Topik:

Guru Seharusnya Menjadi Teladan dalam Kebiasaan Menulis

Kamis, 21/01/2021 WIB   1172
banner-home

Salah satu aktivitas yang disarankan untuk membentuk pelajar yang bernalar kritis dan kreatif adalah menulis. Dengan menulis, siswa akan terbiasa membangun sebuah gagasan sekaligus mengomunikasikannya secara runtut. Karena yang ditulis adalah ide atau gagasan, maka aktivitas menulis ini dapat diaplikasikan di semua mata pelajaran.

Namun, seperti halnya orang Jawa menganggap ‘guru’ sebagai orang yang digugu dan ditiru (dipercaya dan diikuti), maka sudah sewajarnya apabila sebelum mengajak siswanya terbiasa menulis, guru sudah harus terbiasa menulis terlebih dahulu. Dengan kata lain, guru harus bisa menjadi role model bagi siswa dalam menulis.

Menjadi role model bagi siswa dalam kebiasaan menulis, sebaiknya dilakukan oleh guru tak hanya saat dalam kelas. Lebih dari itu, teladan yang baik itu harus dilakukan setiap saat dalam keseharian guru. Apalagi, di masa kini ketika setiap orang bisa dengan mudah mempublikasikan tulisannya, maka peran guru sebagai role model dalam menulis, semakin diharapkan.

Seperti dikutip dari artikel di laman edutopia.org, guru masa kini bisa memanfaatkan blog untuk mempublikasikan tulisannya. Jennifer Davis Bowman, penulis artikel tersebut mengatakan, dia memanfaatkan blog yang dia buat untuk menulis artikel-artikel akademik. Dia lalu mengajak siswa-siswanya mengakses serta membaca artikel-artikel di blog tersebut dan mendiskusikannya. Bagi dia, ada dua keuntungan yang bisa didapat dengan model pembelajaran seperti itu. Pertama, dia memotivasi para siswanya untuk turut menulis. Kedua, cara tersebut memotivasinya sendiri untuk lebih aktif menulis.

Namun ada hal penting yang harus diingat dalam menerapkan model ini. Yaitu, guru sebaiknya menyesuaikan gaya tulisan serta bahasa yang dipakai dengan kemampuan siswa yang dimintanya untuk membaca. Seorang guru memang telah lebih dulu mengecap pendidikan yang lebih tinggi dibanding siswanya, sehingga (idealnya) kemampuan menulisnya lebih mumpuni ketimbang siswa. Walaupun demikian, guru mesti mengesampingkan hal tersebut, dan membuat tulisan yang bisa lebih mudah dicerna oleh para siswa.

Setelah siswa membaca artikel-artikel tersebut, ada baiknya guru meminta mereka untuk mempelajarinya dan menemukan elemen-elemen apa yang sebaiknya ada di dalam tulisan. Dengan kata lain, siswa harus mempelajari cara menulis sebagaimana gurunya menulis.

Kemudian, guru juga dapat membagikan apa kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam menulis artikel tersebut. Dengan demikian, guru seakan mengatakan kepada siswanya bahwa tidak ada penulis yang sempurna. Bahkan seorang guru pun bisa mengalami kesulitan yang sama seperti yang dirasakan oleh siswanya, dan ini manusiawi.

Terakhir, guru juga mesti memotivasi siswanya untuk menulis sendiri. Inspirasi mereka dalam menulis pun sebaiknya dibebaskan. Mereka berhak untuk menulis seperti yang dilakukan oleh sang guru atau menulis seperti penulis idola mereka.

Prinsipnya, dalam mewujudkan profil Pelajar Pancasila yang bernalar kritis dan kreatif, guru adalah ujung tombak. Selain dituntut melahirkan inovasi-inovasi model pembelajaran, guru juga mesti bisa menjadi role model bagi anak-anak didiknya. Karena, sekali lagi, guru adalah yang seharusnya bisa dipercaya dan ditiru.

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)