Topik:

Membangun Budaya Membaca di Sekolah

Senin, 19/07/2021 WIB   288
zzz acer readdd

Podcast ini didukung oleh QUT Podclass sebagai seri terbaru dari podcast gratis yang dibawakan langsung oleh Madonna King dan diperuntukkan bagi siapapun yang memiliki minat mengajar termasuk pembahasan tentang cara mengelola pengembangan karir hingga mendorong keterlibatan siswa di dalam kelas.

RV: Halo dan terima kasih telah mengunduh podcast ini dari Majalah Teacher. Saya Rebecca Vukovic (RV).

Dr. Margaret Merga (MM), terima kasih telah bergabung dengan Majalah Teacher.

MM: Terima kasih telah mengundang saya.

RV: Pada kesempatan kali ini, kita akan mengulas penelitian Anda yang membahas tentang cara menciptakan budaya membaca di sekolah dari sudut pandang guru pustakawan (teacher librarians−TL). Pertama-tama, apa tujuan dari penelitian ini?

MM: Melalui penelitian ini, kami sebenarnya ingin mengetahui pendapat guru pustakawan tentang peran sekolah yang dapat membangun budaya membaca efektif dan positif. Berdasarkan penelitian yang telah telah ada sebelumnya, sekolah umumnya tidak selalu bertumpu pada kegiatan membaca saja karena masih banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk meningkatkan tingkat praktik membaca di sekolah. Seperti yang kita tahu, jika seseorang memiliki tingkat praktik membaca yang tinggi, maka tingkat keterampilan literasi juga dapat meningkat. Oleh sebab itu, kami sangat tertarik untuk mengetahui perspektif guru pustakawan, apalagi mereka berada langsung di lingkungan sekolah, khususnya di perpustakaan, dan mengetahui seperti apa praktik membaca di lingkungan sekolah.

RV: Lalu, bisakah Anda bercerita sedikit lebih banyak tentang penelitan tersebut? Seperti siapa saja yang terlibat, di mana penelitian tersebut dilakukan, dan kapan penelitian tersebut dilakukan?

MM: Tentu. Pada dasarnya, kami memiliki 30 peserta dari 30 sekolah di Australia Barat yang tidak hanya berasal dari wilayah metropolitan saja tetapi juga nonmetropolitan. Dalam rangka mendapatkan sampel yang bisa mencakup dan mewakili keberagaman geografis di Australia Barat, kami melalakukan penelusuran bahkan hingga ke perbatasan Australia Barat. Penelitian ini dilakukan di awal tahun 2018, sekitar bulan Maret hingga Juni, dan sejak saat itu telah ditemukan sejumlah temuan yang diterbitkan di berbagai artikel jurnal dan buku terkini.

RV: Jadi apa saja pertanyaan-pertanyaan yang Anda ulas dalam penelitian ini?

MM: Sehubungan dengan penelitian ini, kami tertarik khususnya pada persepsi guru pustakawan tentang budaya membaca di sekolah. Berbagai pertanyaan seperti karakteristik-karateristik sekolah yang mendorong terciptanya budaya membaca dan peran pimpinan sekolah dalam mendorong budaya membaca di sekolah diulas dalam penelitian ini.

RV: Saya ingin membahas setiap temuan dalam penelitian ini yang dapat Anda jelaskan lebih rinci nanti. Yang pertama adalah anggaran dan alokasi sumber daya yang dibutuhkan. Mengapa anggaran dan alokasi sumber daya dianggap sebagai investasi dalam budaya membaca di sekolah?

MM: Nah, membaca bagi anak muda, baik mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar maupun menengah, harus datang dari sebuah kesempatan. Jadi, mereka perlu memiliki akses untuk mengetahui dan membaca buku-buku terkini dan menarik yang sesuai dengan minat mereka sendiri. Mereka juga perlu membaca di tempat yang kondusif. Jika perpustakaan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai dan ruang yang nyaman untuk membaca, maka akan ada kesempatan membaca dan praktik membaca akan terlaksana. Selain sumber daya yang memadai untuk menyediakan ruang baca yang kondusif, sekolah juga memastikan adanya fasilitas yang memadai guna mendukung terjadinya suasana membaca yang kondusif yang nantinya dapat memberikan efek positif untuk membangun budaya membaca di sekolah.

RV: Dan temuan berikutnya yang ingin Saya bahas adalah pentingnya memiliki pimpinan sekolah yang menyadarari pentingnya membaca. Mengapa?

MM: Pertama-tama yang jelas adalah menjadi contoh bagi para penghuni sekolah lainnya. Kita semua tahu bahwa sikap para pemimpin dan apa yang mereka lakukan sering dijadikan contoh, tidak hanya oleh staf, tetapi juga siswa dan masyarakat luas. Jadi, jika kepala sekolah adalah sesorang yang menunjukkan dukungan besar untuk membaca, seperti kasus-kasus yang saya sebutkan di penelitian ini, kepala sekolah bisa aktif memberikan buletin kepada orang tua tentang pentingnya orang tua yang memberikan dukungan membaca untuk mendorong anak-anak mereka agar membaca di rumah. Dalam kasus ini, orang tua benar-benar bertindak sebagai pendorong yang mampu membuat anak-anak mereka membaca selain untuk kegiatan pembelajaran di sekolah, baik di dalam sekolah maupun di luar. Jadi mereka meberikan contoh agar dapat ditiru oleh para siswa.

Selain itu, dengan adanya minat tinggi untuk membaca dan pemahaman kuat tentang hubungan antara membaca dan manfaatnya bagi kemampuan literasi seseorang, kami menganggap para pimpinan harus dapat memcontohkan perilaku dan sikap positif terhadap membaca dalam lingkungan sekolah. Lalu, komitmen sumber daya itu dan sikap para pemimpin itu sendiri diyakini ada kaitannya dengan praktik membaca.

RV: Berikutnya adalah dukungan dan keterlibatan membaca aktif, yang Saya yakin telah dibahas sedikit sejak tadi. Tetapi, mengapa penting bagi para pimpinan untuk mendukung dan berperan aktif dalam kegiatan membaca di sekolah?

MM: Pertama-tama, agar membaca memiliki manfaat lain di sekolah selain sebagai syarat ujian and pembelajaran di kelas–di sinilah kita perlu menanamkan pola pikir bahwa membaca harus dilakukan secara terus-menerus dan mendorong anak muda kita untuk menerapkan pola pikir ini. Maka dari itu, kita harus menjadikannya prioritas utama. Dengan demikian, dukungan membaca aktif dan keterlibatan dari para pemimpin dinilai sangat penting karena sekolah merupakan tempat di mana banyak aktivitas berlangsung.

Dengan adanya tuntutan-tuntutan lain di sekolah dan jika ingin memunculkan minat membaca dan menjadikan membaca sebagai prioritas, praktik membaca harus mampu bersaing dengan kegiatan lainnya. Selain itu, kita juga harus memiliki pemahaman kuat tentang manfaat dan pentingnya mendorong praktik membaca di sekolah.

RV: Selanjutnya tentang karakteristik budaya membaca. Penelitian ini menguraikan empat karakteristik yang juga Saya ingin bahas. Pertama, ‘bekerja sama untuk membangun budaya membaca’. Apa maksudnya?

MM: Kami tahu Kurikulum Australia memandang literasi sebagai prioritas sekolah secara keseluruhan. Dengan demikian, itu seharusnya menjadi Kemampuan Umum yang berlaku di semua bidang disiplin kita. Namun, kita tidak mengetahui apakah kurikulum tersebut diberlakukan sebagai pendekatan di sekolah secara keseluruhan.

Jadi yang kami inginkan adalah memiliki sekolah di mana pengembangan budaya membaca dianggap sebagai suatu hal penting yang tidak hanya diterapkan di perpustakaan dan di kelas bahasa Inggris, tetapi di mana semua staf dan pimpinan benar-benar fokus untuk menciptakan budaya semacam itu. Dan bahkan di luar sekolah dengan cara melibatkan orang tua dan wali untuk mewujudkan budaya membaca di rumah.

RV: Karakteristik selanjutnya adalah ‘staf yang membaca’.

MM: Sama halnya dengan kepemimpinan dan menjadi contoh bagi orang lain, memiliki staf memberikan dukungan membaca, sekali lagi, dapat memiliki pengaruh besar pada siswa. Seperti yang kita tahu dari penelitian sebelumnya, anak-anak yang membaca di rumah tidak semuanya menerapkan model membaca positif di rumah karena setiap siswa memiliki berbagai latar belakang dengan orang tua yang juga memiliki beragam kondisi. Seperti itulah kenyataannya.

Terlepas dari kondisi tersebut, selain penting bagi orang tua untuk menjadi contoh bagi anak-anak mereka di rumah, juga sangat penting bagi kita untuk memikirkan apa yang dapat kita lakukan di sekolah, karena kita memerlukan staf yang dapat menunjukkan bahwa membaca adalah hal yang menyenangkan dan dapat dijadikan hobi. Seperti, membaca dapat meningkatkan kosa kata seseorang dan membaca bisa menyenangkan jika dilakukan secara teratur. Karena jika kita belum menganggap membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan dan dapat meningkatkan kemampuan seseorang, maka kita belum tentu dapat mendorong anak muda untuk menjadi pembaca aktif.

RV: Dan ini berkaitan erat dengan karakteristik berikutnya yaitu ‘dukungan orang tua untuk membaca’.

MM: Tepat. Di tahap inilah guru pustakawan memiliki peran penting untuk benar-benar membina hubungan antara sekolah dan rumah. Seperti yang kita tahu dari penelitian sebelumnya, banyak orang tua tidak terlalu sadar akan pentingnya mendorong anak-anak mereka untuk terus membaca di rumah saat usia dini, terutama setelah anak-anak mereka dapat belajar membaca secara mandiri.

Ada sebuah konsep yang disebut ‘ekspektasi kedaluwarsa’ atau expired expectations yang Saya temukan dalam penelitian sebelumnya. Konsep ini dikutip dari sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Australian Journal of Education dan menjelaskan bahwa kita sering memiliki kesalahpahaman bahwa begitu anak-anak muda sudah dapat belajar membaca, orang tua berhenti mendorong anak-anak mereka untuk terus membaca.  Jadi, ini sebenarnya sesuatu yang berlaku baik di sekolah dan rumah–bahwa setelah kita belajar membaca, kita hanya membaca untuk memenuhi kegiatan pembelajaran dan tidak terlalu menekankan pentingnya membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan atau hobi dan latihan membaca yang teratur. Dengan ini kita perlu menunjukkan kepada orang tua bahwa penting bagi mereka untuk terus mendorong anak-anak mereka untuk membaca sejak dini. Dengan itu kita bisa menunjukkan manfaat dan betapa menyenangkannya praktik itu.

RV: Dan yang terakhir adalah ‘membaca dalam hati’ atau membaca senyap. Apa yang membedakan membaca dalam hati dengan yang lainnya?

MM: Nah, membaca dalam hati berkaitan erat dengan manfaat untuk penguasaan keterampilan literasi. Dan itu jelas karena jika kita tahu kita memiliki kesempatan untuk membaca, maka kita juga memiliki kesempatan untuk membangun keterampilan membaca kita. Tetapi sangat sulit untuk terus mendorong praktik membaca dalam hati di sekolah-sekolah karena berbagai hal seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Kita perlu benar-benar memprioritaskan untuk memberikan kesempatan, karena kita tahu dari beberapa penelitian sebelumnya mengatakan bahwa bagi sebagian siswa, kesempatan membaca dalam hati di sekolah adalah satu-satunya kesempatan membaca yang mereka miliki. Mereka belum tentu memiliki suasana kondusif untuk membaca di rumah, mereka mungkin memiliki keterbatasan buku, atau mereka mungkin memiliki kegiatan atau tuntutan lainnya sehingga tidak memiliki kesempatan untuk membaca dalam hati.

Jadi, jika kita dapat memberikan kesempatan untuk membaca secara mendalam dan berkelanjutan di sekolah, kita tidak hanya ingin memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal kosa kata tetapi kita juga memberitahu mereka bahwa itu adalah salah satu hal yang cukup penting untuk membangun pemahaman membaca mereka, mulai dari kurikulum hingga penerapannya di latihan.

RV: Jadi, apa saran untuk para guru atau guru pustakawan yang mendengarkan podcast ini agar dapat memulai untuk mengembangkan dan meningkatkan budaya membaca di sekolah mereka?

MM: Idealnya, hal pertama yang bisa dilakukan adalah melibatkan dukungan para pimpinan. Jika belum, beritahu mereka agar mereka paham bahwa posisi mereka sebagai pimpinan di sekolah sangat penting dengan bertindak sebagai contoh dan pemberi dorongan membaca bagi para siswa. Misalnya, salah satu guru pustakawan dalam penelitian ini menceritakan bahwa pimpinan mereka mengunjungi dan membacakan sesuatu kepada siswa kelas satu saat Book Week dan menghasilkan kesan yang dapat membuat anak muda tahu akan pentingnya membaca. Dengan demikian, keterlibatan kepemimpinan sangat dibutuhkan.

Selain itu, jika bisa menjamin ketersediaan sumber daya dan mendorong kegiatan membaca dalam hati di sekolah akan memberikan efek positif untuk menciptakan budaya yang mendukung praktik membaca. Namun, keterlibatan staf dalam mendukung budaya membaca juga besar. Sejatinya, tidak mungkinkan untuk mendapatkan dukungan dari pimpinan sekolah, tetapi setidaknya Anda dapat menjadikan staf sebagai pendorong dan contoh untuk membaca aktif demi terciptanya praktik membaca di kelas. Hal ini tentunya akan menjadi langkah positif dan kuat untuk membangun budaya membaca di sekolah.

Dan lagi, seperti yang telah Saya tekankan sebelumnya, dapat secara aktif melibatkan dukungan dari keluarga akan sangat membantu.

Perlu ditekankan bahwa ini merupakan tanggung jawab seluruh jajaran sekolah demi bergerak menuju budaya membaca di seluruh sekolah.

RV: Sangat membantu. Baik, Dr Margaret Merga, terima kasih telah membagikan pengetahuan dan wawasan tentang keahlian Anda dengan majalah Teacher.

MM: Dengan senang hati. Terima kasih.

Terima kasih telah mendengarkan episode ini dari majalah Teacher. Jika Anda ingin tahu lebih banyak, ada tautan ke makalah penelitian Australian Journal of Education dalam transkrip untuk podcast ini, yang akan menghubungkan Anda ke situs web majalah Teacher. Pastikan Anda juga membaca lebih banyak karya Margaret–beliau adalah penulis lebih dari 50 artikel jurnal peer-review dan baru-baru ini menerbitkan sebuah buku berjudul  Reading engagement for tweens and teens: What would make them read more?  

Dan jika Anda ingin mendengarkan podcast-podcast Teacher lainnya, Anda bisa menemukan kami dengan mengetik ‘Teacher ACER’ di berbagai platform seperti Apple Podcasts, SoundCloud, dan sekarang tersedia juga di Spotify.

Anda telah mendengarkan podcast dari majalah Teacher, didukung oleh QUT Podclass sebagai seri terbaru dari podcast gratis tentang belajar-mengajar dan guru. Bergabunglah dengan kami karena kami membahas tips dan trik untuk mengelola kesejahteraan guru, menemukan mentor karir yang tepat, dan mendorong keterlibatan siswa di kelas.

(Bagus Priambodo/Sumber terjemahan: Teacher Magazine/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)