Topik:

8 Kunci Sukses Menjalankan Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

Selasa, 23/02/2021 WIB   20877
A staff wears a face mask with a Taiwanese flag design, as protection due to the coronavirus disease (COVID-19) outbreak, at a factory for non woven filter fabric used to make surgical face masks, in Taoyuan

Pandemi Covid-19 membuat umat manusia di seluruh dunia mesti beradaptasi dengan situasi yang baru agar tetap sehat dan selamat di tengah melakukan rutinitas sehari-hari.

Model adaptasi yang dilakukan di berbagai negara berbeda-beda. Namun, faktor pengalaman dalam menghadapi situasi krisis, menjadi modal berharga. Dengan modal pengalaman itu, penanganan dampak pandemi Covid-19 di semua sektor, menjadi lebih mudah.

Seperti Taipei misalnya. Pengalaman dalam menghadapi wabah menjadi modal berharga bagi mereka untuk merancang berbagai  strategi di tengah pandemi Covid-19, termasuk di sektor pendidikan. Dampaknya, iklim pendidikan di sana tetap dapat berlangsung baik meski sejumlah kebiasaan baru diberlakukan.

Setidaknya, terdapat delapan kunci yang membuat dampak pandemi Covid-19 terhadap pendidikan di Taipei dapat diminimalkan.

Pertama, mengembangkan rencana kontinjensi. Rencana kontinjensi ini mengatur semua hal mulai dari cara menjamin keselamatan para siswa hingga memastikan hak pendidikan mereka terpenuhi. Dalam pengembangan rencana kontinjensi, otoritas pendidikan setempat serta sekolah juga berdiskusi dengan para pakar kesehatan untuk mendapat masukan mengenai apa saja yang harus diterapkan di sekolah.

Kedua, mendistribusikan sumber-sumber daya yang dapat mencegah menyebarnya penyakit. Sumber-sumber daya seperti peralatan untuk mengukur suhu tubuh, masker, dan lain sebagainya tersebut dipastikan harus tersedia di semua sekolah.

Ketiga, menciptakan tim pencegahan penyakit di sekolah untuk mendorong penerapan protokol kesehatan dan keselamatan. Tim ini juga bertugas menyebarkan cara-cara mencegah penyakit, memonitor status kesehatan para siswa dan staf di sekolah, dan melaporkan apabila ada warga sekolah yang terindikasi terjangkit Covid-19.

Keempat, memastikan tersedianya dan terdistribusikannya sumber-sumber belajar bagi semua siswa dan guru selama mereka harus menjalankan kegiatan pembelajaran dari rumah.

Kelima, menerapkan kebijakan cuti yang fleksibel bagi para orangtua yang harus mendampingi anak-anaknya belajar dari rumah. Kebijakan ini khususnya dibuat untuk orangtua dengan anak yang masih berusia kurang dari 12 tahun atau anak-anak difabel. Lewat kebijakan ini diharapkan anak-anak dapat belajar secara maksimal dengan bimbingan orangtua di rumah.

Keenam, menyediakan pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan oleh para guru agar mereka lebih siap dalam merencanakan, mendesain, serta mengimplementasikan kegiatan belajar online yang berkualitas.

Ketujuh, memonitor kondisi sosial dan emosional para guru dan siswa dengan harapan agar pandemi ini tidak meruntuhkan moral mereka sehingga tetap dapat menjalankan proses pembelajaran secara optimal.

Terakhir, mengurangi ketergantungan terhadap pertemuan tatap muka, khususnya bagi NGO yang bergerak di bidang pendidikan. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan kapasitas untuk pelaksanaan metode belajar hibrid.

Secara luas wilayah, Indonesia memang jauh lebih besar dibandingkan Taipei. Namun kita tidak bisa mengatakan bahwa apa yang diterapkan di Taipei, tidak mungkin bisa diterapkan di Indonesia yang masyarakatnya beragam dan tersebar di berbagai pulau. Selalu ada yang bisa kita pelajari, bahkan dari negara-negara maupun kota-kota kecil sekalipun. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, kita berharap Indonesia dapat segera keluar dari pandemi atau setidaknya dapat terus menjalankan roda pendidikan dengan sehat dan selamat meski pandemi Covid-19 masih mengancam. Bagaimanapun, mewujudkan masyarakat yang cerdas adalah tujuan kita bersama.

(Bagus Priambodo/Sumber: OECD/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)