Topik:

Kreatif Menulis saat di Bawah Tekanan

Sabtu, 02/01/2021 WIB   871
stress-can-have-alarming-effects-on-kids1280x960

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Untaian kata di atas ditulis oleh sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu bukunya yang masuk dalam Tetralogi Pulau Buru. Kalimat-kalimat dengan kedalaman makna tersebut, dirangkai Pram ketika dalam pengasingan di Pulau Buru.

Pram adalah salah satu dari sekian banyak sastrawan yang semakin produktif ketika berada di bawah tekanan. Masih banyak penulis-penulis besar lainnya yang melahirkan karya-karyanya dalam situasi pahit, yakni ketika dia dibuang, terisolir, hingga dirundung penyakit.

Xavier de Maistre misalnya, menulis buku berjudul A Journey Around My Room ketika dia berada di dalam tahanan. Penulis yang hidup di akhir abad ke-18 itu menulis tentang dunia kecil di dalam ruang tahanan tempatnya menghabiskan waktu selama 6 pekan karena terlibat perkelahian.

Lalu, belum lama ini, seorang perempuan penyintas Covid-19, Wulan Salimah, berhasil menerbitkan buku berjudul Kamar 306. Buku itu bercerita tentang kisahnya ketika harus dikarantina di ruang isolasi karena dinyatakan positif Covid-19. Buku ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para penyintas Covid-19 untuk tetap berpikiran positif dan tak takut pada keadaan.

Para penulis yang melahirkan karyanya di tengah tekanan itu tentu memiliki cara bertutur serta pengalaman hidup yang berbeda. Tekanan yang dihadapi seorang penulis, bisa jadi lebih berat atau lebih ringan dibandingkan penulis lainnya. Namun kesamaan mereka ialah mereka menolak untuk menyerah pada keadaan. Fisik mereka mungkin terpenjara, tetapi tidak dengan kreativitas dan imajinasi mereka.

Nah, di masa pandemi seperti saat ini, setiap anak tentu merasakan mengalami tekanan yang berbeda satu sama lain. Ada yang senang karena bisa menghabiskan lebih banyak waktu di rumah sambil menonton televisi bersama orangtua, namun ada juga yang bosan setengah mati dan rindu bermain bersama teman-temannya kembali.

Dalam berbagai pengalaman yang berbeda-beda itu, guru dapat hadir untuk memancing kreativitas mereka lewat tulisan. Guru dapat melatih anak-anak untuk belajar menuliskan pengalaman mereka selama pandemi dan belajar serta bermain di rumah. Dengan menulis, anak akan dilatih untuk berani mengemukakan gagasannya, membangun logika dan kreativitas, serta berkomunikasi secara terstruktur. Sebagai bonus, anak-anak akan memiliki waktu yang produktif di tengah situasi yang menjemukan ini.

Keberanian mengemukakan gagasan, keterampilan membangun logika dan kreativitas, serta berkomunikasi secara terstruktur, semua itu bisa menjadi modal yang istimewa bagi mereka untuk menjalani kehidupan mereka selanjutnya.

Seperti kata Pram, kepandaian akan jadi sia-sia bila seseorang tak menulis dan menyimpan kepandaiannya hanya untuk dirinya sendiri. Dan, keterampilan menulis itu ada baiknya dilatih sejak dini, sejak seorang masih kanak-kanak. Jadi, inilah saatnya untuk mengajak anak-anak menulis.

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)