Topik:

Dalam Hal Menulis, Jangan Sampai Kita Dikalahkan Robot

Jumat, 01/01/2021 WIB   1831
writing-class-shutterstock

Perkembangan teknologi terkini mendorong munculnya berbagai inovasi. Salah satunya yang terus dikembangkan hingga saat ini adalah teknologi robot atau mesin yang dapat menghasilkan artikel atau tulisan.

Di Indonesia, teknologi ini belum banyak diterapkan. Satu-satunya media online yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan ini adalah media online beritagar. Media tersebut memanfaatkan teknologi robot untuk menghasilkan artikel berita yang dapat dinikmati oleh pembaca. Meski kualitas artikelnya belum bisa dianggap lebih baik ketimbang tulisan jurnalis manusia, namun setidaknya ini sebuah terobosan luar biasa dalam dunia literasi. Bisa jadi, di masa mendatang, jurnalis-jurnalis pun akan disingkirkan oleh robot.

Keberadaan Teknologi semacam ini bukan isapan jempol. Dikutip dari theconversation.com, saat ini sebuah perusahaan telah mengembangkan program bahasa yang diberi nama GPT-3 (Generatif Pre-Trained Transformer 3). Teknologi ini memiliki kemampuan untuk mempelajari serta merangkum bahan, lalu mengolahnya menjadi artikel. Bahkan, tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh robot tersebut, diklaim sudah kaya dengan emosi sehingga tampak seolah-olah ditulis oleh penulis profesional.

Saat ini, teknologi tersebut belum dipublikasikan secara luas mengingat keberadaanya dianggap berpotensi dimanfaatkan untuk menciptakan berbagai disinformasi. Meski demikian, kehadirannya menjadi semacam alarm bahwa sudah saatnya kita memberikan porsi belajar menulis yang lebih banyak kepada para siswa, atau setidaknya memberinya secara seimbang dengan porsi kegiatan membaca. Sebab bila tidak, bisa jadi di masa mendatang, para siswa akan justru dikalahkan oleh robot.

Tentu kita tak berharap hal itu benar-benar terjadi. Untuk itu, ada beberapa model penerapan menulis untuk belajar yang dapat diimplementasikan.

Menurut Raimes (1987) dalam Suyono (2014), berdasarkan penyelidikannya terhadap para guru, pembelajaran dan kegiatan menulis bertujuan untuk memberikan penguatan, memberikan pelatihan, memimbing siswa melakukan peniruan atau imitasi, melatih siswa berkomunikasi, membuat siswa lebih lancar berbahasa, dan menjadikan siswa lebih giat belajar.

Mengacu pada hal tersebut, penerapan menulis untuk belajar pun dapat disusun. Pertama, menulis untuk memberi penguatan hasil belajar yang secara pedagogis mengarah pada penguatan pemahaman unsur dan kaidah bahasa oleh siswa melalui penggunaan bahasa secara tertulis.

Kedua, menulis untuk memberi pelatihan penggunaan bahasa yang dalam hal ini tidak terbatas pada pelatihan pengguaan bahasa dengan berbagai variasinya, melainkan juga dalam mengemukakan gagasan.

Ketiga, menulis untuk melakukan imitasi, tujuan pedagogisnya diarahkan pada upaya untuk mengakrabkan siswa dengan aspek retorik dan sintaktik dalam menulis.

Keempat, menulis untuk berlatih berkomunikasi. Dalam hal ini, siswa diajar berkomunikasi secara tertulis dalam kegiatan yang nyata. Pengalaman ini diharapkan juga berkontribusi dalam pengembangan kemampuan berkomunikasi secara lisan.

Kelima, menulis untuk meningkatkan kelancaran berbahasa. Maksudnya di sini ialah kelancaran dalam menggunakan unsur dan kaidah bahasa serta kelancaran dalam mengemukakan gagasan.

Keenam, menulis untuk belajar. Tujuan pedagogis terakhir ini sangat erat kaitannya dengan upaya pengembangan budaya belajar secara mandiri melalui membaca-berpikir-menulis.

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)