Topik:

5 Strategi Membiasakan Anak Menulis dan Menjadi Kreatif

Minggu, 24/01/2021 WIB   1173
b2b4f431216a8460d8e5f7f44ccf681a273262f84cb6c1422aa97319be21

Berbagai kajian telah menunjukkan bahwa aktivitas menulis dapat melatih daya kritis dan kreativitas seseorang. Namun, untuk mengajak anak terbiasa menulis diperlukan upaya terus menerus dan tak berhenti pada pendidikan formal saja.

Untuk membiasakan anak menulis, berbagai strategi dapat diterapkan. Berikut adalah beberapa tips atau strategi yang dikutip dari edutopia.org.

Menulis ‘Saya penasaran dengan…

Di sekolah dasar Crellin di Oakland, negara bagian Maryland, Amerika Serikat, para gurunya selalu mengajak para siswa untuk menulis dengan tema “Saya penasaran terhadap…”

Dalam rutinitas tersebut, setiap kali anak diajak mengunjungi tempat-tempat tertentu untuk belajar bersama, mereka kemudian ditantang untuk menuliskan hal-hal menarik yang mereka lihat atau temukan. Mereka juga diminta untuk menulis hal-hal yang membuat mereka penasaran dari obyek tersebut.

Misalnya, ketika anak diajak untuk belajar di taman, mereka akan diminta menuliskan hal-hal yang membuat mereka penasaran yang mereka temui di taman tersebut. Misalnya, bagaimana lebah mengumpulkan maduh dari bunga, dan lain sebagainya.

Setelah para siswa menuliskan hal-hal yang membuat mereka penasaran, tentu akan menjadi tugas bagi guru untuk selanjutnya menjelaskan hal tersebut. Bagi guru, kegiatan ini dapat membantu untuk merencanakan pembelajaran berikutnya.

Dana McCauley, kepala sekolah di sekolah tersebut mengatakan, rasa penasaran akan selalu mendorong orang untuk berpikir di luar kotak (out of box), dan lama kelamaan akan mendorong mereka menjadi pemikir kritis.

Menulis catatan perjalanan belajar

Catatan perjalanan belajar adalah salah satu jenis tulisan yang dibuat berdasarkan pengalaman pribadi setiap siswa dalam memahami materi yang diajarkan di kelas. Hal ini pun sudah dibiasakan terhadap para siswa di sekolah Normal Park Museum Magnet di Chattanooga, negara bagian Tennessee, Amerika Serikat.

Dalam membuat catatan perjalanan belajar tersebut, para siswa diberi kebebasan untuk menceritakan bagaimana mereka memahami sebuah subyek dengan gaya menulis perjalanan. Di sini, anak-anak tersebut bebas menggunakan chart, gambar, dan kalimat-kalimat yang merefleksikan bagaimana mereka mempelajari sebuah topik.

Sebagai contoh yang diterapkan di sekolah tersebut, seorang guru yang mengajarkan ilmu tentang bumi, meminta para siswanya untuk menulis sambil membayangkan bahwa mereka adalah seorang penjelajah yang sedang mencari dunia baru yang dapat dihuni spesies manusia. Dalam menulis itu, mereka diminta untuk memanfaatkan semua pengetahuan yang telah mereka terima dari topik-topik sebelumnya, misalnya bagaimana roket dapat menjangkau planet-planet yang jauh dari bumi.

Menulis ringkas.

Ide menulis lainnya adalah menulis ringkas. Dalam kegiatan ini, siswa ditantang untuk menulis apapun yang mereka ketahui atau ingin mereka ketahui dalam tulisan-tulisan singkat.

Dalam kegiatan ini, para siswa dibebaskan untuk menulis dengan kemampuan, pengetahuan, dan imajinasi yang mereka miliki. Maksudnya, mereka tak perlu takut salah menggunakan kata atau kalimat. Intinya dalam kegiatan ini, siswa hanya diminta menyampaikan gagasannya tanpa harus khawatir disalahkan atau gagasannya ditertawakan.

Majalah

Ide menulis yang tak kalah menarik lainnya diterapkan di kelas matematika di sebuah sekolah bernama Alessandra King. Di kelas tersebut, para siswa diminta untuk membuat majalah yang isinya adalah artikel-artikel mengenai aplikasi matematika dalam dunia nyata.

Untuk setiap artikel, mereka mengambil sumber utama dari jurnal Scientific American. Dari jurnal tersebut, mereka membaca tentang sebuah topik, lalu meringkasnya untuk dimuat dalam majalah.

Dengan metode ini, para siswa tak hanya dicekoki dengan teori-teori atau rumus dari dalam kelas, tetapi juga membandingkannya dengan kehidupan nyata.

Creative writing

Model tulisan lain yang dapat dipraktikkan dalam kelas adalah creative writing. Dalam bentuk tulisan ini, siswa diminta untuk berimajinasi dan menuliskan pengetahuan mereka mengenai obyek tertentu, dengan gaya bercerita. Karena gaya yang dipakai adalah gaya bercerita, maka siswa akan sebanyak mungkin bermain dengan deskripsi saat menjelaskan apa yang mereka lihat, mereka rasakan, mereka dengar, mereka cium, dan lain sebagainya.

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)