Topik:

Kunci Sukses Menerapkan Cara Belajar Hybrid di Era New Normal

Senin, 05/04/2021 WIB   7332
Boy and girl studies at home, wear protective masks, and doing school homework. Distance learning online education.

Cara belajar hybrid yang memadukan pembelajaran online dengan pembelajaran tatap muka langsung sebaiknya dapat diterapkan untuk memastikan agar physical distancing dapat terlaksana dengan baik demi mencegah penularan Covid-19 di antara para siswa dan guru. Apalagi bila sekolah kembali dibuka, jumlah ruang kelas yang tersedia kemungkinan tak akan sebanding dengan jumlah siswa yang dapat mengikuti pembelajaran luring (luar jaringan) dengan menerapkan physical distancing.

Pengalaman belajar secara hybrid telah diterapkan di oleh banyak pendidik. Salah satunya Paula Diaz, seorang guru SD di Texas, Amerika Serikat.

Selama setahun terakhir ini, pandemi telah membentuk caranya mengajar. Ketika sekolahnya sepenuhnya menerapkan pembelajaran online, Paula harus mempelajari strategi agar siswanya tetap termotivasi dan terlibat (tetap fokus dan ikut aktif berkegiatan) di belakang komputer.

Sekarang sekolahnya memiliki siswa yang belajar secara online dan secara langsung. Sehingga dia harus belajar cara mengajar kedua cara pada saat yang bersamaan. Bagi Paula, penting bagi siswa untuk mengetahui bahwa kita semua mempelajari tentang normal baru ini bersama-sama. Guru membantu satu sama lain dengan berkolaborasi dalam menemukan sumber daya yang sesuai untuk semua siswa.

Dikutip dari edutopia.org, berikut adalah sejumlah tips yang bisa dibagikan Paula Diaz dalam mewujudkan cara pembelajaran hybrid yang sukses.

Format baru untuk kelompok kecil

Karena peraturan jarak sosial dan karena sekolahnya perlu mendokumentasikan kontak dekat jika ada anak di kelas yang terjangkit Covid-19, siswa harus tinggal di tempat yang sama di kelas. Paula pun memanfaatkan aplikasi Webex untuk dapat memindahkan kelompok-kelompok kecilnya ke sesi breakout (sesi di mana siswa dibagi menjadi beberapa grup diskusi atau presentasi kecil untuk mempelajari topik berbeda yang menjadi bagian dari diskusi/presentasi utama) dan menggabungkan siswa online dengan siswa secara langsung sehingga mereka dapat bekerja sama.

Saat mulai menggunakan Webex, Paula menemukan fakta bahwa siswa hanya ingin bermain. Jadi Paula harus menetapkan beberapa aturan.

“Ini telah menjadi alat yang hebat karena memungkinkan saya memiliki grup-grup yang fleksibel. Kadang-kadang saya bahkan membiarkan Webex membentuk grup, dan para siswa selalu bersemangat untuk melihat dengan siapa mereka akan bekerja. Saya berencana menggunakan Webex selama kita perlu menjaga jarak secara sosial,” tulis Paula di laman tersebut.

Video untuk pembelajaran

Paula suka membuat video untuk mengajarkan pelajaran. Ketika di kelas, dia memutar video dan menjedanya untuk sesi pertanyaan. Dia kemudian menemukan fakta bahwa siswanya kemudian berinisiatif memutar ulang video untuk meninjau sesuatu saat mereka bekerja secara mandiri (memutar ulang video untuk memahami sesuatu/konten yang belum begitu difahami sebelumnya).

“Video juga merupakan sumber yang berguna saat siswa tidak hadir atau jika orang tua ingin memahami cara kami bekerja di kelas. Saya akan terus menggunakan strategi ini bahkan ketika semuanya kembali normal karena video memungkinkan siswa saya untuk memiliki akses ke pelajaran saya kapan saja,” tuturnya.

Kolaborasi luring dan daring

Paula menggunakan juga Google Jamboard, sebuah sistem interaktif dari Google yang memungkinkannya dapat membuat slide untuk setiap grup dan menjelaskan tentang tugasnya.

Dalam menggunakan Google Jamboard, dia dapat meminta siswanya yang mendapatkan giliran belajar secara online, untuk bekerja sama secara realtime dengan sebagian siswa yang mendapatkan giliran belajar di kelas.

Cara lain untuk membuat kelompok bekerja sama adalah dengan membuat presentasi Google Slide atau Google Docs.

“Dengan demikian siswa dapat bekerja sama, dan saya dapat memeriksa pekerjaan mereka saat mereka memproduksinya. Saya berencana untuk terus menggunakan alat ini serta mengombinasikannya dengan kertas dan spidol asli di masa mendatang (kegiatan pembelajaran selanjutnya). Saya kira, siswa-siswa saya perlu membiasakan diri bekerja dengan alat (media-media) kolaboratif agar lebih memenuhi syarat untuk pekerjaan di masa depan (memiliki kualitas mumpuni dalam bersaing di dunia kerja, yang tentunya menuntut adanya kecakapan kolaborasi antar individu baik melalui media online maupun tatap muka langsung),” tuturnya.

Paula juga membuat aktivitas yang memungkinkannya memberi siswa-siswanya yang mendapat giliran belajar secara online, berbagai bentuk digital atau penghitung yang dapat mereka pindahkan (dapat diunduh dan dapat dipelajari secara luring serta dipraktikkan berulang kali melalui aktivitas tertentu di rumah masing-masing). Dengan demikian para siswanya masih dapat memiliki gerakan kinestetik (bisa melakukan gerakan-gerakan) yang dibutuhkan otak untuk lebih memahami apa yang mereka pelajari.

Dengan cara-cara ini, dia pun memastikan bahwa siswa-siswanya, baik yang belajar secara virtual maupun yang mengikuti pembelajaran di kelas, mendapatkan perlakuan dan ilmu yang sama.

(Bagus Priambodo/Sumber: Edutopia/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Edutopia & Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)