Topik:

Kiat Sukses Menerapkan Writing to Learn dalam Kelas Virtual

Minggu, 03/01/2021 WIB   494
writing-pe

Meski telah banyak penelitian yang mengkaji model pembelajaran Writing to Learn (WTL) atau menulis untuk belajar, nyatanya di Indonesia model pembelajaran seperti ini belum banyak diterapkan. Padahal, apabila ini diterapkan sejak lama, maka kegiatan belajar dari rumah karena tekanan pandemi Covid-19, akan terasa lebih mudah. Apalagi, menurut penelitian WTL sangat efektif dilakukan dalam berbagai bentuk kelas, baik kelas jarak jauh maupun kelas besar.

Dikutip dari Brown Education, dalam model belajar Writing to Learn, hal utama yang ingin diraih adalah pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan oleh guru. Sedangkan kemampuan menulis yang terus terasah, adalah bonusnya.

Sedangkan bagi para guru, dengan menerapkan WTL, guru dapat melihat apakah ada gap dalam pemahaman pengetahuan antarsiswa terkait materi pembelajaran.

Nah, untuk menerapkan ini, guru tak perlu menunggu hingga sekolah kembali dibuka. Hanya saja, persoalannya, bagaimana model pembelajaran seperti ini dapat dilakukan ketika anak-anak terpaksa belajar dari rumah dengan bantuan perangkat video-conference?

Seperti dijelaskan sebelumnya, WTL dianggap efektif untuk diterapkan baik dalam pembelajaran tatap muka maupun pembelajaran jarak jauh. Khusus dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh dengan perantaraan internet, berikut adalah beberapa kiat yang bisa dicoba untuk menerapkannya. Kali ini, anggap saja pembelajaran dilakukan menggunakan bantuan aplikasi Zoom, Webex, Google Meet, maupun aplikasi lainnya yang sejenis.

Pertama, berikan kepada para siswa paragraf singkat mengenai materi yang akan atau sedang dipelajari, lalu mintalah mereka untuk melakukan parafrase atau menuliskannya ulang dengan bahasa mereka sendiri. Di akhir penugasan, nantinya guru akan mendapatkan banyak pernyataan dari para siswa yang menunjukkan apakah terjadi gap yang lebar atau tidak, dalam hal pemahaman siswa.

Kedua, sebelum diskusi kelas, beri siswa tiga sampai lima menit untuk menulis bebas. Guru dapat memberi mereka petunjuk khusus yang berkaitan dengan bacaan, atau mungkin meminta mereka menghasilkan pemikiran, reaksi, atau pertanyaan yang berkaitan dengan bacaan. Beri siswa kesempatan untuk mencatat pemikiran mereka dalam metode apa pun yang mereka inginkan, misalnya dalam bentuk paragraf, outline, maupun peta konsep, dan lain sebagainya.

Ketiga, jika guru merasa bahwa diskusi mulai keluar dari topik, jeda diskusi dan beri siswa tiga hingga lima menit untuk meletakkan pemikiran mereka secara tertulis. Izinkan mereka untuk memposting pemikiran ini ke papan diskusi Canvas sehingga mereka dapat melanjutkan diskusi di luar topik di luar waktu kelas. Setelah mereka selesai menulis, fokuskan kembali perhatian mereka pada topik diskusi yang relevan.

Keempat, di akhir diskusi kelas, berikan waktu tiga sampai lima menit kepada siswa untuk menulis bebas. Sebuah petunjuk yang berguna mungkin meminta mereka untuk menulis tentang satu hal yang membuat pikiran mereka berubah selama berlangsungnya diskusi, atau satu hal yang ingin mereka ketahui lebih banyak. Guru mungkin juga merasa perlu memberi siswa kesempatan untuk mencatat pemikiran mereka dalam metode apa pun yang mereka inginkan (misalnya, dalam paragraf penuh, dalam garis besar, dalam peta konsep, dan lain-lain.). Siswa dapat menyimpan tulisan ini untuk diri mereka sendiri; mereka dapat mempostingnya ke papan diskusi Canvas kelas; atau guru dapat mengumpulkan tulisan-tulisan itu dan mengembalikannya pada awal pembahasan berikutnya.

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image dan https://pxhere.com)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)