Topik:

Cara Estonia Melakukannya: Yang Bisa Dicontoh dari Sistem Sekolah Terbaik di Eropa

Selasa, 27/09/2022 WIB   218
DSF2013

Negara kecil—dengan anggaran yang sama kecilnya—telah berhasil berfokus pada keterampilan digital (digital skill), The Times Education Commission mendapati bahwa:

Di Estonia, anak mulai belajar robotika sejak usia tujuh tahun dan guru menggunakan realitas virtual untuk membuat pelajaran geografi, kimia, sejarah, dan bahasa menjadi lebih menyenangkan. Negara kecil bekas Soviet ini memiliki sitem pendidikan terbaik di Eropa menurut Program Penilaian Pelajar Internasional yang dijalankan oleh Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD).

Meskipun pengeluaran yang relatif rendah untuk bidang pendidikan, Estonia adalah salah satu negara teratas di dunia yang menilai siswa berusia 15 tahunnya pada tiga bidang: membaca, matematika, dan sains. Sekolah-sekolah di negara ini juga yang terbaik dalam mempromosikan kesamarataan dan siswa Estonia termasuk yang paling bahagia di OECD. Teknologi adalah salah satu kunci kesuksesan Estonia. Estonia, atau e-Estonia seperti yang biasa dikenal, memandang dirinya sebagai negara rintisan (start-up) dan 99 persen layanan pemerintahannya dilakukan secara daring. Ada kartu identitas elektronik dan pemungutan suara secara daring, dan pemerintah memberikan dukungan sejak awal untuk memastikan bahwa semua sekolah memiliki akses ke perangkat dan koneksi internet yang baik.

Mayoritas siswanya menggunakan jadwal elektronik dan ujiannya secara bertahap diselenggarakan secara daring. Sebagian besar PR dan ujian sekolah diatur secara digital, yang alhasil mengurangi tugas mengoreksi guru. Terdapat juga perpustakaan daring nasional dengan lebih dari 20.000 sumber pendidikan yang disebut “e-Schoolbag”.

Jiwa kewirausahaan bisa dirasakan di seluruh sistem sekolah. Sekolah memiliki independensi tingkat tinggi dan kepala sekolah bebas menentukan bagaimana cara mengatur kehidupan siswa dan menentukan kurikulum. Tidak ada pemeriksaan rutin. Sekolah dievaluasi setiap tiga tahun melalui tes daring untuk siswa dan pihak berwenang hanya turun tangan jika ada masalah. “Kami percaya pada guru kami dan guru kami memiliki independensi mereka sendiri secara penuh,” kata Liina Kersna, menteri pendidikan dan penelitian.

Guru merasa percaya diri untuk melanjutkan pekerjaannya dan ada hampir dua kali lebih banyak siswa di Estonia dibandingkan di Inggris. Mereka menghabiskan waktu yang lebih sedikit saat di kelas dibandingkan sebagian besar guru di OECD, artinya mereka memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan persiapan pelajaran dan pengembangan profesional. Semua guru sekolah memiliki gelar master dan guru TK memiliki gelar sarjana.

Anak-anak di Estonia tidak mulai bersekolah hingga mereka berumur tujuh tahun tetapi mereka secara hukum berhak mendaftar TK dari usia 18 bulan. Tempat penitipan anak disubsidi besar-besaran sehingga orang tua tidak pernah membayar lebih dari 20 persen dari upah minimum (kurang dari £500 sebulan). Saat akan lulus TK, anak akan mendapatkan kartu kesiapan bersekolah yang berisi keterampilan dan perkembangan mereka. Anak yang membutuhkan dukungan akan dirujuk ke spesialis, seperti terapis wicara, sebelum mereka memulai kehidupan sekolah formal.

“Sekolah umum”, yang berlangsung dari umur 7 hingga 16 tahun, mengutamakan inklusi. Makan siang di sekolah gratis, begitu juga biaya transportasi, buku pelajaran, dan karyawisata. Kelas mewadahi berbagai jenis kemampuan dan siswa tidak secara rutin dipisahkan menjadi perkumpulan dengan kemampuan tertentu. Siswa yang memiliki kesulitan atau memiliki masalah perilaku dipisah agar mendapatkan pembelajaran secara individu atau pembelajaran bersama kelompok kecil. Sebagian besar sekolah memiliki psikolog sendiri dan terdapat survei kesejahteraan nasional untuk menilai kesehatan mental siswa dan guru. Ekslusi hampir tidak pernah terjadi.

Sebagian besar anak tetap melanjutkan sekolah hingga mereka menginjak usia 19 tahun. Sekitar 25 persen siswa melanjutkan ke lembaga kejuruan dan sisanya melanjutkan ke tingkat pendidikan akademis yang lebih tinggi. Semua siswa diharapkan bisa mendapatkan ijazah kelulusan mereka dan jika gagal, mereka bisa mencobanya lagi.

Kersna menjelaskan bahwa kurikulum yang sebelumnya berisi “pengetahuan dan pemahaman” berubah menjadi “implementasi, analisis, sintesis, dan asesmen” dengan lebih banyak kolaborasi lintas mata pelajaran. Kurikulum ini menekankan pada pemecahan masalah, pemikiran kritis, nilai-nilai, kewarganegaraan, kewirausahaan, dan kompetensi digital: kualitas yang diinginkan para pemberi kerja.

Di akhir masa sekolah, siswa dinilai secara formal hanya pada tiga mata pelajaran: bahasa Estonia, matematika, dan bahasa asing (sebagian besar dari mereka memilih bahasa Inggris) tetapi kurikulumnya jauh lebih luas daripada itu.

Siswa wajib mempelajari humaniora dan sains hingga usia 19 tahun. Siswa harus menyelesaikan proyek kreatif interdisipliner untuk bisa lulus dari sekolah umum dan proyek penelitian sebelum mereka lulus dari sekolah persiapan sebelum masuk ke jenjang universitas (upper secondary school). Musik, olahraga, drama, dan seni merupakah bagian dari kurikulum ini.

Andreas Schleicher, direktur pendidikan di OECD, mengatakan: “Di Estonia, tidak ada istilah ‘kegiatan ekstrakurikuler’. Bagi mereka, itu termasuk bagian dari kurikulum.”

Tidak ada pengaruh politik dalam pendidikan. Estonia memiliki strategi pendidikan yang berlangsung hingga 2035, yang memiliki dukungan luas dari berbagai pihak politik. “Merepotkan jika setiap kali pemerintah terlibat mereka memiliki rencana mereka sendiri dan ingin mengubah semuanya,” kata Gunda Tire, ketua penilaian internasional di negara ini. “Pendidikan itu butuh waktu.”

(Diterjemahkan oleh Bagus Priambodo/Sumber terjemahan: The Times/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari The Times)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)