Topik:

Keliru dalam Mendidik, Masa Depan Terdidik Taruhannya

Kamis, 18/11/2021 WIB   307
keliruy

Proses pendidikan jarak jauh telah melalui tahapan kembali menjadi kegiatan tatap muka. Beberapa sekolah sudah mulai melaksanakan proses belajar kembali di ruang kelas. Harus ada yang berubah! Desain pembelajaran, inovasi, dan membuka ruang berpikir dengan keselarasan kemajuan teknologi informasi. Yang tidak boleh berubah adalah, fokus perhatian kita pada tujuan Pendidikan.

“Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Ini berarti, proses pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.”

Pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut mengingatkan kepada kita bahwa proses Pendidikan generasi tidak hanya terfokus pada kecerdasan akademis, tetapi sisi afektif, motorik, dan spiritual juga menjadi bagian penting dalam mengawal generasi.

Kalimat hikmah dalam bahasa Arab juga mengingatkan pentingnya sebuah proses pendidikan dalam kalimat indah kepada kita, ”Belajarlah dari kandungan hingga ke liang lahat”.

Jika pendidikan adalah sebuah proses dari kandungan hingga ke liang lahat”, maka kalimat penuh hikmah ini, dengan sengaja menyampaikan kepada kita, bahwa tugas dan tanggung jawab Pendidikan sesungguhnya menjadi bagian mendasar dari sebuah proses pola pengasuhan keluarga.

Ups! Bagi ayah bunda dan semua anggota keluarga! Jangan merasa berat dan beban dulu ya! Apalagi ayah-bunda merasa sendirian, disalahkan, karena terkadang ada pihak lain yang merasa bahwa proses pendidikan keluarga ayah-bunda kurang baik, lemah, dan tidak sempurna.  Kembali pada hakikat proses pendidikan dari kandungan hingga ke liang lahat, terkadang pihak lain tersebut hanya melihat dari beberapa titik perjalanan saja, kemudian sudah berani menyimpulkan keberhasilan atau kegagalannya. Tidak masalah! Kalimat simpulan pihak lain itu, mari kita jadikan bagian dari referensi saat kita melakukan evaluasi pola yang sudah kita terapkan pada keluarga kita.

Nah! Untuk sebuah proses Pendidikan terbaik Lembaga Pendidikan adalah sebuah “wadah alternatif” proses kolaborasi. Saya katakan “wadah alternatif” karena proses kolaborasi tersebut bisa memenuhi harapan terpenuhinya surat tanda tamat belajar alias ijazah. Bagi sebagian kecil golongan yang tidak membutuhkan ijazah, mereka pasti memiliki lebih banyak alternatif model pendidikan, yang tentu disesuaikan dengan visi-misi keluarga.

Yuk! Saudara saudariku yang bergerak di dunia Pendidikan! Beberapa pertanyaan berikut merupakan pertanyaan dasar yang bisa diajukan oleh siapa saja, khususnya para orangtua calon walimurid, teman seprofesi, Lembaga lain, dan siapa saja yang ingin tahu pemikiran kita tentang proses pendidikan.

“Apa visi misi Lembaga Pendidikan anda?”

“Siapa tokoh yang menginspirasi berdirinya Lembaga ini?”

“Mengapa Lembaga anda berbeda dari lembaga lain?

“Bagaimana upaya visi-misi Lembaga ini menjadi budaya karakter?”

“Bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan?”

“Bagaimana kualitas lulusan Lembaga ini?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak akan cukup sebagi pengingat kita, bahwa keberadaan lembaga dan siapapun yang ada di dalamnya, sedang diuji kualitas pemahaman konsep, profesionalisme, konsistensi, dan yang paling penting adalah kemampuan mengemban “Amanah”.

Saya selalu menyadarkan diri sendiri, bahwa pendidikan merupakan sebuah proses merawat jiwa, bukan sekedar menyiapkan bahan, menyuguhkan, dan kemudian tidak perlu mengetahui efek apa yang akan dialami para pendidik dan terdidik. Sebuah proses yang lebih mendekati profesi petani, memilih benih, menanam, merawat, menghadapi masalah, menciptakan solusi, hingga masa panen tiba. Proses akan berulang kembali dalam perjalanan hidup kita sebagai pendidik dan membutuhkan evaluasi atas keberhasilan sekaligus kegagalan atas apa yang kita lakukan.

“Memasak mie instan saja dibutuhkan beberapa alat, langkah terukur, sikap hati-hati, mencampur bumbu sesuai aturan dan keinginan, baru bisa dinikmati. Apalagi dengan proses Pendidikan?”

Kita para pendidik adalah jiwa yang berproses membangun perasaan, perasaan berpengaruh pada pikiran, pikiran berpengaruh pada kebiasaan, kebiasaan berpengaruh pada perilaku, perilaku menghadirkan karakter, dan karakter akan menentukan nasib.

Maka, ketika kita melakukan langkah yang kurang tepat dalam mengawal proses pendidikan, bisa jadi pengabdian kita sebagai pendidik akan bisa mengharcurkan masa depan generasi. Ini sangat disayangkan!

Oleh karena itu, memahami kondisi, melakukan observasi, perencanaan yang terbaik, menjalankan proses dalam kebaikan, saling menguatkan dan mengingatkan, adalah perilaku yang sudah seharusnya kita jadikan sebagai budaya dalam menjalankan Amanah Pendidikan.

Hal yang terkadang terlupa adalah, jawaban atas pertanyaan orang lain tentang keberadaan Lembaga kita, serasa semua visi-misi tersebut diimplementasikan hanya untuk para user atau pengguna. Sedangkan civitas akademika lain yang ada di dalamnya, bisa jadi hanya merasa sebagai penyampai informasi dan terlupa untuk membangun visi-misi lembaga sebagai sebuah budaya mencapai keberhasilan sebuah proses Pendidikan lahir dan batin.

Energi kolaborasi pendidikan digambarkan dalam peribahasa Indonesia,”guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Ini berarti semua orang saling melihat, merasa, menyimpulkan, dan tanpa terasa, saling mempengaruhi perilaku masing-masing.

Jika kita melaksanakan proses Pendidikan untuk menghadirkan generasi yang lebih baik, berbudi pekerti, cerdas dan kreatif, dan semua karakter baik yang ingin kita sematkan kepada anak-anak kita? Maka, hal mendasar yang wajib kita lakukan adalah menjadi pribadi yang selaras dengan tujuan Pendidikan.

Pada penghujung tulisan ini, saya mau mengingatkan diri sendiri dan mengajak semua penyelenggara Lembaga Pendidikan. “Kita ini sangat bahagia jika lembaga kita diminati, dipilih, apalagi diakui sebagai lembaga terbaik, favorit, kemudian masyarakat berbondong-bondong menginginkan kita sebagai tempat berkolaborasi, TETAPI setelah mereka menjadi bagian dari proses Pendidikan, kita lengah dalam Amanah dan terlupa untuk selalu berbenah”

Semoga kita bisa menjadi insan istimewa, terpilih sebagai pendamping proses pendidikan generasi yang lebih baik dan akan memimpin dunia dengan arif dan bijaksana. Amin…

(Hamdiyatur Rohmah, Praktisi Pendidikan, Pemerhati Parenting dari SAIM  (Sekolah Alam Insan Mulias) Surabaya/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

 

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)