Topik:

Cara Pemerintah Norwegia Perbaiki Sistem Pendidikan Dimulai dari Ruang Baca di Tiap Sekolah

Rabu, 24/03/2021 WIB   3159
zzz norwaysss

Sistem pendidikan di Norwegia termasuk salah satu yang terbaik di dunia. Kerap negara-negara lain belajar atau mencoba menerapkan beberapa program pendidikan dari Norwegia ke dunia pendidikannya.

Namun, yang perlu diketahui untuk mencapai ‘kualitas’ tersebut, strategi nasional untuk pengembangan profesional di Norwegia sudah dilaksanakan bertahun-tahun lamanya. Walaupun Model Pengembangan Kompetensi Baru dijalankan pada 2017, jauh sebelum itu Norwegia sudah melaksanakan program-program reformasi pendidikan lainnya. Terutama berkenaan dengan pengembangan kemampuan profesional.

Strategi Nasional Norwegia untuk hal tersebut dibagi menjadi dua yang dijalankan secara berkesinambungan. Pertama, pengembangan kemampuan profesional in-service.

Kedua, kualifikasi para guru yaitu harus menempuh pendidikan tinggi dengan pencapaian kredit studi yang sudah ditentukan pemerintah. Jumlahnya berbeda sesuai dengan jurusan atau pelatihan yang diambilnya.

Diawali dengan pelatihan in-service yaitu berupa ‘Penyediaan Ruang untuk Membaca’ di tiap sekolah (2003-2007). Seiring dengan itu dilaksanakan langkah ‘Peningkatan Mutu Pengetahuan’ sebagai bagian program pengembangan sekolah (2006-2007). Diharapkan dengan begitu ada peningkatan kualitas dalam proses belajar mengajar di sekolah.

Maka, pada 2009 hingga sekarang dilakukan langkah peningkatan lingkungan pembelajaran yang baik bagi siswa dan guru. Disusul dengan adanya penilaian untuk proses pembelajaran tersebut (2010-2017).

Tujuannya, agar para guru, kepala dan staf sekolah tidak semata memenuhi kewajibannya karena itu kebijakan pemerintah. Namun, juga benar-benar melakukan perbaikan pada pola pengajaran dan pembelajaran di kelas. Selain akan bisa diketahui pula kekurangan dan kelebihannya melalui penilaian tersebut.

Begitu langkah peningkatan lingkungan pembelajaran sudah ditentukan polanya, maka pemerintah merasa perlu melakukan program pengembangan sekolah lower secondary (2012- 2017) dan peningkatan kualitas pendidikan sekolah kejuruan (2011-2016).

Berbicara mengenai kualitas proses belajar mengajar, tidak lepas dari materi pelajaran yang disampaikan oleh guru kepada siswa di ruang kelas. Untuk itu, Norwegia juga memperbaiki sistem pengajaran sains (2015-2019) serta strategi pengajaran bahasa dengan menggunakan file format audio saat belajar bahasa, membaca dan menulis (2016-2019).

Menurut Hege Nilssen, Kepala Direktorat Pendidikan dan Pelatihan di Norwegia, meskipun universitas mitra dilibatkan dalam pelatihan in-service, pemerintah pusat melalui Direktorat Kementerian Pendidikan dan Penelitian tetap berperan kuat atas kesuksesan strategi ini.

Namun, dalam pelaksanaan pelatihan in-service itu, pemerintah pusat menemukan langkah yang lebih tepat agar peningkatan kualitas pendidikan ini mengena dan tepat ke sasaran. Yaitu dilibatkannya pemerintah daerah dalam penetapan tujuan dan visi program pelatihan.

“Peran utama tetap di tangan pemerintah pusat. Tetapi, pemerintah daerah dapat menentukan apa yang dibutuhkan untuk pengembangan kemampuan profesionalnya sendiri. Skemanya bersifat desentralisasi,” jelas Hege.

Kualifikasi guru diutamakan

Bersamaan dengan pelatihan in-service tersebut, Norwegia mencanangkan Reformasi Peningkatan Mutu Pengetahuan yang menyeluruh pada konten pembelajaran, struktur dan organisasi sekolah yang dilangsungkan sepanjang 2005 hingga 2008.

Wujudnya berupa wajib belajar pendidikan dasar 10 tahun. Setiap anak wajib bersekolah mulai dari pendidikan dasar dan menengah yang berlangsung 9 tahun hingga tahun pertama pendidikan menengah atas, baik pendidikan umum atau pelatihan kejuruan.

Sejalan dengan reformasi itu program pengembangan kompetensi untuk guru kejuruan (2015) dan kompetensi untuk kualitas (2016-2025) dilaksanakan. Untuk program yang terakhir, pada 2017 diperkenalkan Model Pengembangan Kompetensi Baru. Karena Norwegia masih memiliki guru-guru yang belum memenuhi syarat formal, maka mereka harus sudah mengambil sekolah kelanjutan sebelum 2025.

Pemilik sekolah selaku penanggung jawab pengembangan kemampuan profesional di daerah bertugas memastikan sekolahnya sudah memenuhi standar kualitas. Tak luput, sekolah mempunyai guru-guru yang sudah memenuhi kualifikasi.

“Program ini sangat diprioritaskan oleh pemerintah. Kami mengeluarkan banyak dana untuk pengembangan profesional para guru, terutama guru TK,” ujar Hege pada webinar “Let Schools Decide: The Norwegian Approach to School Improvement”  beberapa waktu lalu (Rabu, 27 Januari 2021).

Selain skema desentralisasi, ada pula skema follow-up yang diperuntukkan municipal (kotapraja atau distrik) yang laporan pelaksanaan program pengembangan selalu menunjukkan hasil lemah, akan ditawari dukungan berupa arahan dan pelatihan oleh negara.

Dan yang ketiga adalah skema inovasi, berdasarkan riset yang diatur oleh Dewan Penelitian Nasional. Terkait skema ini, semua program pelatihan disusun berdasarkan hasil riset pendidikan yang selalu dipraktikkan di Norwegia.

Apapun skemanya, Norwegia menekankan agar program yang ditawarkan universitas mitra harus berdasarkan pada pemikiran kolaborasi profesional. Bukan pengembangan profesional individual.

(Disadur dari EduSkills OECD oleh Marta Nurfaidah – Penulis Lepas, Dosen Tamu di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel, Anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Surabaya/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)