Topik:

Belajar Dari Taipei: Penanganan Pandemi yang Cepat Dapat Menyelamatkan Pendidikan

Selasa, 16/02/2021 WIB   720
Image: Schoolchildren use plastic dividers at a school in Taiwan.

Para pemangku kepentingan di Taipei, Tiongkok, benar-benar belajar dari berbagai pengalaman di masa lalu dalam menghadapi pandemi Covid-19. Belajar dari pengalaman mereka menghadapi wabah SARS pada 2003, lalu wabah virus H1N1 atau flu burung pada tahun 2009, mereka berhasil menekan angka kasus Covid-19 dengan maksimal hingga menjadikan Taipei sebagai tempat di mana angka infeksi Covid-19 adalah yang terendah di dunia.

Dibandingkan banyak negara lainnya, termasuk Indonesia, pemerintah Taipei sudah lebih awal melakukan antisipasi. Pada Desember 2019, mereka telah menjalankan berbagai strategi preventif untuk mencegah penyebarannya. Dampaknya, tidak ada perubahan atau kerusakan yang berarti pada kehidupan sosial masyarakat, termasuk pendidikan.

Bagi Indonesia, mungkin sudah cukup terlambat untuk meniru strategi-strategi yang telah dikembangkan pemerintah Taipei. Namun dari pengalaman di negeri sendiri dan dengan berkaca dari pengalaman Taipei, banyak yang bisa kita pelajari agar di masa depan, kita lebih siap menghadapi pandemi.

Dalam hal pendidikan, sejak awal pemerintah Taipei telah mengembangkan berbagai kebijakan yang berlaku untuk pendidikan dasar dan menengah. Termasuk di antaranya adalah mengundur jadwal semester baru selama 2 pekan, lalu menyiapkan rencana kelas suspensi apabila diduga ada warga sekolah yang terpapar virus, serta mengontrol masuk dan keluarnya siswa serta guru ke sekolah. Mereka juga membuat rencana untuk memastikan agar proses pembelajaran tetap berlangsung dengan protokol kesehatan dan membuat rencana pelaksanaan ujian nasional yang aman. Sehingga, ujian nasional pun tetap dapat dijalankan.

Secara umum, terdapat beberapa strategi penting yang dijalankan oleh pemerintah Taipei dalam memastikan pendidikan tetap berlangsung secara efektif di tengah pandemi. Strategi yang utama adalah memastikan lingkungan belajar yang aman.

Sejak awal krisis, otoritas pusat menciptakan dan terus mempromosikan praktik protokol kesehatan dan keselamatan di lingkungan sekolah, seperti mencuci tangan, menjaga jarak sosial, kebersihan pribadi, menghindari berada di ruang yang padat dan tertutup, dan perilaku positif terkait kesehatan lainnya.

Guru dan siswa diwajibkan memakai masker di dalam kelas dan menjaga jarak sosial minimal 1,5 meter di dalam ruangan, dan 1 meter di luar ruangan.

Kemudian, tidak ada ukuran kelas maksimum yang ditetapkan selama jendela kelas tetap dibuka untuk memungkinkan aliran udara. Jarak antar meja juga meningkat, waktu makan diatur berbeda, dan menerapkan kebijakan guru berpindah antar ruang kelas ketimbang siswa berpindah antar ruang kelas. Tak kalah penting, sekolah diharapkan untuk membersihkan dan mendisinfeksi lingkungan sekolah dan kelas secara teratur.

Selain itu, Kementerian Pendidikan setempat juga menerbitkan SOP yang mengatur apa yang mesti dilakukan ketika ada warga sekolah yang terkonfirmasi positif Covid-19. Dalam SOP ini ditetapkan, apabila ada kasus positif Covid-19 di lingkungan sekolah, maka semua kegiatan di sekolah akan dihentikan selama 2 minggu. Lalu, apabila kasus positif Covid-19 ditemukan di lebih dari sepertiga lembaga pendidikan di kota tersebut, maka seluruh sekolah akan diliburkan selama 2 minggu. Meski demikian, selama 2 minggu penutupan sekolah tersebut, sekolah dan universitas harus memastikan para anak didik tetap menerima pendidikan, sekaligus menyusun rencana kelanjutan kelas tatap muka yang lebih menjamin keselamatan siswa, guru, dan staf sekolah lainnya.

Yang tak kalah penting, karena ujian masuk sekolah menengah nasional untuk lulusan sekolah menengah pertama berlangsung pada bulan April dan Mei, otoritas pusat bekerja sama dengan CECC (Central Epidemic Command Centre) dan para ahli pengujian dalam mengembangkan pedoman untuk memfasilitasi penerapan penilaian nasional ini.

Pedoman itu di antaranya mengatur mengenai kewajiban penggunaan masker setiap saat selama tes,  memeriksa suhu di pintu masuk lokasi pengujian, melarang orang tua atau wali siswa masuk ke lokasi ujian, menjaga semua jendela terbuka selebar 10 sentimeter untuk memungkinkan aliran udara di setiap kamar dengan AC menyala, sering membersihkan semua tempat ujian dan tempat istirahat, membatasi keluar dan masuknya siapapun dari lokasi ujian, dan memantau status kesehatan peserta didik yang menjalani karantina sendiri atau isolasi diri serta memastikan bahwa mereka mendapatkan hak untuk mengikuti ujian nasional.

(Bagus Priambodo/Sumber: OECD/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)