Topik:

Kapan Model Writing to Learn Dapat Diterapkan dalam Pembelajaran?

Minggu, 03/01/2021 WIB   964
writing-instrument-accessory-writing-learning-hand-child-pe

Guru atau pendidik memiliki tujuan untuk membantu semua siswanya menguasai keterampilan-keterampilan yang diharapkan. Salah satu saran yang diberikan adalah guru menerapkan model writing to learn dalam pembelajaran agar keterampilan para siswa serta pengetahuannya benar-benar teruji. Selain itu, hal ini dapat melatih nalar kritis para siswa.

Pertanyaannya, kapan model writing to learn ini dapat diterapkan?

Dikutip dari publikasi Ontario Schools, writing to learn dapat melatih siswa untuk berpikir. Dalam hal ini, kualitas tata bahasa atau kualitas tulisan menjadi faktor nomor sekian. Yang paling penting dari kegiatan ini adalah apakah tulisan yang dihasilkan penuh dengan gagasan.

Tulisan-tulisan yang dibuat dari kegiatan writing to learn, umumnya hanya dibaca oleh penulis itu sendiri atau sifatnya privat. Namun, di kelas, tulisan-tulisan itu tidak sepenuhnya privat karena siswa dapat membagikan tulisannya itu dengan siswa yang lain atau dengan guru untuk tujuan asesmen pengetahuan, untuk mengetahui apakah ada miskonsepsi atau kebingungan.

Lantas dalam situasi yang seperti apa konsep Writing to Learn ini dapat diterapkan?

Masih merujuk pada sumber yang sama, writing to learn dapat dilakukan dalam beberapa momen. Pertama, sebelum guru membagikan materinya. Dalam hal ini, guru bisa meminta siswanya untuk menuliskan hal apa yang sudah mereka ketahui dari topik yang akan dipelajari di hari tersebut atau kalaupun mereka tidak tahu, guru bisa meminta mereka untuk menuliskan apa yang kira-kira akan dipelajari di sesi tersebut. Dalam proses belajar, kegiatan ini bisa menjadi pemanasan.

Kedua, aktivitas writing to learn dapat diterapkan di tengah-tengah proses belajar. Di sini, guru bisa kapan saja menghentikan sejenak membagikan materi yang diampu, lalu meminta para siswanya untuk menuliskan apa yang mereka tangkap dan pahami sejauh materi tersebut telah dibagikan. Siswa pun bisa menuliskan apa yang masih belum mereka pahami dan mengapa mereka kesulitan untuk memahaminya.

Ketiga, aktivitas writing to learn dapat diterapkan di akhir sesi pembelajaran. Di sini, para siswa diminta untuk menuliskan apa yang telah mereka tangkap dari materi yang diberikan dan apa pendapat mereka mengenai materi tersebut. Selain itu, para siswa juga dibebaskan untuk menyampaikan di bagian mana mereka mengalami kesulitan untuk memahami.

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image dan https://pxhere.com)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)