Topik:

Belajar Menulis sebelum Mengajar Menulis

Sabtu, 02/01/2021 WIB   1008
V7EQFRGZIBHUNDFYVOZO2TQ6EI

Selain kecerdasan numerasi, kecerdasan literasi menjadi fokus yang ingin dikembangkan Kemdikbud kepada para pelajar di Indonesia di tengah pandemi.

Dalam konteks pendidikan, literasi sendiri dapat didefinisikan sebagai kecakapan fundamental yang membekali peserta didik dengan kemampuan memilih, menganalisis informasi dengan kritis, serta menggunakannya untuk mengambil keputusan dalam kehidupan.

Itulah sebabnya, kegiatan meningkatkan kemampuan literasi tak seharusnya hanya dibatasi pada keterampilan membaca, tetapi juga keterampilan menulis. Sebab, sebelum menulis, peserta didik harus memiliki kemampuan memilah bahan-bahan yang hendak dijadikan tulisan, menganalisis informasi secara kritis sebelum menuangkannya dalam bentuk teks, serta merancang kesimpulan.

Salah satu persoalan utama yang dihadapi dalam upaya mengembangkan kemampuan menulis para peserta didik adalah kemampuan sebagian guru yang rendah dalam menulis. Ini bukan isapan jempol semata. Apalagi, kalau kita berselancar di internet dan mencari informasi seputar kemampuan menulis para pendidik, akan kita temukan informasi bahwa tradisi menulis para guru masih lemah.

Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo dari UIN Maulana Malik Ibrahim pernah mengulas ini di dalam artikelnya. Dia mengatakan, untuk mengetahui apakah guru sudah memiliki tradisi menulis, bisa dilihat di perpustakaan masing-masing sekolah. Berapa banyak koleksi buku di perpustakaan tersebut yang ditulis sendiri oleh para guru setempat?

Kata Prof Mudjia pula, lemahnya tradisi menulis, khususnya menulis ilmiah, terjadi pula pada dosen. Penyebabnya pun beragam. Namun paling banyak adalah lemahnya kesadaran pentingnya menulis, tidak tahu manfaat menulis, keterbatasan mengakses informasi sehingga tidak tahu apa yang harus ditulis, lemahya penguasaan metode ilmiah, hingga kurangnya dorongan pimpinan sekolah kepada para guru untuk menulis.

Mengapa penting bagi para pendidik untuk memiliki keterampilan menulis?

Seperti kita ketahui, untuk membuat sebuah tulisan yang menarik, seseorang harus memperkaya isi kepalanya dengan berbagai pengetahuan yang relevan. Ragam pengetahuan itu diperoleh dari membaca. Setelah membaca berbagai bahan bacaan, umumnya setiap penulis akan memiliki daftar nama penulis yang menurut mereka layak dijadikan contoh, baik dalam cara menulis, maupun cara berpikir. Dengan kata lain, setiap penulis pasti membutuhkan role model yang memengaruhi cara dan gaya menulisnya.

Beranjak dari hal tersebut, maka sudah menjadi keharusan, ketika guru ingin mendorong anak didiknya untuk terampil menulis, maka dia pun harus lebih dulu terampil melakukannya. Sama halnya seorang pelatih bela diri, tak mungkin bisa mengajarkan sebuah jurus kepada siswanya apabila pelatih itu belum terampil menguasainya.

Untuk melatih keterampilan menulis, selain dengan membaca dan praktik langsung, guru bisa saling bertukar pikiran dengan sesama guru yang sudah lebih banyak menghasilkan produk tulisan. Di masa pandemi Covid-19 ini, guru juga bisa memanfaatkan berbagai kegiatan webinar tentang pelatihan menulis yang banyak diselenggarakan berbagai organisasi dan komunitas.

Menulis dapat dikatakan sebagai sebuah proses belajar tanpa henti. Bahkan seorang penulis yang telah cakap, akan terus berlatih agar tulisannya dari hari ke hari menjadi lebih baik dan berkembang. Jadi, pada hakikatnya setiap orang adalah pembelajar menulis. Bagi guru, agar anak didiknya terdorong untuk belajar menulis, maka guru haruslah menunjukkan kepada mereka bahwa dirinya pun menulis, atau setidaknya terus belajar untuk menulis. Ingat, apabila belajar dianggap sebagai sebuah proses tanpa henti, maka para pengajar pun hakikatnya adalah pembelajar. Demikian pula guru, sejatinya juga adalah siswa.

(Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)