Topik:

3 Cara Membuat Siswa Bersemangat Merevisi Tulisan Mereka Sendiri dengan Senang Hati

Kamis, 28/04/2022 WIB   497
1621496479048

Merevisi dan menyunting ternyata 2 hal yang berbeda. Selama ini bisa jadi kita menganggapnya sama. Untuk tahu lebih tentang hal tersebut, kami akan berbagi terjemahan artikel Joanna Marsh mengenai strategi membuat siswa termotivasi dan antusias merevisi hasil pena mereka

Biasanya jika saya (Joanna Marsh) meminta siswa merevisi atau menyunting ulang tulisan mereka (saya dulu sempat salah mengira bahwa kedua hal ini sama), siswa akan mengeluh keberatan atau memamerkan ekspresi bosan dan tidak tertarik di wajah mereka. Siswa saya akan merasa gugup dan menolak jika diminta untuk menyunting ulang tulisan mereka karena mereka tidak tahu cara melakukannya. Saya dulu juga belum mampu mengajarkan dan memberi tahu siswa komponen-komponen penting dalam proses penulisan.

Setelah mempelajari beragam penelitian dan pengembangan profesional, saya jadi mengerti bahwa meskipun pendapat setiap peneliti mengenai proses atau langkah penulisan bervariasi, namun inti dari proses atau langkah penulisan yang mereka cetuskan sama. Contohnya, Jennifer Serravallo mengemukakan bahwa proses atau langkah penulisan dalam The Writing Strategies Book mencakup: menciptakan dan mengumpulkan gagasan, memilih gagasan, mempraktikkan, membuat draf atau konsep, merevisi, menyunting ulang, dan yang terakhir mempublikasikan tulisan. Ruth Culham juga mengadopsi Karakteristik Penulisan 6 + 1 dan mengemukakan bahwa proses penulisan mencakup prapenulisan (persiapan), penyusunan (pengonsepan), pembagian informasi, revisi, penyuntingan ulang, dan publikasi.

*Baca juga: The Differentiated Classroom: Responding to the Needs of All Learners dan Leading and Managing A Differentiated Classroom

Setelah mempelajari contoh-contoh proses penulisan ini, saya mulai sadar bahwa revisi dengan penyuntingan adalah 2 hal berbeda. Menyunting sebenarnya adalah proses memperbaiki atau meningkatkan tulisan kita agar menjadi lebih baik. Artinya, saat kita menyunting tulisan kita, kita harus memerhatikan ejaan dan tanda baca dalam tulisan. Sebaliknya, saat kita merevisi tulisan kita, kita harus memerhatikan susunan kalimat, apakah kalimat dalam tulisan kita sudah enak dibaca atau didengar (kalimat efektif), dan diksi yang digunakan dalam tulisan. Yang sulit dipahami siswa adalah cara merevisi tulisan mereka. Saya juga kurang memfasilitasi siswa untuk mempublikasikan tulisan mereka—yang pada akhirnya membuat proses revisi dan penyuntingan menjadi mubazir dan sia-sia. Berikut ini cara saya mengajarkan cara merevisi kepada siswa:

  1. Fokus ke 1 karakteristik penulisan

Jika siswa bingung bagaimana cara melakukan revisi terhadap tulisan mereka, guru harus membantu siswa menguraikan proses revisi tersebut menjadi lebih simpel sehingga bisa dimengerti siswa. Untuk mewujudkan ini, saya mengadopsi kerangka pembelajaran Douglas Fisher dan Nancy Frey yaitu pelepasan tanggung jawab secara bertahap (GRR). Pendekatan ini adalah pendekatan yang paling tepat untuk mengajarkan siswa merevisi tulisan mereka.

Pertama-tama, untuk membuat proses revisi yang berbelit-belit menjadi lebih simpel, guru harus menentukan atau menunjuk karakteritik penulisan yang harus dijadikan fokus utama saat merevisi tulisan. Culham menjelaskan bahwa gagasan, susunan kalimat, gaya penulisan (pembawaan), diksi, enak atau tidaknya kalimat dalam tulisan terdengar (kalimat efektif) merupakan “karakteristik penulisan”. Saat mengajarkan siswa cara merevisi tulisan mereka, guru harus memprioritaskan salah satu dari karakteristik ini karena hal ini bisa membantu siswa berhasil melaksanakan proses revisi dengan baik.

  1. Penerapan proses penulisan

Di kelas 2 dan kelas 3, saya lebih memprioritaskan “gagasan” saat merevisi tulisan siswa. Setelah saling bertukar gagasan dan ide mengenai teks naratif, siswa saya jadi memiliki banyak opsi untuk menulis karya naratif mereka. Berdasarkan strategi pengajaran yang bisa memberikan dampak besar (HITS) terhadap pengajaran eksplisit milik John Hattie, saya memilih teks cerita yang sangat sederhana kemudian memodifikasinya menjadi lebih sederhana lagi. Saya menulis inti ceritanya (memastikan bahwa struktur atau alur teksnya sudah benar dimulai dari pengenalan tokoh, masalah atau konflik, resolusi atau pemecahan masalah, dan akhir) dan menggunakan kata benda yang sangat sederhana serta tidak menyebutkan satu pun kata sifat atau menuliskan deskripsi detail dalam teks cerita tersebut.

Dulu jika ada siswa yang menulis cerita seperti ini, saya masih bisa memaklumi dan menerimanya karena mereka setidaknya sudah mengikuti dan menerapkan struktur teks naratif dalam tulisan mereka. Menurut saya tulisan seperti itu membosankan, namun waktu itu saya belum mampu memberikan umpan balik kepada siswa agar mereka bisa memperbaiki tulisan mereka. Sekarang pengetahuan saya mengenai karakteristik penulisan dan tahapan menulis sudah mumpuni, oleh karena itu saya siap membantu siswa saya mengembangkan gagasan yang mereka miliki.

Paragraf awal cerita ini berisi pengenalan mengenai cerita modifikasi saya ini dan menunjukkan kepada siswa bahwa karakter utama dalam cerita saya tidak mengetahui kepribadiannya atau latar ceritanya. Saya menggunakan sticky notes dan strategi think-aloud (meminta siswa untuk menyuarakan dengan lantang apa yang mereka pikirkan saat membaca, mengerjakan soal matematika, atau hanya menanggapi pertanyaan yang diajukan guru atau siswa lain) untuk menginformasikan kepada siswa bahwa saya bisa saja mengubah atau memperbaiki kalimat dalam cerita saya atau menambahkan deskripsi yang lebih lengkap yang dapat membuat karakter atau latar cerita menjadi lebih detail sehingga pembaca dapat lebih memahami dan mendalami cerita saya. Saya ingin siswa sadar bahwa tulisan yang memiliki banyak perbaikan dan coretan itu wajar dan tidak memalukan sama sekali.

Paragraf selanjutnya juga terkesan sederhana, dan ini saatnya kita beralih ke tahap “we do” dalam teknik GRR (dalam tahap we do guru bisa mengajukan pertanyaan kepada siswa, menjawab pertanyaan siswa, mengulangi penjelasan atau informasi yang tidak dimengerti siswa, dan memberikan contoh studi kasus lain jika diperlukan). Saya mulai membacakan paragraf ini dengan lantang kepada siswa lalu meminta mereka menunjukkan dan mengatakan kekurangan dari paragraf ini menurut pendapat mereka. Karena siswa kembali bertanya di mana dan apa yang terjadi dalam cerita, saya sekali lagi menunjukkan cara  menyisipkan dan merubah kata atau kalimat agar penjelasan dan detail yang ada dalam cerita saya bisa tersampaikan dan dimengerti dengan baik menggunakan sticky notes. Dan sekarang siswa sudah mulai menunjukkan ketertarikannya.

Nah sekarang sudah saatnya siswa beraksi. Saya meminta siswa kembali ke meja mereka masing-masing dan secara berpasangan membacakan paragraf pengenalan mereka kepada satu sama lain. Mereka bekerja sama memberikan umpan balik (perbaikan atau tambahan) terhadap paragraf pengenalan mereka satu sama lain dengan sticky notes dan pensil warna. Riss Leung dari blog Oz Lit Teacher mengatakan “yang saya mau adalah progres siswa bukan kesempurnaan,” jadi saya merasa sangat bangga bisa mendapati setiap siswa saya berhasil membuat setidaknya 1 perbaikan atau perubahan untuk meningkatkan karya tulis mereka.

  1. Mengadakan konferensi menulis

Selain strategi pengajaran yang bisa memberikan dampak besar (HITS) terhadap pengajaran eksplisit dan tahapan-tahapan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas atau memecahkan masalah, umpan balik dalam bentuk konferensi menulis merupakan cara efektif lain yang dapat membantu siswa yang sebelumnya tidak bersemangat dan kekurangan inspirasi menjadi bersemangat dan paham tentang cara merevisi tulisan.

Selama konferensi menulis ini, saya bersama-sama dengan siswa membaca cerita yang mereka tulis dan sesekali mengutarakan kekaguman dan memberikan pujian jika cerita mereka sesuai (atau melebihi) ekspektasi saya. Saya kemudian meminta siswa memperbaiki cerita mereka dengan cara menunjuk bagian tertentu yang saya rasa masih kurang memuaskan dan bisa lebih ditingkatkan lagi kualitasnya. Contohnya, saya bertanya kepada salah seorang siswa, “Sebagai pembaca, saya ingin tahu lebih detail lagi mengenai pemecahan masalahnya. Bisakah kamu menambahkan lebih banyak deskripsi atau detail di bagian ini?”

Sekarang saat mereka sudah paham cara merevisi tulisan mereka sendiri, mereka menjadi lebih percaya diri saat membaca ulang tulisan mereka dan merasa bangga karena sudah menghasilkan karya yang menarik. Dengan pembelajaran yang disusun secara seksama, revisi terasa menyenangkan dan bermanfaat bagi guru maupun siswa. Artinya, siswa siap dan percaya diri untuk mempublikasikan tulisan mereka dan saya merasa puas saat mendapati bahwa tulisan siswa yang akan dipublikasikan tersebut merupakan bukti nyata dari progres mereka sejak awal.

(Bagus Priambodo/Sumber terjemahan: Edutopia/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

BEL (Bantuan Eksplorasi Laman)