Topik:

Strategi Melatih Anak Memanfaatkan Kepercayaan dan Tanggung Jawab

Jumat, 11/06/2021 WIB   412
education-in-finland

Dalam bukunya berjudul Kepada Guru Kami Percaya: Cara Orang Finlandia Mewujudkan Sekolah Kelas Dunia (judul asli In Teachers We Trust: The Finnish Way to World-Class Schools), Pasi Sahlberg dan Timothy D Walker merumuskan 7 kunci untuk membangun budaya kepercayaan di sekolah. Mereka memberikan contoh bagaimana tindak tanduk orang Finlandia dalam sekolah, bagaimana berbicara kepada para praktisi mengenai apa yang telah mereka kerjakan, dan bagaimana mereka menyediakan pertanyaan refleksi untuk para guru dan pemimpin, serta menawarkan nasihat-nasihat praktis.

Dalam buku tersebut, juga disebutkan 3 tingkatan kepercayaan yang terinspirasi dari praktik yang dilakukan oleh Anni-Mari Anttila, seorang guru di Espoo Christian School, Finlandia. Menurut Anni, seringkali, anak-anak dijejali dengan terlalu banyak tanggung jawab, sementara mereka sebenarnya masih memiliki kemampuan yang rendah untuk mengatur dirinya sendiri. Keterampilan itu dapat dilatih dengan memberikan anak-anak sedikit kepercayaan untuk mengatur dirinya sendiri di kelas.

Kepercayaan itu dilatih Anni dengan cara memberikan anak-anak kesempatan untuk mengerjakan tugas-tugasnya di manapun mereka suka. Untuk itu, ruang kelas pun diupayakan menjadi ruang yang menyenangkan sehingga anak-anak memiliki banyak pilihan tempat untuk mengerjakan tugas. Sebagai contoh, di bagian belakang ruangan kelas, terdapat bola yang besar dan delapan unit sepeda statis. Saat Anni memberikan pilihan kepada siswa-siswanya untuk belajar dimanapun mereka mau, umumnya sebagian besar memilih untuk tidak mengerjakan di dalam kelas.

Hal ini dilakukan Anni karena dia tahu bahwa siswa-siswanya sangat menghendaki ‘otonomi’. Sehingga dia memberikan mereka pilihan untuk mengerjakan tugas-tugasnya di manapun secara berpasangan. Dari situlah, Anni menemukan ada 3 tingkatan kepercayaan.

Di tingkatan pertama atau terbawah, anak-anak yang menyalahgunakan kepercayaan, misalnya seperti bermain saat seharusnya menyelesaikan tugas. Mereka ini hanya bisa mengerjakan tugasnya di ruang kelas hingga mereka dapat mengembalikan kepercayaan tersebut.

Sedangkan di tingkatan kedua, siswa-siswa dapat mengerjakan tugasnya di ruang kelas atau di sepanjang lorong kelas di mana guru masih dapat memantau mereka.

Kemudian di tingkatan ketiga atau tingkatan tertinggi, siswa dapat mengerjakan tugasnya di manapun di lantai 3 sekolah tersebut, termasuk di ruangan yang membuat mereka tidak bisa diawasi secara langsung oleh guru.

Ketiga tingkatan ini bersifat dinamis. Artinya, anak-anak yang berada di tingkat 1, bisa naik ke tingkat 3 apabila berhasil mengembalikan kepercayaan. Sebaiknya, mereka yang berada di tingkat 2 atau 3, bisa turun tingkat kepercayaannya karena tidak memanfaatkan waktu yang diberikan untuk menyelesaikan tugas.

Dengan cara mengajar seperti ini, Anni ingin siswa-siswanya bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihan mereka dan bertanggung jawab dengan tugas-tugas yang diberikan meskipun tidak diawasi secara langsung oleh guru. Anni juga ingin siswa-siswanya bisa mengelola sendiri waktunya secara bijak dan memutuskan kapan saatnya bermain atau kapan saatnya harus menyelesaikan tugas. Apalagi, saat mereka bekerja di luar kelas, banyak kesempatan yang mereka miliki untuk bermain.

Lantas bagaimana Anni dapat menentukan kapan seorang anak dianggap gagal memanfaatkan kepercayaan?

Untuk itu, Anni punya trik khusus. Sebelum memberikan kebebasan pada siswa-siswanya untuk belajar di tempat manapun yang mereka suka, Anni meminta mereka untuk membuat target apa yang akan mereka capai selama waktu belajar di ruang kelas itu berlangsung. Apabila di akhir kelas target itu tak tercapai, maka di situlah seorang siswa dianggap gagal memanfaatkan kepercayaan sehingga tingkat kepercayaannya turun.

Menurut Anni, kepercayaan adalah sesuatu yang harus dijaga karena mudah sekali hilang dan cukup sulit dikembalikan.

Nah, bagi para guru yang tertarik mempraktikkan hal ini, terdapat 8 tips yang bisa dicoba

Pertama, pada awal tahun ajaran, diskusikan hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab dengan siswa anda.  Bantulah mereka untuk memahami bahwa kebebasan yang lebih besar membutuhkan lebih banyak tanggung jawab.

Kedua, terapkan 3 tingkat sistem kepercayaan di kelas anda. Pertama, buatlah deskripsi kebebasan dengan siswa anda. Kemudian terapkan versi khusus anda dan undang umpan balik dari anak-anak untuk meningkatkan cara kerjanya.

Ketiga, manfaatkan motivasi intrinsik siswa untuk menumbuhkan tanggung jawab mereka. Mulailah dengan mempelajari apa yang memotivasi mereka. Direkomendasikan agar para guru memulai tahun ajaran dengan meminta anak-anak untuk berbagi harapan dan impian mereka untuk tahun ajaran tersebut.

Keempat, selenggarakan minggu belajar mandiri bagi siswa. Guru dan siswa akan menegosiasikan pekerjaan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu. Mereka juga akan membuat aturan untuk minggu ini bersama. Selama minggu belajar mandiri, siswa membuat kemajuan sendiri dengan guru yang selalu siap memberikan dukungan.

Kelima, ajari anak-anak untuk memeriksa pekerjaan rumah mereka sendiri. Dukung mereka melalui umpan balik saat mereka mengembangkan keterampilan ini dari waktu ke waktu.

Keenam, bertindak secara bertanggung jawab membutuhkan mengetahui harapan. Disarankan agar guru dan siswa membuat aturan kelas satu sama lain. Praktik pembuatan peraturan ini mendorong rasa memiliki pada siswa dan memperkuat pentingnya harapan bersama.

Ketujuh, sediakan waktu bagi anak-anak untuk memiliki waktu yang tidak terstruktur dengan satu sama lain dalam lingkungan yang aman. Setelah pelajaran virtual, pertimbangkan memberi siswa beberapa menit untuk mengobrol sambil menelepon. Sebelum menawarkan ‘reses’ digital ini, siswa perlu mengetahui aturan dan setuju untuk mengikutinya. Anda dapat tetap menelepon dengan mikrofon dimatikan.

Kedelapan, rancang dan jalankan ‘percobaan kepercayaan’ dengan cara mengeksplorasi apa yang terjadi ketika siswa memiliki lebih banyak otonomi di sekolah. Ini mungkin termasuk mengatur ulang praktik sehari-hari seperti istirahat, makan siang, dan bergerak melalui/melewati lorong-lorong kelas. Rencanakan cara yang sistematis untuk mengumpulkan bukti, memberikan perhatian khusus pada bagaimana siswa mengalami mereka dipercaya oleh guru dan satu sama lain selama percobaan ini.

(Bagus Priambodo/Sumber: Teacher Magazine/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)