4 Strategi Menumbuhkan Kemampuan Berpikir Kritis pada Anak Usia SD dan Remaja

Sabtu, 04/12/2021 WIB   449
INDONESIA-HEALTH-VIRUS


Catatan: bila podcast pada player di atas error atau tidak terputar secara penuh, silahkan mendengarkan melalui Spotify

Menumbuhkan berpikir kritis (critical thinking) ke anak terlebih mereka yang berada di usia-usia SD (Sekolah Dasar) dan remaja, sangat memerlukan strategi (desain) yang membuat anak dan orang-orang di sekitarnya (termasuk orangtua dan guru) mampu menggapainya

Pertama, menanamkan ke diri kita semua, khususnya orang tua dan pendidik (guru) bahwa tiap anak memiliki kesempatan untuk mengatakan pada dirinya dia ‘mampu’ atau dia ‘bisa’

Dan meyakini, tiap kemampuan itu membutuhkan apa yang disebut proses. Tentu kita semua sepakat dengan hal tersebut

Jangankan anak-anak usia SD maupun remaja. Orang-orang dewasa pun masih dan selalu membutuhkan apa yang disebut proses. Lebih tepatnya proses untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu

Maka, memasukkan pemikiran bahwa aku mampu ke anak-anak khususnya usia SD maupun remaja bukan hal mudah. Hal ini disebabkan latar belakang mereka yang beragam

Guru harus peka dan jeli terhadap hal tersebut. Tidak bisa kita menyamaratakan kemampuan semua anak.

Setelah kita faham mengenai hal itu,  strategi selanjutnya (kedua) yang bisa diambil untuk menumbuhkan dan mendorong agar kemampuan berpikir kritis tumbuh dan berkembang di dalam diri anak-anak adalah menumbuhkan rasa percaya diri anak melalui kemampuan yang dimiliki oleh tiap anak.

Hal ini pastinya berbeda-beda. Oleh karenanya para pendidik yang benar-benar menghargai keunikan tiap anak dan mampu memaksimalkan kemampuan anak melalui keunikannya (potensinya) masing-masing adalah kuncinya.

Sebaiknya orangtua pun berlaku sama.

Tidak semua hal yang dapat dilakukan oleh orangtua, juga harus dapat dilakukan oleh anak-anaknya

Perbedaan jaman juga menguatkan dan sangat mempengaruhi hal tersebut. Sehingga memahami perbedaan, termasuk perbedaan antara minat dan kemampuan antara orangtua dan anak-anaknya adalah sebuah kebijaksanaan

Desain yang ketiga, memfasilitasi anak-anak dengan berbagai media yang merangsang kemampuan berpikir kritisnya.

Bisa dilakukan oleh guru dengan memberikan soal-soal cerita ke siswa-siswanya disertai berbagai informasi lengkap di dalamnya sebagai jawaban-jawabannya yang menuntut anak (siswa) untuk mencarinya dengan sabar, berulang dan jeli

Desain yang ketiga ini bila kita aplikasikan di kehidupan kita sebagai orang dewasa, kelak sangat berguna, salah satu contohnya, saat kita berada di tempat baru atau negeri orang (luar negeri)

Bila kita tidak terbiasa dan berusaha untuk membaca, memahami dan mengamati tanda-tanda (petunjuk-petunjuk) yang ada di negara tersebut untuk mencari tempat tujuan yang kita inginkan, kita akan cenderung bergantung untuk bertanya ke orang lain yang belum tentu faham juga terhadap apa yang kita tanyakan

Poinnya adalah mari bekali anak-anak dengan kemampuan literasi yang bagus atau membiasakan anak untuk mandiri sejak dini dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang ada di sekitarnya, yang salah satu caranya melalui soal-soal cerita yang dapat merangsang  kemampuan literasinya

Masuk ke desain yang keempat, banyak-banyaklah bertanya ke anak dengan pertanyaan ‘MENGAPA dan ‘BAGAIMANA’.

Melalui pertanyaan mengapa, menuntut mereka untuk memiliki banyak referensi atau bacaan

Ditambah lagi dengan pertanyaan bagaimana atau bagaimana ini bisa terjadi, mau tidak mau mereka akan menelusuri berbagai kejadian sebelumnya yang mempengaruhi adanya kejadian-kejadian yang ada saat ini, atau yang dihadapinya sekarang

Maka 2 awalan pertanyaan di atas, akan membuatnya berusaha untuk mengkonstruksi pengetahuan-pengetahuan yang didapatnya dan peristiwa-peristiwa yang ada saat ini (yang dialaminya) yang berguna baginya dalam merumuskan solusi menghadapi kejadian-kejadian (permasalahan) yang didapatnya

Meski solusi-solusi tadi bagi kita orang dewasa belum tentu sesuai, minimal mereka telah mengetahui memilih cara atau jalan yang baik bagi mereka untuk menghadapi sebuah permasalahan

Melalui 4 desain berpikir kritis di atas, maka dapat kita lihat kemampuan berpikir kritis pada anak (khususnya di jejang SD dan remaja) pada 4 faktor, yaitu:

Pertama, keberanian bertanya dan menjawab pertanyaan tanpa ragu yang didukung oleh referensi-referensi yang mereka miliki

Kedua, mereka menyimak dan melakukan suatu tugas atau proyek yang diberikan oleh gurunya dengan cara mereka sendiri (melalui caranya masing-masing) tetapi tetap sesuai dengan tujuan pembelajaran yang didesain oleh guru

Ketiga, anak-anak telah masuk ke hobi berliterasi. Minimal mereka antusias untuk mempelajari sesuatu, dan tidak mudah menyerah jika mengalami kesulitan dalam belajar

Keempat, mereka mampu dan berani mengkomunikasikan idenya dengan baik, termasuk di depan teman-temannya

Barulah kita masuk ke faktor yang kelima, menumbuhkan kemampuan berpikir kritis pada anak, tanpa meninggalkan rasa tanggungjawab pada anak

Sehingga berpikir kritis di sini menjadi 1 paket dengan pertanggungjawaban terhadap hasil  atau jawaban dari kemampuan berpikir kritisnya tadi

Dengan begitu, menumbuhkan kemampuan berpikir kritis pada anak tidak bisa dipisahkan dengan mendidik mereka menjadi pribadi-pribadi yang baik.

Salah satunya dengan mendidiknya untuk mau dan mampu mempertanggungjawabkan hasil pemikiran, perkataan dan perbuatannya (yang tentunya disesuaikan dengan usia anak tadi).

(Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)