Topik:

Cara Mendukung Siswa Berbakat atau Jenius untuk Memaksimalkan Potensi yang Mereka Miliki

Senin, 06/06/2022 WIB   1196
hands raised 28516912

Iklim inklusivitas satuan pendidikan kini terbaca di Rapor Pendidikan Indonesia, dan jadi perhatian serius di era Merdeka Belajar. Kondisi bagaimana lingkungan sekolah menyikapi keragaman seperti perbedaan individu, identitas, maupun latar belakang sosial-budaya.

Salah satu indikatornya, layananan sekolah untuk siswa (murid) cerdas dan bakat istimewa, apakah telah akomodatif, sedang berkembang atau masih perlu peningkatan

Di bawah ini perspektif global terkait hal di atas di artikel berjudul How to support gifted students to reach their full potential dari Alexandre Rutigliano (Consultant, OECD Directorate for Education and Skills) yang telah kami terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia

Yang harus diperhatikan:

  • Setiap negara memiliki definisi bakat dan siswa berbakat mereka masing-masing dan cara mereka memenuhi kebutuhan siswa berbakat tersebut juga bermacam-macam. Dalam mendukung pendidikan siswa berbakat tersebut, banyak negara yang memberikan program akselerasi dan kegiatan pengayaan.
  • Lakukan lebih banyak peningkatan kapasitas guru dan sekolah untuk mewujudkan pendidikan siswa berbakat yang inklusif.
  • Siswa berbakat bukan kelompok homogen. Oleh karena itu, saat mengidentifikasi mereka dibutuhkan pelatihan dan sensibilitas sosial budaya.

Semua sistem pendidikan dituntut untuk membantu siswa memaksimalkan potensi yang siswa tersebut miliki. “Pendidikan Siswa Berbakat” adalah mendidik siswa yang memiliki kecerdasan, bakat, atau potensi di atas rata-rata. Tetapi yang menjadi pertanyaan: Bagaimana cara kita menentukan besaran kercerdasan, bakat, dan potensi yang dimaksud? Dan bagaimana cara sekolah mendukung siswa berbakat ini? Umumnya, bakat memang tidak mudah untuk dipahami, artinya sistem pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mendukung siswa berbakat ini. Oleh karena itu, pertama-tama kita harus mendefinisikan apa itu bakat dan mencari tahu kesenjangan dan praktik apa saja yang sukses dilaksanakan di seluruh dunia dalam rangka mendukung siswa berbakat ini.

Definisi bakat dan pendekatan terhadap pendidikan siswa berbakat

Secara umum, bakat diartikan sebagai kecerdasan di atas rata-rata yang diukur atau ditentukan dengan tes IQ dan sering kali dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu seperti matematika atau musik. Namun seiring berjalannya waktu, definisinya kian berubah. Penelitian menunjukkan bahwa bakat tidak hanya menjurus ke hasil tes IQ tetapi juga meliputi beragam bentuk kecerdasan lain seperti kreativitas dan empati. Potensi siswa berbakat dapat dimaksimalkan dengan baik asalkan ada kesempatan dan dukungan pendidikan yang memadai.

*Baca juga dan akses: Policy approaches and initiatives for the inclusion of gifted students in OECD countries dan OECD Strength through Diversity

Negara-negara yang tergabung dalam OECD (Organization of Economic Co-operation and Development—organisasi antarpemerintah yang memiliki misi untuk mewujudkan perekonomian global yang kuat, bersih, dan berkeadilan) memiliki istilah tersendiri dalam menamai atau menyebut siswa berbakat mereka. Contohnya, Jerman dan Spanyol menyebut siswa berbakat mereka dengan sebutan “gifted“, sedangkan di Australia dan Inggris siswa berbakat mereka disebut dengan sebutan “gifted and talented“. Prancis yang menekankan pada perkembangan siswa berbakat menyebut mereka dengan sebutan “students with high potential“. Negara-negara ini juga memiliki pendekatan terhadap pendidikan siswa berbakat mereka masing-masing. Di Korea, pendidikan penunjang siswa berbakat termasuk kebijakan pendidikan yang terpisah dan memiliki kerangka serta sekolah khususnya sendiri. Di negara-negara lainnya, siswa berbakat dikategorikan secara lebih umum, biasanya adalah siswa dengan kebutuhan pendidikan khusus. Contohnya Firlandia, di sana tidak ada kategori khusus untuk para siswa berbakat dan sekolah harus memenuhi kebutuhan semua siswa tanpa menonjolkan karakteristik pribadi. Namun, kesamaan yang umumnya dimiliki oleh negara-negara OECD ini adalah adanya program akselerasi dan/atau kegiatan pengayaan untuk memberikan kesempatan kepada siswa berbakat untuk belajar dalam waktu yang lebih cepat dan singkat dan adanya akses untuk mempelajari konten kurikuler yang lebih banyak dan kegiatan belajar selain di kelas.

Kapabilitas guru dan sekolah dalam mendukung siswa berbakat

Guru berada di barisan terdepan dalam menerapkan pendidikan inklusif ini dan mereka memiliki peran penting yaitu mengidentifikasi bakat yang dimiliki siswa dan menerapkan strategi pembelajaran yang tepat serta memantau pendidikan siswa berbakat. Dengan demikian, negara harus berinisiatif untuk membantu guru. Beberapa negara, contohnya Kolombia, membuat dokumen yang berisi pedoman yang panjang dan detail tentang peran guru, sedangkan negara-negara lain hanya secara gamblang menyebutkan peran guru dalam kebijakannya (contoh, Lituania) atau dalam kerangka hukum (contoh, Korea). Walaupun demikian, tetap saja masih banyak kesenjangan yang ada saat Initial Teacher Education (PIGP—Program Induksi Guru Pemula) maupun saat pembelajaran profesional berkelanjutan pascakualifikasi. Contohnya, studi yang dilakukan tahun 2017 menunjukkan bahwa di antara 30 negara di Eropa yang disurvei, sekitar 70% guru (sebagai responden) belum pernah mengikuti pelatihan dalam jabatan (di Indonesia mirip dengan Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam Jabatan) dalam bidang ini.

Jaringan internasional dan organisasi masyarakat sipil nasional, seperti yang ada di Portugal dan Amerika Serikat, dapat berperan penting dalam membuat kebijakan dan mendukung sekolah menerapkan pendidikan inklusif. Jaringan internasional dan organisasi masyarakat sipil nasional ini memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran dan seringkali melatih guru dalam penerapan program akselerasi dan kegiatan pengayaan. Selain itu, juga bisa memperkuat kapabilitas yang ditanamkan saat pendidikan induksi guru pemula (PIGP) dan entitas pembelajaran profesional dengan cara memberikan pelatihan tentang metode pengajaran seperti pedagogi berdiferensiasi yang merupakan pedoman dalam memaksimalkan pencapaian siswa berbakat.

Menerapkan praktik pendidikan model inklusif dalam pendidikan siswa berbakat

Pendidikan model inklusif berarti pendidikan yang mendukung dan memenuhi semua kebutuhan siswa berbakat secara memadai. Perlu diketahui bahwa siswa berbakat ini bukan merupakan kelompok homogen. Hal-hal yang kerap kali menyebabkan kelompok siswa tertentu dalam program pendidikan siswa berbakat merasa kurang terwakilkan adalah kurangnya pelatihan untuk staf sekolah, ketidakpekaan terhadap perbedaan budaya, dan prasangka lainnya. Sebuah penelitian yang diselenggarakan di Toronto, Kanada pada tahun 2018 menunjukkan bahwa siswa laki-laki memiliki kesempatan yang lebih besar daripada siswa perempuan untuk diidentifikasi sebagai siswa berbakat walaupun pada kenyataannya mereka berasal dari etnis dan latar belakang sosial ekonomi yang sama. Selain itu, anak-anak yang berasal dari beberapa kelompok etnis lebih memungkinkan untuk diidentifikasi sebagai siswa berbakat. Dalam rangka mengatasi persoalan pengecualian (ekslusif: siswa berbakat tidak disatukan dengan siswa-siswa lain) ini dalam proses identifikasi dan pembelajaran, penting untuk mempertimbangkan latar belakang sosial budaya siswa. Contohnya adalah Paket Pendidikan Siswa Berbakat milik Selandia Baru yang mencakup pengetahuan tentang Māori (pengetahuan yang mencakup tradisi, nilai, konsep, filosofi, pandangan dunia, dan pemahaman yang berasal dari sudut pandang budaya Māori yang unik) dan praktiknya dalam proses identifikasi dan penilaian, serta partisipasi pendidik Māori dalam merancang kurikulum yang disesuaikan.

Yang penting, pendidikan siswa berbakat model inklusif dapat bermanfaat bagi semua siswa. Di banyak negara, program pendidikan siswa berbakat dapat ditemukan di sekolah dan/atau ruang kelas umum. Strategi sekolah seperti pendampingan, konseling, pedagogis berdiferensiasi, penggunaan teknologi digital, dan kolaborasi siswa terbukti efektif dalam meningkatkan pencapaian pendidikan dan kesejahteraan siswa berbakat dan malahan, seluruh penghuni kelas.

Banyaknya contoh pelaksanaan yang tepat bukan berarti membuat kesenjangan yang signifikan di pendidikan siswa berbakat berkurang. Menggalakkan evaluasi dan pemantauan pendidikan siswa berbakat akan sangat bermanfaat bagi para pembuat kebijakan agar lebih memahami kebutuhan para siswa berbakat ini. Ini merupakan langkah penting untuk merancang kebijakan pendidikan yang lebih inklusif dan komprehensif.

(Bagus Priambodo/Sumber terjemahan: OECD/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari OECD dan Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)