Dinding dan papan buletin

Elemen-elemen lingkungan ini memiliki tujuan ganda. Keduanya bisa membuat kelas menjadi lebih baik dan juga bisa berkontribusi besar terbadap kemandirian dan kesuksesan pelajar. Citra kelas umumnya cenderung berupa dinding kosong dan papan buletin yang penuh dengan potongan gambar yang didapat dari guru—yang tentunya tidak banyak membantu kesuksesan siswa atau membuat kelas tampak lebih berorientasi pada pelajar. Pertimbangkan saran-saran berikut ini saat kalian mempertimbangkan ruang dinding dan papan buletin di kelas.

  • Jika Anda akan menggunakan bagan tugas siswa sebagai sumbernya, pastikan untuk menyediakan area yang besar dan mudah terlihat oleh orang saat memasang bagan ini. Pastikan bagan ini sudah cukup besar untuk bisa dilihat siswa dari sisi mana saja di kelas.
  • Tentukan beberapa area dinding atau papan buletin yang diperkirakan akan berisi informasi tentang tugas pokok—mis., kriteria sukses, sumber daya yang disarankan, tenggat waktu, dan pengingat.
  • Pertimbangkan untuk membuat “papan petunjuk” atau “kartu petunjuk” di mana siswa bisa menampung catatan pengingat tentang cara melakukan sesuatu yang mungkin siswa lupakan. Misalnya, jika siswa pernah belajar haiku (puisi pendek ala Jepang) bulan lalu dan sekarang mereka akan menulis haiku untuk mengungkapkan perasaan mereka tentang sesuatu yang mereka pelajari di kelas sains, maka papan/kartu petunjuknya mungkin akan berisi, selain beberapa ilustrasi, elemen-elemen haiku. Papan petunjuk dan kartu petunjuk ini membantu siswa bekerja secara mandiri dan dengan demikian, akan menghemat waktu guru saat dia memberikan pendampingan pada individu dan kelompok kecil. Gambar 4.4 menjelaskan contoh materi yang mungkin bisa ditambahkan dalam kartu petunjuk.

*Lihat Gambar 4.4 di sini (Contoh Kartu Petunjuk)

  • Tentukan area yang akan berisi beberapa contoh karya siswa yang berkualitas dari tahun-tahun sebelumnya untuk tugas yang sedang berlangsung. Dalam kelas berdiferensiasi, mungkin perlu menambahkan contoh lain dengan berbagai tingkat kompleksitas untuk satu tugas—dalam hal kesiapan atau cara mengungkapkan yang berbeda (saat siswa memiliki opsi untuk mengekspresikan pekerjaan mereka dengan berbagai cara). Semua contoh harus memenuhi kriteria sukses. Area ini juga harus berisi serangkaian intruksi atau penjelasan atau cara lainnya untuk membantu siswa memahami mengapa contoh yang ditampilkan adalah sesuatu yang patut dicontoh.
  • Tentukan area yang akan menampilkan contoh karya siswa yang berkualitas yang dipasang secara menarik dan akan selalu berubah-ubah (baik pekerjaan individu maupun kelompok) yang baru saja diselesaikan.
  • Tentukan beberapa area dinding yang akan sengaja dibiarkan kosong. Gunakan area ini untuk menciptakan ruang bagi siswa yang mungkin tertanggu oleh penggunaan foto atau gambar, dan yang akan lebih berkonsentrasi jika melihat dinding yang “polos”.
  • Coba cari area dinding, papan buletin, atau rak di mana Anda dan siswa bisa menempatkan objek dan bahan yang menurut Anda menarik secara pribadi, atau di mana siswa dan prestasi mereka dapat ditampilkan. Gambar 4.5 menunjukkan satu contoh area yang diciptakan oleh guru dan menampilkan siswa sepanjang tahun ajarannya. Guru SMP yang menciptakan ide ini menggunakan satu papan buletin untuk menyoroti lima siswa setiap minggunya. Dia mengajar sekita 150 siswa dan setiap bulan, dia meminta sekitar 20 siswa untuk melengkapi templat (template) “Inilah Orang Yang” bersamaan dengan beberapa foto yang bersangkutan (menyiapkan papan membutuhkan tidak membutuhkan waktu yang lama karena siswalah yang melakukan sebagian besar pekerjaan itu). Dia meminta siswa untuk memasang templat dan foto mereka di karton berwarna cerah dan saat giliran siswa untuk ditampilkan dalam papan buletin selesai, guru akan mengembalikannya pada siswa dan mendorong siswa menunjukkannya pada orang tua, kakek, atau seseorang yang berarti untuk mereka. Dia menambahkan, “Tolong sampaikan bahwa saya berterima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk mengajar kalian”. Papan tersebut sangat populer di kalangan siswanya, dan sebagian besar siswa senang membaca informasi tentang teman-teman mereka yang ditampilkan di papan.

*Maksud untuk kalimat yang bergaris bawah: proses pengisian informasi di papannya tidak membutuhkan waktu yang lama karena sebelumnya sudah diberikan templat untuk diisi siswa (siswa yang mengisi sendiri, guru memberikan templat “Inilah Orang Yang”)

Bahan, persediaan, dan rak kontainer/wadah

Sama halnya seperti penggunaan furnitur, area lantai dan dinding sangat penting untuk mempermudah kesuksesan pelajar dan menunjang fleksibilitas di kelas, perencanaan penempatan bahan, persediaan, dan elemen pengorganisasian yang cermat juga bisa membantu mencapai tujuan ini. Ide pokoknya adalah untuk memberikan siswa akses ke apa pun yang mereka butuhkan saat mereka bekerja dengan cara memaksimalkan efisiensi dan meminimalkan gangguan. Dengan merancang elemen-elemen ini sebelumnya sekaligus mempertimbangkan kesuksesan siswa, guru memberikan kontribusi pada pemahaman setiap siswa tentang kompetensi individu dan kelompok. Pertimbangkan saran-saran berikut ini saat Anda memikirkan bahan, persediaan, dan rak kontainer/wadah di kelas.

*Lihat Gambar 4.5 di sini

  • Simpanlah bahan dan persediaan yang akan sering digunakan (mis., buku, kertas, spidol/krayon, penggaris, perlengkapan lab, headphone) di tempat yang mudah diakses oleh siswa—tanpa harus berjalan melewati area kerja—dan bisa dilihat guru. Jika perlu, manfaatkan lebih banyak area “terpencil” di kelas untuk menyimpan bahan atau persediaan yang jarang digunakan oleh siswa atau hanya sedikit siswa yang menggunakannya.
  • Simpan bahan dan persediaan yang seharusnya tidak tersedia untuk siswa di tempat yang susah dijangkau atau diakses oleh siswa—misalnya, rak atau lemari tinggi, lemari arsip, atau tempat penyimpanan di belakang meja guru. Pastikan untuk menandai area ini sebagai area terlarang untuk siswa. Bahan-bahan ini mungkin termasuk perlengkapan yang akan dibutuhkan guru, persediaan untuk kelompok siswa yang akan datang, atau bahan yang akan digunakan untuk beberapa siswa berkebutuhan khusus pada suatu waktu sepanjang tahun ajaran.
  • Gunakan tempat sampah, bak, atau kotak yang memungkinkan untuk menyimpan persediaan secara beraturan dan rapi daripada menyerak-nyerakkannya di meja atau rak.
  • Tentukan dan namai area-area di ruangan yang akan digunakan untuk pengumpulan pekerjaan atau PR siswa saat mereka sudah menyelesaikannya. Di kelas SD, di mana guru mengajar banyak mata pelajaran, guru memiliki kotak atau nampan yang berbeda untuk setiap mata pelajaran. Gunakan ikon dan/atau kode warna untuk mempermudah siswa mengetahui di mana mereka harus meletakkan pekerjaan mereka jika mereka baru saja belajar cara membaca atau jika ada siswa ELLs (English Language Learners—siswa yang sedang mempelajari Bahasa Inggris dan bahasa ibunya bukan Bahasa Inggris) di kelas.
  • Minta siswa menggunakan map berkas untuk menata pekerjaan yang masih “dalam proses” (mis., daftar periksa berisi pekerjaan yang sudah diselesaikan, keterampilan yang sudah dikuasai, dan buku yang sudah dibaca). Ada baiknya menandai map-map berkas ini dengan warna yang berbeda karena guru mengajar banyak kelas. Misalnya, tuliskan nama siswa di map berkas berwarna biru untuk siswa dari jam pelajaran pertama, map berkas warna hijau untuk siswa dari jam pelajaran kedua, dan seterusnya. Ada baiknya juga menggunakan kotak atau peti berwarna untuk setiap kelas di mana map berkas akan disimpan dan dikembalikan ke tempatnya semula.
  • Tentukan area dalam ruangan di mana siswa bisa menjumpai anchor activities (kegiatan anchor—proyek atau tugas yang dikerjakan saat siswa memiliki waktu luang seperti dikerjakan saat mereka datang ke kelas lebih awal atau saat mereka menyelesaikan kegiatan kelas lebih awal).
  • Sediakan lebih dari satu buah rautan pensil dan tempat sampah di kelas dan pastikan keduanya ada di area yang mudah dijangkau siswa tanpa mengganggu teman lainnya, atau sediakan pensil yang sebelumnya sudah diraut dan tempatkan ke dalam cangkir atau kotak jadi siswa tidak perlu menggunakan rautan pensil.

Penetapan penggunaan furnitur, denah lantai, area dinding, papan buletin, bahan, persediaan, dan rak kontainer kelas akan sedikit berbeda antar kelas, mata pelajaran, dan sekolah, serta dengan rasa percaya diri guru. Akan tetapi, masalah ini tidak hanya bersangkutan dengan kelas yang lebih rendah. Dari prasekolah hingga SMA, guru yang paling efektif adalah guru yang dengan bijaksana memanfaatkan setiap sumber daya yang dia miliki untuk memaksimalkan efisiensi dan efektivitasnya sendiri—dan juga siswanya. Di Bab 5 dan 6, kita akan membahas cara-cara di mana rutinitas kelas memungkinkan fleksibilitas dan memperluas pertumbuhan akademik. Bab 5 akan membahas rutinitas yang bisa mempersiapkan siswa untuk belajar di kelas berdiferensiasi dan Bab 6 akan membahas rutinitas penting setelah siswa mulai belajar di kelas berdiferensiasi.

(Bagus Priambodo/Sumber terjemahan: Chapter 4– Leading and Managing A Differentiated Classroom – Learning Environment: Setting the Stage for Academic Success by Carol Ann Tomlinson and Marcia B. Imbeau/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image) 

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)