Topik:

Apa yang Dimaksud dengan Kelas Berdiferensiasi?

Sabtu, 19/03/2022 WIB   1665
Child care worker helps children sound out words in book

Kelas berdiferensiasi memfasilitasi dan mengakomodasi setiap siswa sesuai kebutuhannya masing-masing…. Sistem pembelajaran “1 untuk semua” kita cenderung menuntut setiap siswa untuk mempelajari hal yang sama di waktu yang sama pula tanpa memerhatikan bahwa kebutuhan dan kemampuan setiap individu berbeda satu sama lain.

Lebih dari seabad yang lalu, ada seorang guru di Amerika Serikat yang dihadapkan dengan sebuah situasi sulit. Beliau harus membagi waktu dan tenaganya antara mengajar anak-anak yang belum bisa membaca atau menulis dan mengajar anak-anak yang lebih tua dan lebih berpengalaman namun dengan minat minim. Tantangan yang dihadapi guru-guru jaman sekarang masih sama seperti dulu: apa cara efektif untuk merangkul siswa yang memiliki tingkat kesiapan belajar, minat, tingkat pemahaman tentang dunia, dan latar belakang budaya yang berbeda?

Walaupun guru-guru jaman sekarang mengajar dari kelas satu ke kelas lainnya dengan peserta didik yang rata-rata seumuran, namun siswa-siswa tersebut juga memerlukan perhatian dan kebutuhan yang sama besarnya dengan siswa-siswa di one-room schoolhouse (sekolah yang hanya memiliki 1 ruang kelas di mana seorang guru mengajar beberapa kelas di ruangan yang sama dan pada waktu yang bersamaan).

Jadi, pertanyaan guru 100 tahun yang lalu masih relevan: “Bagaimana cara membagi waktu, sumber daya, dan diri sendiri sehingga saya berhasil menjadi katalis yang mampu memaksimalkan bakat siswa-siswa saya? Mari lihat jawaban-jawaban para guru terkait pertanyaan ini:

  • Bu Wiggins memberikan siswanya daftar ejaan berdasarkan hasil praujian yang telah dilakukan sebelumnya, bukan malah berdasarkan asumsi bahwa semua anak kelas 3 harus mengerjakan daftar yang “seharusnya milik” anak kelas 3.
  • Pak Owen sebisa mungkin memberikan PR yang sesuai dengan kebutuhan para siswa. Beliau berharap tugas tersebut dapat bermanfaat bagi semua siswanya.
  • Bu Jernigan hanya sesekali mengajar matematika di kelas. Beliau lebih sering memberikan pembelajaran dan praktik langsung. Beliau juga berusaha untuk memberikan semua siswanya “waktu yang sama” dan mencocokkan latihan tersebut dengan kebutuhan para siswanya. Beliau juga mengelompokkan siswanya untuk mengatasi penerapan matematika di kehidupan nyata sehingga mereka bisa terbiasa berpikir matematis.
  • Bu Enrico memberikan beragam opsi kepada para siswanya untuk memilih tugas akhirnya sesuai dengan minat mereka masing-masing sehingga mereka dapat mengetahui mana dari semua hal yang telah mereka pelajari yang benar-benar bermanfaat bagi mereka.

*Baca juga: Memimpin Kelas Berdiferensiasi, Memahami Diferensiasi untuk Memimpin Kelas Berdiferensiasi dan Filosofi sebagai Pedoman Guru yang Menerapkan Pembelajaran Bediferensiasi

Dengarkan Podcast MSG (Mikir Sing Genah) untuk Pendidikan di Anchor dan Spotify 

Guru-guru di atas memiliki cara mengajarnya masing-masing. Mereka akan selalu mengupayakan untuk mengerahkan apa pun yang mereka bisa untuk memastikan para siswanya (baik yang kurang mampu atau mampu secara akademik maupun memiliki beragam warisan budaya dan latar belakang yang berbeda) berkembang sebaik mungkin setiap hari, minggu, serta tahun.

Keunggulan ruang kelas berdiferensiasi

Di ruang kelas berdiferensiasi, guru memulai proses pembelajaran sesuai keadaan dan kebutuhan siswa, bukan berdasarkan dengan kurikulum yang ada. Mereka meyakini bahwa setiap peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda. Dengan demikian, guru di kelas berdiferensiasi mengajar berdasarkan premis bahwa guru harus siap untuk mengajak siswa untuk terlibat dalam proses pembelajaran melalui beragam metode berbeda dengan cakupan minat dan tingkat kerumitan pengajaran yang bervariasi dan berbeda. Di kelas berdiferensiasi, guru akan memastikan bahwa siswa seharusnya bersaing dengan dirinya sendiri dan memgembangkan dirinya terlebih dahulu daripada langsung bersaing dengan siswa-siswa lain.

Di kelas berdiferensiasi, guru mengajarkan siswa cara-cara tertentu untuk belajar sedalam dan secepat mungkin tanpa menganggap bahwa kemampuan setiap siswa sama. Guru-guru di kelas ini meyakini bahwa para siswa harus memiliki standar yang tinggi. Mereka berusaha untuk memastikan bahwa siswa yang kurang mampu secara akademik, mampu secara akademik, atau perpaduan antara keduanya berpikir dan berusaha lebih dari yang seharusnya; mencapai lebih dari ekspektasi mereka; dan meyakini bahwa belajar juga menyangkut usaha, risiko, dan keberhasilan. Guru-guru ini juga menekankan kepada siswanya bahwa keberhasilan merupakan hasil dari kerja keras.

Guru-guru di kelas berdiferensiasi menggunakan waktu mereka secara fleksibel, menggunakan beragam strategi pembelajaran, dan memastikan bahwa semua yang telah dipelajari dan lingkungan belajar sesuai dan cocok untuk siswa. Mereka tidak memaksakan para peserta didiknya untuk mengikuti standar acuan yang sudah ada. Guru-guru ini bisa dibilang adalah siswa dari para siswanya. Mereka mendiagnosa kebutuhan siswanya kemudian meresepkan pembelajaran yang terbaik dan cocok untuk para siswanya. Guru-guru ini juga seorang seniman yang membantu memahat dan mengasah kemampuan siswanya. Mereka tidak menginginkan sistem pembelajaran “1 untuk semua” untuk siswanya karena mereka yakin bahwa setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda.

Guru-guru di kelas berdiferensiasi memulai pembelajaran mereka dengan berusaha memahami dan menentukan jenis kurikulum dan pembelajaran yang paling sesuai dan menarik untuk siswa di kelas berdiferensiasi. Mereka kemudian mencari tahu apa saja yang diperlukan untuk menyesuaikan kurikulum pembelajaran tersebut agar dapat membimbing siswa-siswanya ke tahap pembelajaran selanjutnya. Pada dasarnya, guru-guru di kelas berdiferensiasi menyambut, membimbing, dan merencanakan secara matang apa yang dibutuhkan setiap siswa karena selain memiliki kesamaan, siswa-siswa tersebut juga pasti memiliki perbedaan karena mereka adalah individu yang berbeda. Guru-guru dapat merealisasikannya dengan cara membuat strategi yang tepat untuk membuat ruang kelas sesuai dan cocok bagi setiap individu.

Walaupun kelas berdiferensiasi terlihat mudah, kelas ini sebenarnya sulit untuk direalisasikan. Seringnya, sulit untuk merealisasikan kelas berdiferensiasi karena contohnya sangat minim. Walaupun begitu, contoh-contoh yang ada memberikan pemahaman dan gambaran tentang pembelajaran berdiferensiasi.

Potret dari sekolah

Setiap hari, guru-guru kelas berdiferensiasi berusaha mengulik beragam cara untuk merangkul para peserta didiknya sesuai dengan kesiapan, ketertarikan, dan prefensi belajar masing-masing siswa. Mereka menganggap “cara yang paling benar” untuk merealisasikan kelas berdiferensiasi secara efektif itu tidak ada; guru lah yang berperan membuat suasana belajar responsif sesuai dengan cara mengajar mereka dan kebutuhan para siswa. Berikut ini merupakan contoh-contoh sistem pembelajaran guru-guru kelas berdiferensiasi yang mereka diterapkan di kelasnya. Beberapa dari contoh ini merupakan observasi langsung di kelas, sedangkan beberapa lainnya merupakan gabungan dari beberapa ruang kelas atau percakapan dengan guru. Semua contoh-contoh ini dimaksudkan untuk membantu memberikan gambaran tentang kelas berdiferensiasi.

Gambaran dari 2 ruang kelas utama

Setiap hari di kelas Bu Jasper, siswa-siswa kelas 1 mengunjungi pos-pos belajar (learning centers) yang ada di dalam kelas. Bu Jasper telah berusaha selama bertahun-tahun untuk memberikan beragam pos-pos belajar yang setiap posnya menawarkan mata pelajaran atau topik-topik tertentu. Bu Jasper meminta seluruh siswa mengunjungi semua pos-pos belajar karena Bu Jasper menganggap tidak adil rasanya jika ada siswa yang tidak berkesempatan belajar di pos-pos tertentu. Hasilnya, para siswa menyukai sistem pembelajaran melalui pos-pos ini dan apa yang ditawarkan setiap pos-pos belajar.

Isabel berkali-kali berhasil mengerjakan tantangan yang ada di pos-pos belajar Bu Jasper dengan mudah. Dan seperti biasa, Jamie di sisi lain bingung bagaimana cara menyelesaikan tantangan itu. Bu Jasper mengerahkan usahanya untuk membantu Jamie sesering mungkin, namun Bu Jasper tidak terlalu khawatir dengan Isabel karena kemampuannya melebihi kemampuan siswa kelas 1 biasa.

Hari ini, seluruh siswa di kelas Bu Jasper akan belajar di pos pembelajaran kata majemuk. Dari 10 kata majemuk yang disediakan, mereka harus memilih dan mengilustrasikan 5 kata majemuk tersebut. Lalu, Bu Jasper akan meminta beberapa siswanya untuk bersuka rela menunjukkan ilustrasinya. Hal ini akan berlangsung hingga para siswa menunjukkan ilustrasi dari seluruh 10 kata majemuk tersebut.

Sama seperti Bu Jasper, Bu Cunningham juga menerapkan pos-pos belajar di kelas 1 yang dia ajari. Beliau juga telah berusaha untuk mengembangkan pos-pos belajar yang menarik dalam berbagai mata pelajaran. Pos-pos belajar di kelas Bu Cumningham mengacu pada beberapa prinsip kelas berdiferensiasi. Kadang-kadang, siswa ditugaskan untuk belajar di pos belajar tertentu jika beliau berencana mengenalkan ide atau kemampuan baru. Bu Cunningham lebih sering menugaskan siswanya untuk belajar di pos belajar tertentu atau memberi tugas tertentu di pos belajar tententu berdasarkan kesiapan individu.

Hari ini, siswa di kelas Bu Cunningham juga akan belajar di pos belajar kata majemuk. Daftar nama-nama siswa tercantum di pos belajar kata majemuk dengan diikuti warna tententu di sebelah namanya. Setiap siswa akan mengerjakan tantangan di pos ini sesuai dengan materi berkas yang sama dengan warna di samping namanya. Contohnya, Sam mendapati warna merah di samping namanya. Selanjutnya dia akan menggunakan material yang ada dalam berkas berwarna merah untuk mengerjakan tantangannya: Sam harus menentukan urutan pasangan kata yang benar untuk membentuk kata majemuk. Dia juga ditugaskan untuk membuat poster yang mengilustrasikan setiap kata majemuk yang dia temukan. Lain halnya dengan Sam, Jenna ditugaskan untuk mengerjakan tantangannya berdasarkan materi yang ada dalam berkas warna biru. Dia menyusuri setiap sudut kelas dan mencari dalam buku untuk menemukan contoh kata majemuk. Selanjutnya, dia akan mencatat dan mengilustrasikan contoh kata majemuk yang dia temukan tersebut dalam sebuah buklet. Di sisi lain, Tjuana mengerjakan tantangannya berdasarkan material dalam berkas berwarna ungu. Tjuana ditugaskan untuk membuat puisi atau cerita yang terdiri dari kata majemuk yang dia temukan sehingga puisi dan ceritanya menjadi lebih menarik. Dia kemudian mengilustrasikan kata majemuk tersebut agar terlihat lebih menarik dan enak dibaca. Dalam berkas berwarna hijau, Dillon menemukan sebuah cerita yang ditulis oleh gurunya. Cerita tersebut berisi kata majemuk yang benar dan salah. Tugas Dillon di sini adalah menjadi detektif yang bertanggung jawab untuk menentukan mana dari kata-kata tersebut yang termasuk “antagonis” (villains−kata majemuk yang salah) dan “protagonis” (good guys−kata majemuk yang benar) dan kemudian menuliskannya dalam sebuah bagan. Dia akan mengilustrasikan dan membuat daftar protagonis dan antagonis dalam cerita tersebut kemudian menentukan sesuai daftar yang benar.

Esoknya saat sesi pembahasan di mana siswa duduk membentuk lingkaran, semua siswa diharapkan untuk menunjukkan tugas mereka. Selain itu, mereka juga diharapkan untuk mengutarakan apa yang mereka sukai dari hasil pekerjaan temannya. Bu Cunningham juga akan memanggil beberapa siswa yang kelihatan enggan untuk mempresentasikan tugasnya ke depan dan menawarkan apakah mereka mau untuk menunjukkan tugas mereka di depan teman-temannya.

Gambaran dari 2 ruang kelas SD

Di kelas 5, siswa-siwa di SD Sillins belajar dengan mengadaptasi konsep “tokoh-tokoh ternama” untuk menghubungkan pembelajaran IPS dan bahasa. Seluruh siswa diharapkan untuk mengasah dan menerapkan keterampilan riset serta menulis mereka secara efektif, kemudian menunjukkan hasil dari segala sesuatu yang mereka pelajari di kelas kepada para audiens.

Pak Elliott meminta seluruh siswanya untuk memilih dan membaca biografi dari tokoh ternama melalui karya sastra atau sejarah yang telah mereka pelajari. Para siswa tersebut kemudian menggunakan ensiklopedia dan internet untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai tokoh yang telah mereka pilih. Setiap siswa membuat laporan tentang seorang tokoh ternama sambil menjelaskan budaya, masa kanak-kanak, pendidikan, tantangan, serta kontribusi dari tokoh tersebut. Para siswa diharapkan dapat menggunakan ilustrasi asli atau yang temuan dalam laporan mereka. Pak Elliott membagikan rubrik penilaian kepada seluruh peserta didiknya untuk untuk melatih mereka dalam segala bidang seperti menentukan penggunaan sumber penelitian, organisasi, dan bahasa.

Di kelas 5, Bu May juga memberikan siswanya daftar minat untuk membantu mereka menemukan bidang yang menarik perhatian mereka seperti olahraga, seni, kesehatan, tulis-menulis, atau membantu orang lain. Pada akhirnya, setiap siswa akan memilih minat tertentu sesuai keingintahuan dan ketertarikan mereka. Para siswa dan guru mendiskusikan fakta bahwa tokoh-tokoh ternama ini telah memberikan kita pemahaman dalam semua bidang di lapangan. Beliau membacakan biografi seorang negarawan, musisi, dan astronot. Para siswa dan guru bersama-sama mendiskusikan prisip-prinsip dari tokoh-tokoh ternama ini.

Contohnya, tokoh-tokoh ternama ini cenderung berpikir kreatif—mereka tidak sungkan untuk mengambil risiko agar dapat mengembangkan kemampuan mereka di bidangnya. Selain itu, mereka biasanya sering ditolak sebelum akhirnya dikenal masyarakat, mereka juga kadang-kadang gagal dan kadang juga berhasil, serta mereka juga gigih. Siswa mencoba membuktikan prinsip-prinsip tersebut sambil membahas tokoh-tokoh sejarah, penulis, dan tokoh-tokoh berpengaruh lainnya yang ada dalam berita hari itu. Pada akhirnya, siswa menyimpulkan bahwa orang-orang bisa dikenal karena “prestasinya” maupun “kelakuan buruknya”. Mereka selanjutnya memutuskan untuk mencari tahu tentang orang-orang yang terkenal karena prestasi dan kontribusinya.

Staf media sekolah membantu setiap siswa untuk membuat daftar nama tokoh-tokoh yang dikenal akan prestasinya di daftar minat siswa. Beliau juga akan membantu para siswa agar dapat menemukan sumber-sumber informasi untuk mencari tahu tentang tokoh-tokoh ternama. Beliau juga menekankan pentingnya memilah materi penelitian yang mudah dibaca dan dimengerti. Beliau juga akan membantu siswa untuk mencari alternatif lain jika materi yang didapat dirasa terlalu mudah maupun terlalu sulit untuk mereka.

Bu May dan siswa-siswanya mendiskusikan berbagai cara untuk membuat catatan saat melakukan riset. Mereka juga menggunakan berbagai metode untuk menyusun informasi mereka seperti situs web, bagan, papan cerita, dan matriks. Mereka juga mengulas cara untuk mengekspresikan pemahaman mereka: melalui esai, fiksi sejarah, monolog, puisi, karikatur, atau sketsa karakter. Bu May menyediakan rubrik penilaian untuk memandu mereka dalam menyusun konten, riset, perencanaan, dan hasil akhir dari riset mereka. Para siswa juga bisa berkonsultasi langsung kepada Bu May untuk menentukan sasaran pemahaman, proses kerja, dan hasil akhir mereka.

Saat tugas berlangsung, Bu May membimbing setiap individu dan kelompok siswa untuk menilai pemahaman dan progres mereka sendiri serta melatih kualitas mereka. Siswa juga dapat saling menilai tugas satu sama lain berdasarkan rubrik dan target individu. Mereka menjamin bahwa setiap laporan berisi tentang seseorang yang telah memberikan kontribusi “positif” kepada dunia. Terakhir, seluruh penghuni kelas mengerjakan mural di kafetaria yang mencantumkan prinsip-prinsip tokoh-tokoh ternama tersebut dalam bentuk potongan puzzle. Pada setiap potongan puzzle, siswa menulis atau mengilustrasikan contoh prinsip dari kehidupan tokoh-tokoh yang mereka pilih. Mereka kemudian menambahkan alasan mengapa mereka menganggap bahwa prinsip-prinsip itu penting atau akan berguna dalam kehidupan mereka sendiri. Siswa juga dapat menunjukkan hasil akhir karya mereka kepada orang dewasa yang familiar dengan orang yang mereka teliti.

Gambaran dari ruang kelas SMP

Di kelas sains Pak Cornell, para siswa belajar di siklus tertentu: membaca teks, menjawab pertanyaan di akhir bab, mendiskusikan apa yang telah mereka baca, menyelesaikan penelitian, dan mengikuti kuis. Siswa mengerjakan penelitian dan menyelesaikan laporan mereka dengan 4 anggota kelompok lain. Terkadang, Pak Cornell menugaskan siswa untuk berpartisipasi melakukan penelitian sebagai cara untuk mengontrol masalah perilaku. Siswa juga seringkali memilih kelompok penelitian mereka sendiri. Mereka membaca teks dan menjawab pertanyaan secara individual. Pak Cornell biasanya melakukan 2 atau 3 sesi diskusi dengan seluruh penghuni kelas mengenai topik tertentu. Semua siswa ikut berpartisipasi dalam pekan raya sains yang diadakan di musim semi berdasarkan topik yang dipelajari di musim gugur atau musim dingin.

Bu Santos sering menugaskan siswa di kelas sainsnya untuk membaca secara berkelompok ketika ada tugas yang berhubungan dengan teks. Di tahap ini, biasanya Bu Santos akan memberikan tugas kelompok agar siswa dengan tingkat kemampuan membaca yang sama dapat bekerja sama. Beliau juga membebaskan siswa untuk membaca secara nyaring dalam kelompoknya atau membaca dalam hati. Kemudian mereka menyelesaikan organisator dan petunjuknya bersama-sama. Saat siswa membaca, Bu Santos menghampiri kelompok-kelompok tersebut secara bergiliran. Terkadang beliau membacakan bagian-bagian yang penting untuk mereka, terkadang beliau meminta mereka untuk membacakan bagian tertentu untuknya, tetapi beliau selalu memberikan pemahaman yang lebih dalam dan membantu memperjelas pemikiran mereka.

Bu Santos terkadang meminta siswa untuk mengerjakan penelitian di lab, menonton video, atau mengerjakan materi tambahan sebelum mereka membaca bab tertentu agar mereka memiliki pemahaman yang jelas sebelum mereka mengerjakan teks. Terkadang mereka membaca teks sebentar, melakukan penelitian, dan kembali lagi ke teks awal. Terkadang penelitian dan materi tambahan tersebut merupakan bagian dari eksplorasi teks. Seringkali, beliau akan menyediakan 2 versi penelitian lab di waktu yang sama: 1 untuk siswa yang membutuhkan bukti nyata untuk memahami prinsip-prinsip penting tersebut dan 1 lagi untuk siswa yang sudah memahami prinsip-prinsip penting tersebut dan dapat menanganinya dalam konteks kompleks dan tidak pasti.

Bu Santos memberikan kuis dan catatan tertulis mengenai pembelajaran diagnostik beberapa kali dalam 1 sesi pembelajaran. Oleh karena itu, beliau menyadari siswa mana yang membutuhkan pembelajaran tambahan dan siswa mana yang membutuhkan dorongan lebih lanjut. Siswa memiliki beberapa opsi untuk mengerjakan proyeknya:

  • Bekerja secara individu atau dengan teman sebaya untuk menyelidiki dan mengatasi suatu masalah di masyarakat yang berhubungan dengan ilmu yang mereka pelajari.
  • Bekerja sama dengan seseorang dari kelompok masyarakat dengan cara menggunakan ilmu pengetahuan untuk mengatasi masalah sekitar.
  • Mempelajari studi ilmuwan jaman dulu dan sekarang yang telah secara positif mempengaruhi penerapan ilmu pengetahuan di bidang yang mereka pelajari.
  • Menulis cerita fiksi ilmiah berdasarkan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari agar bisa diterbitkan di kompilasi sastra sekolah.
  • Gunakan kamera CCTV yang ada di kelas untuk membuat esai foto bernarasi yang akan mempermudah siswa memahami penerapan beberapa aspek ilmu pengetahuan yang telah mereka pelajari di dunia nyata.
  • Mengusulkan pilihan lain kepada guru dan mengonsultasikan pilihan tersebut dengan guru untuk menyusun proyek yang berisi pemahaman dan keterampilan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.

Di kelas Bahasa Inggris kelas 8 milik Pak O’Reilly, siswa membaca novel yang sama dan kemudian mendiskusikannya bersama. Siswa otomatis telah menyelesaikan riwayat bacaan mereka.

Di kelas Bahasa Inggris kelas 8 milik Bu Wilkerson, siswa sering membaca novel dengan tema-tema yang sudah umum, seperti keberanian atau resolusi konflik. Siswa memilih dari 4 atau 5 novel dengan konsep yang sama, dan Bu Wilkerson akan menyediakan novel-novel tersebut di kelas. Bu Wilkerson juga memastikan bahwa novel-novel tersebut memiliki rentang bacaan yang cukup luas yang terdiri dari beberapa minat berbeda.

Siswa-siswa kelas 8 yang diajari oleh Bu Wilkerson sering bertemu dengan siswa lain yang membaca novel yang sama di klub diskusi sastra. Di sana mereka mendiskusikan apa yang mereka baca. Meskipun berbagai klub diskusi sastra memiliki tingkat kemahiran membaca yang berbeda, siswa di setiap kelompok bergiliran memainkan 5 peran kepemimpinan: pemimpin diskusi, ilustrator grafis, penyelidik sejarah, tokoh sastra, dan pengaya kosa kata. Ada panduan tercetak untuk setiap peran tersebut sehingga siswa dapat memainkan perannya dengan baik.

Bu Wilkerson juga memvariasikan naskah jurnal, terkadang menugaskan naskah yang berbeda untuk siswa yang berbeda. Beliau seringkali mendorong siswa untuk memilih naskah yang menarik minat mereka. Ada banyak kesempatan untuk diskusi dengan seluruh penghuni kelas mengenai tema novel yang sama dan memungkinkan semua siswa memahami bagaimana tema tersebut diterapkan dalam buku yang mereka baca dan dalam kehidupan nyata..

Gambaran dari ruang kelas SMA

Dalam kelas Bahasa Spanyol I, siswa Bu Horton mengerjakan soal latihan tertulis yang sama, mengerjakan latihan lisan yang sama, membaca bagian yang sama, dan mengerjakan kuis yang sama.

Dalam kelas Bahasa Prancis I, siswa Pak Adams sering mengerjakan latihan tertulis pada tingkat kerumitan yang berbeda. Latihan lisan mereka fokus pada struktur dasar yang sama, tetapi penyelesaiannya membutuhkan tingkat kerumitan yang berbeda. Terkadang siswa dapat “menolak” berpartisipasi di sesi ulasan untuk membuat dialog bahasa Prancis mereka sendiri atau membaca majalah bahasa Prancis.

Siswa sering kali belajar atau mengerjakan sesuatu sesuai dengan apa yang ditugaskan oleh gurunya agar dapat mempersiapkan dan menjawab “kuis penting” dari gurunya. Siswa yang berminat melakukannya dapat, dari waktu ke waktu, memilih pasangannya untuk mempersiapkan “kuis tantangan”.

Keberhasilan dalam kuis tantangan ini membuat siswa dibebaskan dari “PR” karena jika mereka berhasil dalam mengerjakan kuis tantangan tersebut, mereka otomatis dapat dikatakan telah menguasai materi PR yang ditugaskan.

Di kelas Aljabar II milik Pak Matheson, siswa biasanya mendapatkan PR yang sama, mengerjakan latihan soal di kelas sendiri, dan mengerjakan tes yang sama.

Di kelas Aljabar II, Bu Wang membantu siswa mengidentifikasi konsep dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengerjakan bagian tertentu. Setelah berbagai penilaian, siswa didorong untuk merenungkan kembali hasil penilaian mereka sendiri dan memilih PR serta lokakarya mini yang mereka inginkan agar dapat membantu menjawab kebingungan mereka. Beliau mendorong siswa untuk menentukan cara belajar yang paling efektif untuk diri mereka sendiri: entah itu belajar secara mandiri atau berkelompok. Menjelang bagian akhir, Bu Wang juga memberikan siswa “tantangan”, yang harus mereka atasi sendiri atau dengan teman sekelas. Pada tes akhir, siswa merasa tantangan yang muncul serupa tetapi tidak sama dengan yang diberikan Bu Wang sebelumnya. Mungkin ada 5 atau 6 tantangan yang berbeda yang didistribusikan di antara tes dari 30 siswa.

Dalam mata pelajaran pendidikan jasmani, siswa Bu Bowen biasanya mendapatkan pelajaran olahraga yang sama dan pelatihan bola basket. Pak Wharton membantu siswanya menemukan titik awal mereka dengan memberikan berbagai pelatihan dan keterampilan bola basket, menetapkan target yang menantang untuk mengembangkan diri, dan memetakan progres pribadi mereka. Beliau secara khusus menekankan di 2 hal utama: area terbaik dan terlemah siswa.

Dalam mata pelajaran Sejarah A.S., Bu Roberson dan siswanya membahas informasi dan konten sebuah teks secara berurutan. Beliau mengajar untuk melengkapi dan menambahkan informasi yang sudah ada dalam teks. Bu Roberson menekankan secara khusus pada sejarah wanita dan sejarah Afrika-Amerika.

Siswa di kelas Sejarah A.S. milik Bu Washington mencari gagasan utama dan generalisasi yang terjadi di setiap periode sejarah yang mereka pelajari, termasuk juga yang terkesan unik. Mereka mempelajari berbagai sudut pandang dan pengalaman yang dimiliki oleh berbagai kelompok budaya, ekonomi, dan gender. Mereka menggunakan berbagai teks, video, dan rekaman dengan berbagai tingkat kesulitan. Bu Washington juga kadang-kadang mengajar, tetapi beliau selalu memberikan transparansi di luar kepala untuk memudahkan siswanya mengerti poin-poin penting dari pelajarannya, khususnya peserta didik yang butuh visualisasi. Beliau juga sesekali berhenti saat mengajar untuk mendorong siswanya memberikan tanggapannya tentang gagasan-gagasan utama dari penjelasannya dan memastikan pemahaman mereka tentang gagasan-gagasan tersebut. Mereka juga kerap menulis esai dan proyek lain untuk memastikan pemahaman mereka tentang suatu periode tertentu dalam sejarah AS dan membandingkannya dengan apa yang terjadi di wilayah geografis lain selama periode yang sama. Tugas proyek selalu menawarkan siswa beragam opsi untuk mengekspresikan pemahaman mereka. Di akhir semester, siswa dapat memilih dan menentukan porsi nilai semester mereka: baik menentukan nilai akhir mereka dari 100% nilai ujian atau 50% dari penilaian alternatif lain yang diusulkan oleh guru dan dimodifikasi oleh siswa dengan bimbingan dan persetujuan guru.

Kelas berdiferensiasi merupakan terobosan yang tepat bagi siswa yang belajar dengan cara, kecepatan, serta bakat dan minat yang berbeda di sekolah. Selain itu, kelas yang seperti ini juga lebih bermanfaat bagi setiap siswa daripada kelas dengan sistem “1 untuk semua”. Guru di kelas berdiferensiasi juga lebih terlibat dengan siswa mereka dan menganggap proses belajar mengajar sebagai sebuah seni daripada sebagai latihan mekanis.

(Bagus Priambodo/Sumber terjemahan: Chapter 1 – The Differentiated Classroom: Responding to the Needs of All Learners – What Is a Differentiated Classroom? by Carol Ann Tomlinson/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image) 

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)